γ‚·γƒΌγƒž シェγƒͺγƒΌ です (*^Ο‰^*)οΎ‰♡ ! This blog is currently undergoing a lot of slow construction [But you still can access!] and I hope to make it fully back soon with more about parenting / family, and daily adventures!

#Sherry1stPregnancy (3) : RS, Obgyn, USG 4D & CardioTocoGraphy!

Assalaamu Alaikum, Konnichiwa!

Terima kasih banyak buat yang udah ikutin blog #Sherry1stPregnancy series! Sekarang aku lanjut lagi ya. Sesuai janji kemarin, kali ini aku akan bahas tentang Rumah Sakit yang aku pilih, Dokter-dokter Kandungan (yes, nggak cuma 1), USG 4D, dan Cardiotocography (CTG!)

36 Weeks Photoshoot with my Bestie, Anggun!

Bismillaah. Karena postingan tentang kehamilan, persalinan (dan parenting secara umum) cukup sensitif, sebelum tulisanku di bawah dibaca panjang lebar, aku mau bilang kalau ini semua adalah PENDAPAT & PILIHAN PERSONAL aku, yang menurut aku in shaaallah terbaik untuk AKU dan keadaanku, jadi apapun itu yang kupikir dan kujalani yang NGGAK SAMA dengan orang lain, itu BUKAN berarti aku selalu merasa apa yang orang lain lakukan adalah pasti nggak baik / kurang baik. Semoga bisa dipahami dan semoga nggak ada yang triggered buat mikir aneh-aneh atau sensi atau membanding-bandingkan dengan negatif. In shaaAllah aku juga coba ber-husnuzhon sama pilihan orang lain. Thank you πŸ€—πŸ’–.


***

MENENTUKAN RUMAH SAKIT

Jadi di postingan sebelumnya kan aku cerita ya, kalau di minggu-minggu pertama kehamilan itu feeling kalau ada sesuatu yang berharga di dalam rahim tuh belum berasa gitu. Tapi aku tetap optimis bahwa rasa connected ke si bayi pasti in shaaallah lambat laun akan tumbuh seiring waktu. 

Dari pemeriksaan pertama kehamilan, aku pilih di Mitra Keluarga Bekasi Barat, hasil dari browsing tentang RS dan Obgyn yang recommended di daerah dekat Rumah (Well, ini RS nggak dekat-dekat banget juga sih sama rumah, masih 40 menit kalau nggak macet dan 1,5 - 2,5 jam kalau macet πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ banyak yang jauh lebih dekat, tapi aku merasa RS ini recommended aja). Di Rumah Sakit ini juga aku rutin ikut senam hamil tiap minggu dari kehamilam 27 minggu, dan melahirkan pun akhirnya di sini.

ruang tunggu, toilet, nursery room, ruang dokter. Dokter Anak, Obgyn, dan Kamar Bersalin itu satu lantai sendiri di lantai 2 (lobi utama). I don't know, aku merasa vibe nya enak aja, nggak berasa aura Rumah Sakit... apalagi aura angker! Hahaha

Kalau di RS ini sistemnya periksa kandungan itu sebulan sekali sampai trimester 2 selesai. Masuk trimester 3, jadi 2 minggu sekali, dan masuk 36 minggu, jadi seminggu sekali. Saat aku kemarin itu bayarnya kisaran IDR 250.000 per kedatangan, udah sama USG tiap bulan. Tapi di kedatangan pertama, USG nya dihitung terpisah, sekitar IDR 150.000  kalau nggak salah. Jadinya bayar dokter + USG. Kalau kesana-sananya udah nggak kok. IDR 250.000 itu udah dokter, USG, admin. Beberapa kali aku agak terkejut baca forum bule-bule yang pengen banget USG anaknya tapi di luar negeri tempat mereka tinggal, USG mahal banget, yang kalau nggak punya asuransi, terlalu berat biayanya buat mereka. Boro-boro lah bisa sebulan sekali say hi dan lihat keadaan si bayi kaya kita di sini (kenapa mahal banget ya?). 


Dan soal keamanan USG dengan interval segitu sering, kalau dari yang aku pelajari, in shaaallah aman kok (jujur kalau menurut aku pribadi, aku malah merasa kayaknya perlu, karena setiap bulan perkembangan bayi selalu ada aja yang baru dan perlu dipantau. Haha ini dari sudut pandang aku yang bukan orang medis sih πŸ˜…). Aku udah baca beberapa artikel tentang USG ini. Jadi kesimpulannya sih, nggak ada yang bisa mastiin kalau USG gitu pasti perrrrrfectly saaaafe tak bercela, tapi juga terlalu sedikit bukti untuk menyatakan bahwa itu berbahaya dan meningkatkan resiko-resiko yang nggak diingkan pada janin. Wallaahu a’lam. Tentunya ada beberapa Mama yang merasa lebih aman untuk nggak USG tiap bulan. Itu balik ke feeling masing-masing aja. Kalau penasaran boleh juga cari-cari sendiri nanti infonya, hehe. Intinya, kalau sistemnya di Mitra Keluarga Bekasi Barat ya seperti itu dan akunya ikutin dengan senang hati.

