γ‚·γƒΌγƒž シェγƒͺγƒΌ です (*^Ο‰^*)οΎ‰♡ ! This blog is currently undergoing a lot of slow construction, and I hope to make it fully back soon with more about parenting / family, and daily adventures through the eyes of a young ENFP muslim woman who loves kawaii things and deep themed-conversation about life, hehehe XD

On being an Inspiration, a Blogger, and a Mother.

(This post is in Indonesian only. Sorry :( I really wish to share this deep thought with you in English as well, but this post has been soooo long already ;_; )


Beberapa waktu terakhir ini... aku sering terpikir... semoga aku bisa jadi orang yang nggak lupa untuk introspeksi dan memperbaiki diri karena sibuk berusaha menginspirasi. Karena... tentulah yang baik adalah berusaha memperbaiki diri sendiri dulu, lalu membantu “memperbaiki” orang lain... atau bisa juga, mengajak orang lain, sambil sama-sama memulai memperbaiki diri. Jangan sampai, justru sibuk menginspirasi dan mengajak orang lain untuk menjalani hidup dengan lebih baik, tapi malah sampai melalaikan kehidupan sendiri. 

Kadang... aku merasa takut, merasa khawatir, kalau aku akan tergelincir ke orientasi hidup yang salah seperti itu. Sampai saat ini, in shaaallah nggak, tapi aku bisa melihat kalau potensi terjadinya itu ada, atau mungkin bisa jadi sangat besar. 

Disebut “menginspirasi” itu bisa jadi sangat menyenangkan dan membanggakan buat sebagian besar orang. Sebagai seorang blogger / social media person, aku bisa memahami itu. Tapi aku pernah melihat sendiri, bagaimana dalam usaha seseorang untuk menjadi atau menciptakan suatu inspirasi, ia jadi begitu sibuk dan terbuai, sehingga banyak hal dalam hidupnya sendiri yang tertinggal di belakang. 

CR: HERE

Kata-kata “makasih banget ya kamu udah menginspirasi aku”, berkali-kali aku dengar, walau aku sebenarnya (dan sejujurnya) nggak pernah merasa melakukan sesuatu yang besar (bagi diri aku sendiri) yang cukup untuk menginspirasi orang lain. Tapi apa aku merasa senang mendengarnya? Merasa termotivasi untuk melakukan lebih? Iya. Tentu. 

Tapi beberapa waktu belakangan ini (entah hitungan bulan atau sudah bisa dihitung tahunan), aku mulai merasakan bahwa kata-kata itu bisa jadi sesuatu yang kosong untukku. Kalau aku bisa menginspirasi orang lain dan orang lain menjadi LEBIH BAIK (di Mata Allah) karena aku, tentu aku senang dan in shaaallah, aku kebagian juga pahalanya. Tapi aku mulai bertanya-apa, apakah selama ini aku sudah menginspirasi seseorang untuk melakukan hal yang baik di mata Allah? Kalaupun iya, tapi apa sepenuhnya iya? Jangan-jangan aku pernah juga menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang Allah nggak berkenan. Dan kurasa, sepertinya iya. Astaghfirullah 😭😭😭😭


Kalaupun aku berhasil melakukan suatu inspirasi yang baik, apakah aku bisa bertahan untuk “cukup puas” dengan mengharap pahala dari Allah semata? Atau jangan-jangan itu bisa memicuku untuk menjadi haus dan terus menerus butuh rekognisi dan ucapan manis dari orang lain? Well, menurutku butuh rekognisi dan ucapan manis dari orang lain nggak salah juga, karena manusia memang mahkluk sosial yang perlu saling menghargai dan menguatkan. Rekognisi dan ucapan manis adalah sebagian dari cara menghargai dan menguatkan. Aku pernah ada di situasi di mana aku merasa nggak dianggap oleh orang-orang di lingkunganku, sampai aku menemukan banyak orang yang ternyata bisa memberikan aku rekognisi dan ucapan manis (yang tulus) di lingkungan lain. Aku merasa lebih baik. Harapan hidupku jadi lebih tinggi. Merasa bersyukur.

Aku teringatkan lagi kalau aku harus bertahan cukup sampai di posisi itu. Posisi "merasa bersyukur". Kalau aku nggak berhenti untuk tarik nafas panjang dan berdialog dengan diri sendiri, mungkin aku akan tergelincir dari fase bersyukur itu tanpa aku sadari.  Atau mungkin sudah? Ahh... astaghfirullah. Mudah-mudahan nggak... :(

CR: HERE

Sangat ada kemungkinan tergelincir dari fase bersyukur, menjadi terbuai, terlena, dan akhirnya membentuk karakter sombong.

