✨ Everyday is a self-development journey. My views about things that I write here may change from time to time as I grow and refine my values. Kindly check the date of any posts you read here. Thank you.✨

Ide Apa yang Ingin Kubagikan? [A Kinda Fresh Start]

Hi, assalaamu ‘alaykum.
This post is in Indonesian. My typical long post.

Yang aku tulis dijudul... itu pertanyaan yang sering banget kutanya ke diriku sendiri.


Di postingan yang ini (yang sudah lama banget), aku bicara panjang lebar tentang apa yang kupikir mengenai “menjadi inspirasi” dan sebagainya. Saat ini, tahun ini, pertanyaanku terhadap diriku masih berhubungan dengan apa yang kutulis di situ. Bedanya, aku sudah banyak mengambil tindakan-tindakan yang relevan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan batin itu, semenjak saat itu.

Iya, blog ini sudah lama banget ku-hiatus-kan, dan juga kuatur sebagai blog privat yang hanya bisa...
diakses orang-orang tertentu. Kenapa? Karena aku butuh banyak waktu untuk menyimpulkan sendiri di dalam diriku, tentang ide apa yang mau aku bagikan. Dan setelahnya, butuh lebih banyak lagi waktu untuk merapihkan segalanya di sini sehingga akhirnya bisa sesuai dengan apa yang aku inginkan untuk ke depannya.

Bukan, bukan karena sebegitu susahnya untuk mencari ide, dan butuh sepanjang tahun cuma untuk merapihkan blog. Sesungguhnya ide itu banyaaaak banget. Hanya aja, proses penyortirannya cukup ketat! Hahahha. Lalu, aku juga jadi begitu asyik dengan aktifitas nyata lainnya dalam hidupku, sehingga aku nggak benar-benar terpikir untuk meluangkan waktu merapihkan blog ini setelah kuatur jadi privat. Seringkali aku pikir: “ah, blog ku kan sudah nggak ada yang bisa baca, jadi biarkan aja lah begitu. Aku juga bisa melalukan hal lain yang lebih perlu dilakukan. Biar aja blog ku nggak aktif lagi, atau kalaupun suatu saat akan aktif lagi, entah kapan, ya sudah, itu terjadi hanya kalau aku benar-benar mau, bisa mengatur waktu, dan siap melakukannya.”


Sementara itu, instagram, microblog-ku, tempat aku masih sesekali aktif berbagi, juga sudah mengalami banyak perubahan. Spesifiknya seperti apa, nggak perlu aku jelaskan, tapi mungkin kalian juga bisa menilai sendiri. Pastinya, hatiku merasa lebih tenang dengan demikian. Di sana aku benar-benar mencoba memanifestasikan ide melalui wujud cinta terhadap keindahan objek fotografi, kenangan, dan juga prinsip hidup. Terlalu abstrak nggak sih bahasaku? Ya intinya begitu deh, hehe.

Cerita yang kubagikan memang jauh nggak sebanyak dulu, karena aku memang sengaja menahan diri untuk nggak berbagi terlalu banyak (menurut kadarku) tentang kehidupanku, dan aku menikmati sense of privacy tersebut. Aku jadi lebih banyak berkomunikasi dengan orang-orang di sana melalui konsep fotografi yang kubangun. Dan semuanya dalam keadaan “nyaris tanpa urgensi”. Artinya, aku nggak merasa harus posting ketika aku nggak sedang merasa bisa atau mau posting sesuatu. Bahkan, ketika aku punya banget hal seru yang bisa diposting, aku jadi sering banget merasa "no, I'm gonna keep it for myself". Aku juga nggak merasa perlu posting suatu tema secara konsisten, atau apapun, untuk “menyesuaikan dengan kebutuhan audiens”, atau supaya "nggak tenggelam".

Di sana aku bertumbuh, dan akhirnya benar-benar belajar untuk mengekspresikan diri dengan mendengar kata hatiku, memahami apa yang membuatku merasa lebih tenang dan damai. Dan tentunya, nggak terlalu memikirkan ekspektasi dan asumsi orang lain.