***

MENDATANGI DOKTER LINA

Sepanjang Trimester Pertama dan Kedua, Aku konsultasi sama Dokter Lina Meilina SpOG. Dokter paruh baya yang nada bicaranya keibuan dan suaranya rendah lembut. Antriannya paling panjang untuk obgyn di RSMKB ini, mungkin juga karena memang kalau ku-google tentang Obgyn, nama beliau berapa kali keluar. Aku senang sih merasakan pengalaman periksa kehamilan dengan merasa diperhatikan dan diajak bicara dengan lembut, karena waktu di HK pas keguguran, beda banget deh T__T tapi somehow aku merasa agak terburu-buru kadang kalau bicara sama beliau. Maksudnya beliau sih nggak yang bikin buru-buru. Cuma kadang aku ada rasa nggak enak kalau mau nanya lagi nanya lagi gitu (walau beliau nanya “apa lagi yang mau ditanya?”). Tapi banyak yang bilang nggak merasa begitu kok. Mungkin karena pertanyaan mereka nggak sebanyak aku, dan akunya udah keburu segan duluan soalnya nanya-nanya cerewet sama orang yang sepantaran ibuku? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Dok Lina :)
Dan tentang keoptimisanku terhadap rasa sayang-ku ke anak, ya ternyata alhamdulillah benar. Mulai saat 12 minggu usia kehamilan, lihat si bayi loncat-loncat di rahim pas di USG, dan bunyi jantungnya penuh semangat banget... aku sampai ketawa cekikikan sambil netesin air mata terharu. Dan yang lebih bikin greget gimana gitu... ya karena nyaksiin muka Zeno bahagia banget lihat dan dengar detak jantung anaknya. Dari situ, rasa sayang dan cinta ke si bayi mulai perlahan-lahan tumbuh, makin lama makin besar, alhamdulillah

di USG yang ini, aku lihat dia loncat-loncat. Padahal bentukannya aja masih "begitu". Tangan kakinya juga gemes bulat-bulat. Hahahaha
Tentunya hasil USG ini nggak yang 100 persen akurat ya. Misal ukuran berat bayi atau indeks ketuban atau due date yang terbaca di layar. Tapi, in shaallah cukup membantu untuk bonding sama si bayi. Hehehe.

***

APLIKASI UNTUK KEHAMILAN

Kunjungan ke Dok Lina selalu jadi hal yang ditunggu-tunggu. Sayangnya cuma bisa sebulan sekali. Hahaha. Rasanya penasaran terus mau tahu gimana kabarnya si bayi. Aku download aplikasi The Bump buat lihat perkembangan si bayi dari minggu ke minggu. Meskipun aplikasi kehamilan itu banyak dan mirip-mirip, tapi nggak tahu kenapa saat itu aku merasa paling cocok sama The Bump. Tiap minggunya ada aja yang dijelasin, dari ukuran bayinya, penjelasan bahwa minggu itu bagian tubuh mananya bayi yang tumbuh, dan ada juga gambar 3D bentuk bayi perminggu plus penjelasannya. Kalau dari tanggal kehamilanku, setiap hari Kamis artinya masuk minggu baru untuk si bayi, dan aku selalu semangat buka app nya buat lihat si bayi udah gimana perkembangannya di rahim. Rasanya tiap Kamis itu aku sama Zen kaya buka kado! Hahahah (Zen juga download aplikasi The Bump nya hihihi).

kaya gini tampilannya the Bump


***

MENGETAHUI JENIS KELAMIN BAYI DAN MERASAKAN BUKTI NYATA KEBERADAANNYA

Usia kandungan 17 Minggu, kami udah dikasih tahu sama Dok. Lina kalau jenis kelamin si janin ini laki-laki. Sebenarnya kata Dok Lina, itu termasuk cepat, karena biasanya belum ketahuan, dan bentuknya juga masih samar-samar. Tapi berhubung si bayi kalau di USG selalu nampak riang gembira (?) buka kaki hadap kamera, jadinya kelihatan deh... “monas” nya, kalau kata dok. Lina πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Rasanya makin gemes. Laki-laki! Kakak pertama laki-laki! Alhamdulillah! Aku sama Zeno sebenarnya pasrah tentang apa pun jenis kelaminnya. Dulu banget awal-awal berencana nikah sempat sok-sok bayangin pengen punya anak 3 : laki-laki, perempuan, laki-laki. Hahahah. Tapi saat awal-awal kehamilan, nggak tau kenapa aku sempat feeling kalau bayiku perempuan, hihihi. Taunya Allah kasih laki-laki... alhamdulillah. Ya berarti memang udah itu yang terbaik untuk keluarga kecil kami inshaallah. Semoga bisa jadi kakak laki-laki yang mengayomi dan melindungi adik (atau adik-adik) nya nanti. Amin... πŸ€—πŸ’– 