Akhirnya pencarian pahala pun bisa saja berubah jadi semata pencarian pujian. Duh, Allah. Dan lebih bahaya lagi, adalah kalau sampai pencarian pujian ini membuat seseorang, atau aku sendiri, lupa untuk benar-benar mencari pahala atau mengurus hal-hal yang merupakan bagian dari tanggung jawab dan amanah yang Allah titipkan.

Untuk kasusku sendiri,
Saat aku belum punya anak, tiba-tiba aku tersadar bahwa waktu yang kupunya untuk belajar ilmu agama sedikiiiiit sekali. Maksudku, sepertinya sekalipun dalam hidupku aku nggak melakukan apapun selain belajar agama, rasanya waktuku nggak akan cukup, dari saking banyaknya yang harus kupelajari. Aku jadi merasa takut dan merasa sangat kecil. Sungguh ini nggak ada hubungannya dengan sok alim atau mau dibilang “ya Allah solehah maa shaallah ukhtii kamu menginspirasi banget”. Err... Nggak. Aku share tentang ini karena aku benar-benar mau cerita, bahwa aku tersadar sepenuhnya akan hal itu, adalah setelah hatiku sering gelisah nggak tenang, sering banyak pertanyaan hidup “aku harus gimana” tapi nggak ada yang bisa kasih jawaban memuaskan, sehingga aku bingung standar mana yang harus aku pegang untuk suatu kebenaran apabila semuanya mengklaim benar dan baik. 

CR: HERE
Akhirnya aku menyadari satu hal lagi (yang sebenarnya sudah sering aku sadari tapi kemudian menghilang lagi dari ingatan), bahwa STANDAR ALLAH lah yang paling benar, dan bahwa apa yang aku lakukan harus selalu sesuai dengan standar yang Dia buat. Jadilah aku melakukan pencarian sumber belajar agama yang secara hati dan akal, bisa kupercaya. Setelahnya, apa yang kurasa?

Ya itu tadi. Craving. Craving for moooore time. Karena ilmu agama sangat banyak... dan aku merasa sangat bodoh dan kecil. Tapi, aku juga jadi merasa senang dan lebih tenang. Somehow, mengubah banyak hal sedikit demi sedikit untuk lebih mengikuti standarnya Allah membuatku merasa hidup ini jadi lebih mudah dijalani (walau terasa berat awal-awalnya untuk mengubah hal yang biasa kulakukan dan benar menurut standarku sendiri).

CR: HERE
BTW, jadi merasa tulisanku melebar dan keluar dari tema nggak? Mmm... sebenarnya nggak juga. Kita balik ke menginspirasi.

Dengan menyadari bahwa sangat sedikit waktu yang kupunya... aku jadi merasa semakin berkurang kesempatan untuk aku “menginspirasi dengan cara yang biasa kulakukan”, melalui menulis blog seperti ini, atau di Instagram, atau di mana pun yang biasanya jadi media aku berinteraksi dengan orang banyak. 

Dan juga karena mulai belajar mengikuti standar Allah dengan lebih baik, beberapa hal yang tadinya kurasa inspiratif dari diriku, sekarang jadi yang “ah, nggak. Aku nggak mau nyontohin kaya gini lagi ke orang lain”, seberapapun banyaknya orang yang bilang bahwa itu meng-ins-pi-ra-si.

You got me? ❤️ Aku berusaha mengingatkan diriku bahwa jangan sampai aku mengabaikan apa yang baik bagi diriku, semata-mata karena aku mau terus dibilang menginspirasi. So, untuk pengandaian, jika tadinya di mata awam orang, aku punya 10 hal yang inspiratif, anggaplah sekarang aku hanya punya 7, atau mungkin 5, karena sisanya kuanggap sudah nggak relevan dengan apa yang kuanggap baik.

CR: HERE
Lanjut~

Setelah punya anak, ternyata, makin-makin. Anggaplah aku punya 5 hal yang masih bisa dibagikan, dan in shaaallah memberi manfaat dan inspirasi bagi orang lain, yang mudah-mudahan juga jadi pahala buatku, 
Tapiii... aku makin merasa sedikit sekali waktu yang kupunya untuk berbagi kisah atau apa ke khalayak luas, karena, maa shaaallah alhamdulillah, aku dititipkan amanah yang sangat luar biasa yang sangat bergantung sama aku dan menjadikan aku pelindung, penjaga, sekaligus panutan nomor satunya untuk saat ini. Bayi kesayangan. 