Iya, sesuka ituuuuu akunya mengekspresikan diri lewat fotografi. Sesuka itu akunya punya wadah untuk bisa tetap sesekali berkomunikasi dengan orang lain, dengan cara yang bisa kusesuaikan dengan individualisme-ku sendiri. Ada rasa senang kalau sesekali bisa mengabarkan orang lain tentang apa yang kami alami, dan bahwa kami baik-baik aja, tanpa harus menghubungi satu persatu. Akupun merasa hal yang sama saat melihat saudara-saudara dan teman-teman di sana. Nggak perlu harus selalu tanya kabar melalui basa-basi, tapi bisa tahu keadaan mereka seperti apa. Bisa langsung komen dengan spontan tanpa memikirkan “pembukaan”-nya dulu, karena wacananya sudah dilemparkan oleh mereka. Rasanya jarak pun jadi cukup terpangkas. Yang nggak pernah ketemu pun bisa berasa akrab. Hahaha.

Jadi, buat orang-orang yang punya pikiran “Ribet amat sih mikirnya buat main instagram / media sosial doang. Mending nggak usah pakai sekalian.”, untuk saat ini kita belum satu gelombang. Bukan berarti aku menolak ide tersebut. Mungkin, mungkin, suatu saat nanti aku bisa berpikir demikian juga. Tapi sekarang aku masih bisa melihat poin-poin yang ingin aku pertahankan, jadi... ya, begitu lah.


Kembali ke apa yang mau aku bagikan. Sebenarnya, memikirkan hal itu membangkitkan semangat tertentu dalam diri aku. Aku sadar bahwa “berbagi ide” adalah suatu “kebutuhan” buat aku. Artinya, aku mau melakukan itu bukan karena orang lain, tapi memang untuk diriku sendiri, karena aku memang suka banget berdiskusi tentang ide. You know what, it’s a huge ENFP thing!! Memang orang ENFP itu kaya gitu. Suka punya banyak ide-ide yang mereka ingin “pantulkan” ke orang lain, ingin dibicarakan, ingin mendapat respon dari ide tersebut, atau kadang didengar pun sudah cukup, karena terkadang ide yang abstrak itu baru bisa jadi kongkrit dan jelas setelah diutarakan dengan gamblang ke orang lain, nggak hanya mengambang di kepala sendiri. 

Untuk cakupan media sosial di mana itu akan jadi konsumsi publik (bukan hanya orang-orang terdekatku), dan juga yang mana aku perlu mengalokasikan waktu khusus untuk mengelolanya, semakin kesini, aku semakin selektif dalam menyortir hal yang ingin aku bagikan. Tapi sejujurnya, apa pun itu, aku nggak ingin berbagi ide dengan berangkat dari pertanyaan “apa ya yang mereka butuh? Apa ya yang kira-kira mereka senang baca?” dan lain sebagainya. Aku benar-benar ingin berangkat dari sudut pandang: apa yang memang aku MAU bagikan dan, apakah yang mau aku bagikan itu bisa memberi manfaat untuk baik satu orang yang baca maupun lebih.

Kenapa seperti itu? Ya karena ini cuma hobi, bukan tugas utamaku. Jadi, tujuan utamanya ya untuk diriku sendiri. Kalau tugas kehidupan di mana aku harus memikirkan banyak hal dari sudut pandang orang lain, aku juga sudah punya, dan pastinya bukan ini. Alhamdulillah banget kalau hobi bisa sekaligus membawa kebaikan atau manfaat bagi orang lain. Yah, manfaatnya mungkin bisa bersifat subliminal, maupun frontal. Tapi intinya, ide atau hal yang aku suka bagikan adalah yang bagiku mengandung energi positif ♥. Kalau pun ada hal yang negatif (bagi aku) yang pernah aku posting, itu semua satu persatu akan aku coba hilangkan atau perbaiki, In Shaaallaah, karena itu adalah bagian dari tanggung jawab aku sebagai manusia di hadapan Allah.