Lalu di hari yang sama kami tahu jenis kelaminnya, jadi hari pertama kalinya aku benar-benar yakin ngerasain si bayi nendang (17 Minggu). Waktu itu aku baru selesai solat di Musholla RS dan kebetulan hening banget cuma ada aku di tempat cewe, dan Zeno di tempat cowok. Tahu-tahu langsung “dung!” berasa aja gitu! Aku ingat baca di The Bump kalau bisa jadi di usia sedini ini (17 Minggu) aku udah rasain tendangannya. Eh... ternyata benar. Makin gemas!!! 😻😻😻

Aku nggak gitu ngerti gambarnya... tapi yang mencuat dekat tulisan "baby boy" itu "Monas" nyasi Bayi! hahahaha


Saat masuk 24 Minggu usia kehamilan, aku sama Zeno udah nggak sabar mau USG 4D... soalnya aku udah cerita kan yah di postingan ini kalau pas banget setelah kami tahu aku hamil, pas banget kami memang lagi akan kembali ke Jakarta karena perihal pekerjaan Zeno. Nah pas 24 minggu kehamilan ini sebenarnya Zeno udah ada tanda-tanda harus balik ke Hong Kong lagi, dan kami mau banget saat USG 4D, lihatnya bisa bareng-bareng. Jadi kami sepakat untuk minta itu dilakukan saat aku memang waktunya kontrol ke Dok Lina.

Nah ternyata, USG 4D di RSMKB ini nggak bisa sama Dok Lina. Jadi kami selesai regular monthly checkup sama Dok Lina, kami ke konter pendaftaran lagi untuk lanjut USG 4D, yang ternyata ditangani sama Dok. Herman Trisdiantono. Saat itu kami jadi baru paham kalau untuk USG 4D ternyata ada ruangannya sendiri dan nggak semua dokter kandungannya bisa (ya kalau di RSMKB begitu, nggak tahu sih kalau di RS lain, hehe). Oh iya, di RS ini USG 4D biayanya sekitar 1.000.000 rupiah (lebih dikit aku lupa tepatnya).

Dok Herman :)

Dok Herman ternyata orangnya ramah dan perhatian. Ngobrol sama beliau juga rasanya benar-benar didengarkan dan diladenin. Hmmm, mungkin juga karena waktunya lebih lapang, antrian nggak banyak. Saat itu aku sempat kepikiran mau pindah ke Dok Herman loh for the rest of my pregnancy. Tapi lalu langsung teringat bahwa kami mau ikhtiyaar memilih dokter perempuan untuk kehamilan dan persalinanku. Jadi ya itu cuma jadi pikiran sekilas aja. Hehe. Kalau ada yang bilang “tapi biasanya dokter kandungan cowok lebih bla bla bla loh (apapun itu yang baik-baik) dibanding dok cewe”. Hmmm aku sering dengar seperti itu, tapi itu kembali ke pendapat dan pilihan masing-masing orang ya. Aku tetap berharap dan berdoa nya sama Allah, semoga bisa dapat dokter kandungan yang idaman dan punya segala yang dianggap jadi kelebihan dokter kandungan, dan perempuan. Ya soal gimana endingnya apakah akan melahirkan dengan dokter perempuan atau laki-laki, yang penting udah usaha dan berdoa πŸ€—πŸ’–

Ini hasil USG 4D nya, by the way

USG 4D 24 Minggu

Pas lihat, aku langsung terenyuh. Kok ganteng ya kayaknya si bayi? 😻 hahahah. Jenis kelaminnya juga benar-benar jelas kelihatan. Tapi kata Dok Herman, kalau usia 24 minggu sebenarnya masih agak dini untuk USG 4D... bayinya masih kurus kalau usia segitu.

Akhirnya... pas 28 Minggu aku sama Zeno sepakat untuk USG 4D lagi... Kebetulan ternyata Zeno masih tetap belum balik ke HK. Hihihi. Ini hasilnya: 

USG 4d 28 Minggu

Di sini aku agak bingung kok mukanya agak lain sama pas 24 minggu. Jadi bulad, dan idung sama bibirnya nggak nyantai banget πŸ˜‚ tapi somehow, dari hasil USG itu si bayi kelihatan mirip banget sama Kakek dari Daddy-nya yang baru meninggal 10 Januari 2017 lalu. Kuasa Allah :’)πŸ’–

Kami nggak mikirin gimana-gimana sih kalau soal fisik. Ya, berdoa sih selalu, dan literally, kami berdua rasanya cukup telaten dan detail dalam mendoakan si bayi, haha. Misalnya, berhubung sudah ketahuan dia ini laki-laki, doa kami jadi:

"Ya Allah, jadikanlah anak kami seseorang yang meneladani rosulullah dalam iman, tingkah laku, dan cara berpikir, dan karuniakanlah ia fisik yang indah seperti layaknya Rosulullah. Jadikanlah ia seseorang yang bersikap tegas namun berhati lembut. Disegani tapi juga disayangi. Panjangkanlah umurnya, sehatkan badannya, dan lancarkan rezekinya." 