Saat ini aku benar-benar sangat menerima peranku sebagai seorang ibu, yang membuat aku merasa, Allah menciptakan aku semata untuk beribadah padanya, dan anak serta suamiku adalah ladang terbesar di mana aku menuai pahala itu. Kalau aku memiliki keterbatasan di mana aku nggak sanggup membagi waktu dan pikiranku untuk fokus ke banyak hal, maka aku akan memilih untuk melepaskan hal lain dan mengabdikan hidupku untuk beribadah lewat mereka. Bismillah, in shaaallah.

CR: HERE

Mungkinkah itu menjadi suatu inspirasi? Mungkin. 
Tapi mungkinkah ada yang bisa terinspirasi kalau aku nggak sempat lagi membagikan kisahku lewat tulisanku di blog atau media lainnya? Mungkin. Karena aku tetap akan bertemu dengan orang-orang di sekitarku. Ya... walaupun biasanya orang nggak bisa benar-benar menilaiku dengan baik kalau hanya kenal dengan tatap muka tanpa tahu jalan pikiranku yang kadang cuma bisa kutumpahkan dengan baik lewat tulisan. 

Tapi intinya adalah, aku in shaaallah akan tetap berusaha menulis sesuatu, berbagi sebisaku, tapi nggak akan aku paksakan, kalau semata-mata untuk "menginspirasi".

Bahasa gamblangnya, “jangan sampe karena ngebet mau dibilang inspiratif di dunia maya, kehidupan nyata jadi berantakan dan nggak keurus”. 

Because honestly, buat nulis post ini aja aku harus merelakan waktu tidur seorang mak-emak yang sebenarnya nggak banyak, karena waktu tidur mak-emak hanyalah saat bayinya tidur. Dan bayi tidur itu biasanya sering kebangun-bangun, kecuali saat malam. Jadilah menulis saat tengah malam :’)

CR: HERE
Dan mungkin inti dari inti dari inti (?) postingan ini adalah:
  • Aku mau jadi inspirasi yang baik, untuk lingkungan yang kecil maupun lebih besar.
  • Aku mau terus berusaha benar-benar melakukan sendiri apapun itu nasihat atau hal baik yang aku tunjukkan di depan orang lain. 
  • Aku berharap nggak lupa fokus menyenangkan Allah dulu baru menyenangkan khalayak. Standar Allah adalah yang paling benar.
  • Aku mau memastikan bahwa lingkaran kecil hidupku sudah terkendali dengan baik, sebelum aku lanjut melakukan hal lain yang melibatkan lingkaran yang lebih besar
  • Ini paling inti: berbagi di sosial media boleh, tapi jangan sampai itu makan waktuku buat belajar agama dan ngurus anak. Kalau aku merasa waktuku belum cukup untuk itu atau aku merasa keteteran, ya.... yang kuutamakan adalah belajar, dan anak. Karena itu tadi:  “jangan sampe karena ngebet mau dibilang inspiratif di dunia maya, kehidupan nyata jadi berantakan dan nggak keurus”. 
  • Having fun once in a while tentu boleh. Melakukan hal-hal trivial asal nggak berdosa. Tapi jangan jomplang waktunya. 
Ini bukan resolusi 2018, tapi boleh juga. Hahahahah. Bagaimana aku kedepannya nanti? Bagaimanapun itu, semoga jadi orang yang lebih baik. Honestly aku MAU BANGET SHARING TENTANG PARENTING yang aku jalani. Tapi kalau aku nggak sempat, aku nggak bisa paksakan. Masa iya aku cuekin anak semata-mata karena mau berbagi bagaimana “parenting yang baik” di mata aku. Nggak jadi baik dong kalau begitu :( doakan aku selalu bisa bagi waktu, atau paling nggak, menemukan cara untuk bisa lebih menjalani hidup dengan porsi yang seimbang ya ❤️

cr: HERE
Anyway,
Thanks for reading.... THIS MUCH. 
Do you enjoy reading this kind of deep thought post from me? Ya aku nanya aja sih, hehe. Jawabannya boleh disimpan sendiri aja, aku juga akan tetap nulis apa yang aku mau tulis di sini, ehehehe~

So much love! See you on my next post! Jaa Ne! 

1 comment

  1. Sher, share buku-buku yang kamu baca juga dong. Dulu waktu kamu masih hamil, aku pernah liat kamu update buku di instastory. Kayaknya menarik, jadi penasaran.

    Kalau nggak sempat bikin blogpost sebenernya bisa pakai bantuan google drive buat ngetik. Di aplikasi word yang di gDrive itu ada voice recognition, jadi wordnya yang nulis. Kita tinggal ngomong aja. Kalau udah ada waktu luang baru diedit. Semoga bisa dipertimbangkan nanti ya buat yang ini, karena aku seneng sama tema parenting meskipun belom jadi parentsπŸ˜‚

    ReplyDelete

I'd love to hear your magical words! and... oh! please leave your link so I can visit you back! ^_^