Nahhhhhh, ini nih yang paling mau aku bicarakan. Mengenai tanggung jawab / konsekuensi ide yang kubagikan (di manapun, khususnya sosial media).

Di postingan yang ini juga, aku pernah bilang bahwa aku sering merenungkan apa yang pernah kubagikan. Bisa jadi selama ini sadar atau tanpa sadar, aku menjadi suatu contoh / inspirasi yang kurang baik untuk orang lain. Bukankah itu bisa jadi dosa jaariyah / dosa berantai yang terus menerus datang ke aku bahkan setelah aku meninggal? Sejujurnya aku takut. Takut... banget. Kadang manusia lupa hal-hal semacam itu kan? Dianggap sepele, padahal... deadly. Anwyay, apapun itu yang aku percaya sebagai hal yang kurang baik, aku berusaha banget untuk memohon ampunan dan perlindungan dari Allah. Semoga kemasabodohan, kenaifan, atau kekhilafan aku dalam bertindak dan berkata-kata nggak menjadi penyebab celakanya aku di akhir nanti.

Tapi, dengan izin Allah, dosa kan bisa dihapus dengan kebaikan. Apalagi kalau kebaikannya itu berantai a.k.a jaariyah. Yaaa... seenggaknya bisa terus membantu menutupi dosa-dosa yang ada kan? Itu lah yang aku maksud dengan “ingin berbagi yang bermanfaat”. Well, bukan berarti dari dulu aku merasa nggak pernah berbagi yang bermanfaat sih, hahaha, tapi maksudku, kali ini aku mau lebih fokus membagikan yang sekiranya manfaatnya jauh lebih banyak lah gitu. Ya sesekali mungkin aku posting sesuatu yang secara kasat mata nggak kelihatan manfaatnya apa... (atau memang nggak ada manfaatnya?) 🀣 tapi sebisa mungkin jangan sampai ada yang justru secara langsung memberikan pengaruh kurang baik. Kira-kira begitu lah. Nggak perlu selalu postingan yang temanya lagi “in”, atau yang banyak dicari orang, apalagi sengaja mencari yang sekiranya bakalan jadi viral. Nggak kok. Cukup apa yang memang aku mau posting, berdasarkan apa yang kupikir, kurasa, dan kualami aja — dan yang memang nggak cenderung membawa pengaruh / pesan yang menurut prinsip dan moralku, kurang baik.


That’s it. I want it to be natural, to represent me as a person, who tries to do and speak only good, InshaaaAllaah πŸ’– Satu aja kebaikan yang datang dari manusia, dan diikuti serta diamalkan terus oleh manusia lain itu sudah sangat berharga, jadi aku mau mencoba memanfaatkan segala sarana yang ada untuk memanen banyak kebaikan, nggak hanya semata-mata menyalurkan kebutuhan atau hobi semata.

Kalau dijabarkan seperti ini, mungkin sebenarnya ya DARI DULU niatku sudah seperti ini (dengan sedikit banyak tambahan embel-embel niat lainnya). Bedanya, nilai dan prinsipku saat ini sudah jauh lebih matang dibanding dulu, jadi apa yang menurutku baik dan nggak baik juga sudah banyak berubah. Itulah mengapa aku perlu... a kinda frest start, something like that, untuk blog ini. Dan wajar banget sih kalau seandainya ada yang bertanya-tanya “lah memangnya apa sih yang salah dengan yang kamu share dari dulu-dulu? perasaan bagus-bagus aja?” Ya sudah, hehehe.

Thanks for following my journey! And this is how I like to be as a person now, and maybe if you watch closely enough, you can tell what it is that I mean, and I hope what I do can deliver good messages of some sort to you too πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š


Thanks for reading!

No comments

Hi ✨ It is lovely to hear back from you. If you want to say something, PLEASE, kindly write them down on your note app first before you post them here. Sometimes some errors occur, and your comments may disappear without being published. Thank you for your time and consideration ✨