Itu kurang lebih doa yang selalu kami berdua panjatkan terutama di sujud-sujud kami. Soalnya... ya Allah! deg-degan juga kan, akan jadi seperti apa si bayi ini nanti! Jadi harus telaten berdoanya! hahahaha. Lalu, kami juga selalu membaca doa ini (sempet kucantumkan juga di postingan sebelumnya):
Doa rosulullah yang tertulis di Al-Qur'an. Ini dari aku masih belum nikah udah baca. In shaaallah keluarga kami sesuai yang kami selalu doakan sama Allah. Hehe, Aaaamiin! 

***

Oiya, 23 Maret 2017, Usia kandungan belum cukup 7 bulan, kami udah bikin maternity shoot seperti yang kalian lihat di foto bawah ini dan beberapa postingan sebelum ini. Kenapa dini banget maternity shoot-nya? Alasannya sama, takut Zeno keburu harus balik ke HK. Konsepnya adalah Moon Family, tentu aja. Hihi. Tapi somehow, makin kesini aku malah makin merasa agak enggan buat share semua hasil photosession-nya. Bukan karena nggak suka hasilnya loh! Sukaaa banget!!! Berasa magical banget pun! Tapi saking sukanya rasanya malah jadi posesip sama foto-fotonya hahaha!  


***

BERCAK DARAH DI TRIMESTER 3, DAN CARDIOTOCOGRAPHY

Tepat pas hari H masuk 28 Minggu alias Trimester 3... aku lagi jalan-jalan di daerah Sudirman sama Zeno, Rizuki (my bestie), Bundaku, dan 1 sodaraku perempuan. Waktu itu kami dapat undangan ke MUFFEST (Muslim Fashion Festival) 2017 di JCC. Aku inget banget kalau saat itu aku banyakan duduknya, karena  kami turun dari mobil langsung masuk ke hall dan duduk untuk event Opening Show, lalu pas selesai cuma lihat barang dagangan di pameran paling lama setengah jam (nggak ada yang dibeli karena memang nggak bener-bener lihat-lihat), dan sebelum zuhur udah keluar dari JCC, lalu pindah ke Senayan City. Sampai SenCy langsung ke musholla solat zuhur. Habis solat zuhur makan siang di food court atas sambil ngobrol-ngobrol sampai azan ashar. Pas ashar turun lagi ke musholla untuk solat ashar (di perjalanan ke bawah mampir dulu ke Debenhams buat nemenin Rizuki belanja makeup). Sumpah aku nggak merasa cape yang gimana gitu. Kami semua jalannya juga pelan-pelan banget ngikuti kecepatan aku, Tapi tiba-tiba saat mau sholat Ashar, aku lihat ada bercak darah segar (nggak banyak) saat aku lagi bersih-bersih setelah buang air kecil.

Aku kaget—tapi berusaha tenang, walau yah, pastinya agak lemas. Aku lemas, tapi aku nggak ciyut! Prinsipnya : “bumil nggak boleh stres! Kalau aku panik, jangan-jangan segalanya jadi lebih buruk! Kalau aku nggak panik dan husnuzhon sama Allah, bisa jadi yang sebenarnya berpotensi buruk malah berubah jadi baik!!” Terus-terusaaaaan aja aku mikir begitu. Bunda, sodaraku, sama Rizuki langsung kukasih tahu dan mereka langsung tegang gitu lah tapi nggak tahu harus gimana. Akhirnya aku solat ashar dulu baru pas habis solat ashar aku kabarin Zeno. Dan Zeno tanpa babibu langsung telepon RS Mitra Keluarga Bekasi Barat untuk Emergency Case. Kata pihak RS, aku disuruh langsung ke sana, dan kalau udah sampai di sana langsung masuk Kamar Bersalin aja. Di sepanjang perjalanan, Aku masih berusaha bercanda dan ngobrol sama Rizuki. Aku juga bisa merasakan si bayi gerak-gerak aktif di dalam perut, somehow, aku jadi lebih tenang. Tapi Zeno yang nyetir mobil cemas banget, soalnya dia baca-baca di google (?) kalau biasanya spotting darah segar di trimester 3 itu pertanda yang nggak mengenakkan... makanya dia banyak diam. Zeno itu orangnya tenang sikapnya. Jadi tegangnya dia, paniknya dia, juga tetap aja kelihatan tenang karena dia lebih milih mikir dan bergerak cepat dalam diam.

CR: HERE
Dan tahunya, sepanjang jalan kejebak macet banget... kalau nggak salah ada Raja Arab (?) atau apa saat itu, lagi bertamu ke Indonesia. Sepanjang jalan dari Sudirman sampai Cawang benar-benar terhambat yang maju nggak bisa, cari belokan kemana juga nggak bisa karena hanya akan memperlama perjalanan, dan nggak tahu juga mau mampir RS mana (sumpah aku benar-benar cuma berharap buruan sampe ke RSMKB aja nggak usah mampir-mampir!). Akhirnya pulang habis ashar, sampai di RSMKB.... jam 10 malam!!! ya Allah! 

Bidan-bidan di Kamar Bersalin pada nanya kenapa spotting habis ashar, jam segitu baru sampai. Ya aku juga nggak mau kaya gitu... tapi aku jelasin apa adanya aja, “kejebak macet Sus...”. 

Lalu aku dipasangi alat Cardiotocography (CTG) di perut untuk pertama kalinya dalam hidupku. Alat itu fungsinya untuk rekam jantung dan pergerakan janin, plus membaca apakah ada kontraksi di rahim. Prosesnya kurang lebih 20 menit.

Selama di CTG, aku berdoa.... terus. Aku bisik-bisik ngomong sama si bayi (aku tiduran di kasur dalam sekat-sekat, lalu gordennya ditutup, jadi lumayan private lah buat ngoceh-ngoceh sendiri). Aku semangatin si bayi supaya kuat dan mau bergerak aktif. Di situlah pertama kalinya aku nentuin secara fix siapa nama si bayi, dan di situ aku manggil-manggil nama dia. Aku merasa puas banget nyebut namanya dan seperti mendapat respon aktif dari dia, Alhamdulillah! Padahal sebelumnya, aku selalu merasa awkward banget tiap bahas sama Zeno tentang mau ngasih nama siapa ke si bayi. Jadi kalau ajak ngomong bayi di rahim cuma pakai “sayang” aja.

Nah, Hasil CTG-nya....



Alhamdulillah, kata dokter dan bidan-bidannya, bayiku nggak kenapa-kenapa. Jantung sehat, pergerakan aktif banget, dan aku nggak ada kontraksi dini sama sekali. Dan memang dari hasil USG-ku menunjukkan kalau posisi plasentaku juga normal, nggak turun ke bawah atau apa (katanya biasanya kalau spotting darah di trimester 3 biasanya karena plasentanya turun menghalangi jalan lahir). Ya Allah, lega... banget ternyata nggak apa-apa. It’s true, I have faith in us. Aku merasa aja kalau bayiku kuat, dia dan aku, kuat.  Karena Allah :’) 

Lalu.... KENAPA spotting darah? Mereka bilang nggak ada sama sekali kecenderungan negatifSimply aku perlu banyak istirahat aja. Di sini aku agak bingung deh jadinya. Karena, ya Allah... aku nggak merasa kecapean atau apa hari itu. Dan sehari-hari pun aku ngapain sih? Bukan yang punya kesibukan rutin dengan mobilitas tinggi di luar rumah. Aku biasanya hanya di rumah, yoga ringan, belajar (lewat bacaan / tontonan), nyantai-nyantai, makan, tidur... gitu-gitu aja. Tapi dari situ aku ambil pelajaran banget. Mungkin tubuhku nggak cuma perlu istirahat fisik. aku JUGA harus istirahatin otak dan emosiku.


***

ISTIRAHATKAN FISIK, OTAK & HATI

Jadilah akhirnya... aku memutuskan untuk melakukan Pregnancy Social Detox seperti yang aku tulis di postinganku yang INIAnd... it works alhamdulillah! Nggak bersosial media dan nggak keluar rumah kecuali ke RS buat check-up, aku jadi banyak banget lakuin hal-hal lain yang berguna untuk menenangkan jiwa dan meditasi.

CR: HERE

Aku mulai Social Detox itu saat Zeno akhirnya kembali ke Hong Kong—sekitar usia 7 bulanan. Aku nggak ikut lagi karena segala alasan dan persiapan yang mendukung persalinan di Indonesia. Jadilah aku benar-benar yang banyak sendirian (atau berduaan sama janin) di kamar.

Aku bisa belajar soal persiapan melahirkan yang udah tinggal hitung minggu, ibadah juga bisa lebih banyak. Kenapa aku bilang gini? Semoga Allah lindungi aku dari sikap sombong dan riya’. Aku cuma benar-benar pengen berbagi bahwa kalau nggak banyak main HP atau jalan-jalan gitu, jadi bisa terasa banyak deh waktu yang bisa digunakan untuk amalan-amalan baik yang mendekatkan diri pada Allah! Aku juga bisa lebih dengarin diri sendiri, apa yang aku mau, apa yang aku rasa, pokoknya jadi lebih peka, dan bisa fokus juga melakukan Maternal Nesting seperti yang aku tulis di postingan INI. 

Waktu aku menghilang gitu, sahabat-sahabatku sempat khawatir, tapi Zeno bilang ke mereka kalau aku nggak apa-apa dan baik-baik aja. Mereka jadi takut ganggu aku karena itu. Dan kalau mau datang ke rumah biasanya nanya ke Zeno dulu.

salah satu buku yang aku baca saat hamil~
***

SAKIT, SUATU HARI DI MINGGU KE-33

Suatu hari, masih 33 minggu kehamilan, aku sakit. Perutku sakiiiit banget. Sakit maag gitu sih kayaknya ya, tapi rasanya jadi nggak karuan banget, karena rahimku udah mulai sering Braxton Hicks (Kontraksi Palsu). Aku nggak bisa bedain sakitku ini sakit apa. Aku bilang maag itu ya cuma dari feeling aja. Habis rasanya nggak mirip sakit-sakit yang lain yang aku udah familiar. Akhirnya setelah aku berusaha tahan seharian, aku putuskan untuk nelfon RSMKB karena sebenarnya niatnya mau minta saran tindakan atau obat yang aman, sesuai sama keadaanku yang lagi hamil besar. Aku benar-benar usaha banget nggak minum obat atau apa (lebih ke yang natural aja) seperti yang kubilang di postingan sebelumnya, tapi setelah nahan seharian aku jadi khawatir ada efek gimana-gimana ke si bayi. Jadilah aku niat ke RS setelah pihak bidan bilang “langsung ke Kamar Bersalin aja bu”. Aku sendiri sebenarnya nggak ngerti kenapa disuruh ke kamar bersalin. Aku lebih ke bingung kalau ibu hamil sakit perut yang kayaknya nggak ada hubungannya sama kehamilannya, perginya ke dokter kandungan atau ke dokter umum? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Ah ya sudahlah. Intinya akhirnya aku siap-siap berangkat ke RS. 

CR: HERE
Nah, pas lagi pucat-pucatnya nahan sakit, udah gitu lemas juga, tapi juga mau buru-buru ke RS, tiba-tiba one of my besties, Ayya, muncul di depan rumah. (Biasanya datang bilang-bilang eh ini nggak). Aku lagi nggak bisa ber-ramah-ramah sama dia karena aku lagi sakit banget. Jadinya wajahku pucat dan aku berusaha minta maaf karena nggak bisa looking fine—or what. Aku juga bilang kalau aku udah nelpon RS dan orang RS suruh aku langsung ke Kamar Bersalin aja. Dia akhirnya pulang sekalian aku berangkat ke RS, karena itu udah malam dan dia udah dicariin sama neneknya (jadi nggak bisa ikut ke RS). Nah si Ayya yang sebenernya smart banget tapi entah kenapa suka kebangetan polos, dia khawatir berlebihan dan menyimpulkan kejauhan. Dia laporan ke sahabat-sahabatku yang lain kalau keadaanku... KRITIS. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ . Padahal bener loh, ternyata ya aku cuma sakit lambung aja! (sempet di CTG lagi karena takutnya kenapa-napa, tahunya alhamdulillah ya baik-baik aja). Pas habis dikasih obat lambung sama dokter, langsung enakan! hahaha

Sumpah... GMZ banget aku pas tahu dia bilang gitu ke teman-teman πŸ˜‚πŸ˜‘. Ditambah lagi, Anggun, my bestie juga yang kebetulan rumahnya dekat dan berapa kali jenguk langsung ke rumah, ngebahasain keadaan aku juga dengan lebay banget. Padahal akunya baik-baik aja, tapi Anggun bilangnya: “iya... dia banyak diam... jadi lebih banyak nulis-nulis aja daripada ngomong. Kayanya trauma mungkin, karena pernah keguguran dulu ya?” Ihhh gemes banget pengen cubit si Anggun, ya Allah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ akhirnya sahabat-sahabatku yang lain pada khawatir berlebih kan!!!.

I was fine! I was just hibernating! Meditating! *shakemyhead* 

Tapi alhamdulillah masih ada yang sayang dan khawatirin :'). I don't complain! Hehehe


CR: HERE


***

MENANTI PERSALINAN BERSAMA DOKTER DWI SANTY

Aku kembali muncul ke permukaan (?) setelah masuk usia kehamilan 37 minggu... because I was ready anytime to give birth and I needed lots of supports and prayers!

Oh iya aku belum bilang. Akhirnya... pas memasuki Trimester 3, aku pindah dokter. Tapi bukan ke Dokter Herman sih, karena, seperti yang kubilang, aku dan suami lebih fokus berusaha cari dokter perempuan dulu. Jadilah aku sama dokter Dwi Santy, SpOG yang antriannya nggak kalah banyak sama Dok Lina. Tapi alhamdulillah kalau di RSMKB aku bisa lah siasatin dengan rajin daftar via telepon dari jauh-jauh hari juga. Jadi nggak nunggu lama saat di RS. 

Dok Dwi Santy :)

Sama beliau aku cocok... karena beliau itu selalu ramah dan ceria saat nyambut aku. “Halo ibu...! Gimana, gimana, gimana kabarnya????” Gitu. Haha. Dok ini cantik, tinggi, masih terbilang muda, dan punya style yang khas yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata (?). Yang aku senang sih ya karena beliau sabar banget dengar pertanyaan aku (walau jujur tadinya aku kira orangnya jutek πŸ˜‚ maapin ya buk dok ku sayang), jawab pertanyaan aku juga sabar walau jawabannya memang kadang fair dan blak-blakan aja, dan dia mau direkam suaranya atau divideoin dengan alasan “buat dikirim ke suami saya dok. Suami saya kerjanya jauh. Kasihan pengen tahu kabar bayinya juga.” πŸ˜‚. Ini penting loh! Banyak kan yang nggak mau ada foto / video di ruangannya. Akhirnya jadilah dia tahu suamiku di Hong Kong, dan dia juga nggak pernah nggak ngenalin aku tiap aku konsul. Apa lagi trimester 3 konsulnya udah 2 minggu sekali, bahkan mulai 36 minggu udah seminggu sekali. Udah hapal banget deh sama aku. (Oh iya sayangnya beliau nggak mau kasih nomor whatsapp atau apa gitu jadi kami cuma bisa ketemuan langsung aja).

bumil gede lagi teler hahahaha

Di minggu-minggu siap melahirkan ini aku mulai sering deg-degan... karena aku udah sering banget rasain kontraksi palsu, tapi belum ada tanda-tanda pembukaan! Dari usia kehamilan 35 Minggu aku udah di “periksa dalam” sama Dok Santy (buat yang nggak tahu, itu dokternya masukin jari ke Miss V kita untuk mengecek rahim. Iya, begitu). Dan dari hasil periksa dalam-nya itu terlihat kalau si bayi posisinya udah “mantap” : kepala di bawah, udah masuk jalan lahir, dan siap di push keluar aja. 

Haduhhh... makin kangen pengen cepat-cepat lahiran, tapi galau juga karena Zeno masih di HK dan kami berdua berharap banget dia bisa pulang tepat waktu untuk dampingin persalinan!

CR: HERE
***

BERHARAP PERSALINAN DIDAMPINGI SUAMI

37 Minggu ke atas, yang artinya bayi udah “matang”, udah siap lahir dengan kondisi optimal kapan aja, aku semakin rajin yoga buat merangsang kontraksi. Dok Santy nih lucu, dia bilang “haduh sayang sih nggak ada “lawan” nya nih. Kalau ada suami kan enak bu biar sama suaminya aja dibantuin kontraksi” πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ . Iya, Make Love bisa merangsang kontraksi, terutama kalau sperma suami dikeluarkan di dalam. Akan ada hormon cinta (Oxytocin) dan hormon-hormon lainnya yang akan membantu memicu kontraksi. Tapi yahhh mau gimana. Qaddarallah Pak suami lagi berjuang nun jauh di sana. Aku tahu dia juga pasti lebih ingin di Indonesia aja, di kamar sama aku meluk-meluk aku dan usap-usap perutku sambil bisikin kata-kata sayang πŸ˜’πŸ’–. Tapi saat itu kami berusaha sabar, saling menguatkan, dan percaya bahwa kalau kita minta dengan yakin sama Allah, akan dikabulkan in shaaallah. Maka kami terus menerus berdoa biar gimanapun caranya, suamiku yang jarak apartemennya di sana 1 jam 15 menit ke bandara HK (belum dihitung packing-nya), lalu perjalanan pesawat 5 jam HK - Jakarta (belum dihitung delay-nya), lalu perjalanan 2 sampai 4 jam dari bandara CKG ke RSMKB (belum dihitung macet-macet nggak jelasnya) bisa sampai tepat waktu dan nemenin aku dalam persalinan. Hhhhh :’) kebayang kan banyak kemungkinan suamiku telat menghadiri persalinan? Tapiiiii kami berdoa yang terbaik semoga harapan kami dikabulkan. 

Tentu Zeno nggak bisa nentuin sendiri kapan dia harus pulang karena takutnya waktu liburnya berlalu sia-sia dan aku belum bersalin juga. Mendingan agak mepet supaya dia punya waktu bonding sama anaknya yang udah lahir nanti sebelum balik ke HK lagi :’)


***


MENIKMATI HARI-HARI TERAKHIR KEHAMILAN

Kehamilan bulan ke-9 ini masuk dalam bulan Ramadhan, dan atas kesadaran akan kondisiku, izin dan pertimbangan suami, serta anjuran dari dokter Santy, aku memutuskan untuk nggak puasa dan mengganti perhari-nya dengan fidyah. Tentu ada pertimbangan khusus kenapa aku ikhtiyaar seperti itu. In shaaallah akan kuceritakan nanti. Oh iya, buat yang bingung perihal bayar membayar puasa bagi ibu hamil dan menyusui, bisa lihat video INI ya. semoga membantu ^_^

Terus... Subhaanallaah banget rasanya hari-hari terakhir kehamilan. Tentu dari ceritaku di atas kalian tahu dong betapa galau-galau syahdu nya aku berharap bisa melahirkan didampingi suami. Itu, plus sensasi fisik lainnya, bikin tidur udah mulai makin, makin susah. Si Bayi ini sering "cegukan" (perut berdenyut-denyut teratur ritmanya selama beberapa menit), sehari bisa beberapa kali, dan biasanya berhenti kalau aku... makan! Hahaha gemes banget. Makanya aku sering ajak ngobrol, kutanya, "mau makan ya nak?" hihihi. Dan kadang juga dia bergerak yang heboh banget gitu kalau udah masuk jam makan. Persis kaya sekarang pas udah lahir dan minta susu! Hahaha. Terus kalau malam, udah sepi hening, gerakannya malah makin ampun-ampun bergejolak! Uda semangat banget pengen keluar, si gemeshh! Aku kadang suka meringis sendiri mohon-mohon supaya dia tenang, karena perutku benar-benar sampai melar-melar gitu didorong, ditendang, disikut... hahaha. Belum lagi jadi mau pipis tiap berapa menit sekali. Bahkan sekali jongkok bisa berkali-kali pipis πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tuh lihat sendiri deh hebohnya πŸ˜‚πŸ˜…

Aku juga bilang berkali-kali ke Zeno kalau aku mau fokus ke relaksasi lahiran aja karena udah dekat banget waktunya. Tapiiii yang tadinya sebelum 37 minggu aku lebih rileks, eh malah jadi mulai nggak rileks. Mulai panik. Panik kenapa? Panik belum ketemu stroller idaman yang mau kubeli πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Serius aku sampai capek banget sepanjang hari sepanjang malam browsing soal stroller karena pengen banget punya stroller yang ada semua (?) yang kuharapkan. Setelah mulai tenang soal stroller, tiba-tiba aku mulai panik soal Doula. Iya, DOULA. Pendamping persalinan. Tiba-tiba nggak pede. Tiba-tiba merasa I will feel better with a doula. Tiba-tiba takut di RS nggak bisa praktekin ilmu-ilmu gentle birth yang kupelajari karena nggak ada Doula yang jadi spokeperson aku kalau tahu-tahu pihak RS mau lakuin tindakan-tindakan intervensi medis yang sebenarnya bisa dihindari atau diminimalisasi. Takut persalinannya nggak "ramah jiwa"buat Ibu dan Bayi. Sumpah aku panik sampai nangis sendiri. Hahaha. Luar biasa ya si hormon ini. Dari yang tadinya aku tenang banget, eh udah mau dekat lahiran malah jadi mellow. Dan tentu, itu terjadi salah satunya karena aku khawatir Allah mentakdirkan Zeno nggak sempat hadir mendampingi persalinanku, sedangkan Bunda belum benar-benar paham tentang apa yang aku harapkan karena belum kebayang apa maksud gentle birth dll. Walau tentunya beliau supporter dari awal banget kehamilan untuk aku berjuang melahirkan normal. 


beli stroller dan carseat ini di Mothercare, tapi ini bukanlah si IDAMAN yang kumaksud. Tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami mutusin beli ini dulu. Nanti kapan-kapan aku mau ada cerita sendiri tentang stroller-strollerku (iya sekarang strollernya udah ganti).
***
Semakin hari, masuk 38 Minggu... aku tetap nggak ada tanda-tanda kontraksi yang teratur, atau tanda-tanda siap bersalin lainnya. Makin galau karena ada teman senam hamil yang udah pembukaan 2, tapi selama 3 minggu nggak maju-maju! Lalu ingat kata kakak iparku dan pernah baca blog orang juga yang bilang mereka dari pembukaan 1 sampai 10 dan akhirnya melahirkan, waktunya cepat banget cuma seharian. Makin, makin galau. 

Kapan baiknya Zeno beli tiket pulang? Kalau udah ada pembukaan? Tapi kalau pembukaanku lama kaya teman senam hamil-ku yang itu gimana? Nggak mungkin Zeno tinggalin kerjaan segitu lama, dia baru masuk kerja sekitar 2 bulan. Jangan-jangan anaknya belum lahir dia udah harus balik lagi ke HK! Tapi gimana kalau cepat banget pembukaanku, sehingga Zeno masih di pesawat perjalanan 5 jam dari HK, aku udah melahirkan? Dan... Jadi gimana??? Aku jadinya pakai Doula atau nggak?? 

Jawabannya, akan aku bagikan di Cerita Persalinan ku ya. 

Makasih banyak udah baca seeeebanyak ini!!! In shaaallah selanjutnya aku akan cerita tentang apa aja sumber belajar aku selama hamil! Buku, tontonan, link, dan lain-lain. 

Jaa Ne! 

Untuk lihat cerita kehamilanku lainnya, bisa klik di bawah ini:

1 comment

  1. Aaaaaa sherrry... aku inget bgt masa masa km “menghilang” tanpa pamit 🀣🀣🀣 yaa Allah ο·» khawatirnya luar boasa dan kabar simpang siur πŸ˜‚πŸ˜‚ Alhamdulillah ga lama km udh chat aku di wa,, ngbrol, km jelasin panjang lebar alasannya and you said tht you were totally fineeee... aku jd tenang,, aku smpe ikut galau bahasin km sm abu gaza mulu tauk wkwkwk. Please don’t do that anymore (tanpa prolog) 🀣🀣

    Well as always nunggu serial selanjutnya yaaa 😘😘😘

    ReplyDelete

Hi! πŸ’–πŸ’–πŸ’– PLEASE MAKE SURE TO WRITE YOUR COMMENT ON NOTE APP OR SOMETHING LIKE THAT FIRST, and then paste it here, because sometimes google has some errors that your comments MAY disappear without being published :( you may not want to rewrite it, do you? 😭😭😭