✨ Everyday is a self-development journey. My views about things that I write here may change from time to time as I grow and refine my values. Kindly check the date of any posts you read here. Thank you.✨

Persalinan Pertamaku: Mengenang Kebahagiaan 2 Tahun Lalu

(This post is in Indonesian.)
Hi, Assalaamu ‘alaykum.

Jadi, aku belum pernah punya tulisan yang proper tentang pengalaman persalinanku yang pertama pada tanggal 20 Juni 2017 lalu. Jujur, aku bingung menceritakannya tanpa membuatnya jadi panjang banget, dan juga ada alasan-alasan lain yang membuat aku maju mundur untuk mempublikasikan draft-nya di sini.


Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, mungkin ada satu atau dua hal yang bisa berguna untuk dibagikan ke orang lain, dan aku juga ingin mengabadikan kisahnya di sini agar mudah kukenang lagi. Jadi, baiklah, kuputuskan untuk membagikannya tahun ini, tepat 2 tahun semenjak saat itu.

Kisah ini ditulis dengan sepenuh ketulusan hati, dan in syaa-allaah nggak ada kesombongan atau...
niat nggak baik lainnya dibalik semua yang kuceritakan di sini. Jadi, semoga ada manfaat yang bisa diambil dari ini, dan kalau ada yang kurang berkenan, mohon diberi udzur, mungkin itu datang dari keterbatasanku untuk merangkai kata dengan lebih baik lagi.

So... bismillaah, here it is.
***

PERSIAPAN SELAMA HAMIL

TENTANG RUMAH SAKIT, OBGYN, DAN FILOSOFI GENTLE BIRTH

Kalian yang sebelumnya sudah kenal aku, mungkin tahu ya, kalau hidupku sejak 2014 itu bolak-balik Hong Kong - Jakarta, karena suamiku, Zeno, kerja di HK dari 2010. Nah, tapi saat kami tahu aku hamil, itu alhamdulillaah bertepatan dengan saatnya kami pulang dan menetap sementara di Indonesia.

Singkatnya, kehamilan pertamaku itu full di Indonesia. Dari bulan pertama sampai bulan ke 7, juga full ditemani Zeno dan keluarga lainnya. Tapi... setelah memasuki bulan ke 7 kehamilan, Zeno harus kembali ke HK untuk pekerjaannya. Ya... kesepian sih, tapi tetap disyukuri lah, karena itu kan salah satu jalan rejeki dari Allah untuk keluarga kami, alhamdulillaah. 
Sebelum Zeno kembali ke HK, kami menyempatkan melakukan Maternity Shoot dulu.Temanya? Princess Serenity & Prince Endymion from Sailor Moon, of course... πŸŒ™πŸ’–✨

Selama ditinggal Zeno, aku sebenarnya deg-degan membayangkan hari-hari persalinan.
Karena, harapanku, ya... aku bisa melahirkan didampingi dia. Tapi, waktu persalinan kan nggak bisa diprediksi dengan tepat ya. Nggak mungkin kan Zeno dari Hong Kong bisa langsung ber-apparate (?) tadaaaa~~ langsung muncul dalam hitungan detik di Rumah Sakit tempat aku mau melahirkan saat waktunya tiba. Jadi kami cuma bisa berdoa dan berdoaaaa terus, supaya Allah memberikan rencana indahNya untuk kami, dan entah bagaimana caranya, kami bisa bersama nantinya saat menghadapi dan menjalani persalinan.

Sementara itu, aku juga tetap mempersiapkan diri kalau sampai nantinya yang terjadi adalah yang di luar rencana. Di bayanganku, aku menginginkan persalinan yang sesuai dengan yang sudah aku pelajari. Tenang, penuh dengan afirmasi positif dan luapan kasih sayang yang banyak untukku dan si bayi yang akan lahir. Plus, didampingi oleh orang yang sekiranya mengetahui visi misi persalinan yang lembut / ramah jiwa, a.k.a Gentle Birth.

GENTLE BIRTH INDONESIA SHEEMA SHERRY SHEEMASHERRY KAWAII HIJABI PREGNANCY KEHAMILAN PERSALINAN MELAHIRKAN ISLAM MUSLIM ENFP MBTI

Sebenarnya, siapa sih yang nggak mengharapkan persalinan semacam itu? Maksudku, bagaimana pun caranya, wajar kan kalau seorang calon ibu berharap persalinannya lancar, dan setidaknya, minim trauma. Tapi untuk kasusku sendiri, sebelum aku mengetahui istilah Gentle Birth, terus terang aku nggak berharap banyak terhadap persalinanku.

Aku tadinya nggak tahu kalau persalinan itu bisa tenang. Aku juga nggak terpikir sebelumnya kalau calon ibu bisa memberdayakan diri sedemikian rupa, seperti memberi afirmasi positif ke dirinya sendiri untuk mempermudah proses persalinan, bahkan mengurangi rasa sakit secara signifikan. Yang kubayangkan, prosesnya pasti penuh histeria, dan rasa sakit antara hidup dan mati, seperti yang sering kulihat di tivi. Jangankan berharap bisa ramah jiwa, bisa selamat tanpa menyisakan trauma mendalam aja sudah alhamdulillah banget. Pasrah aja. Itu yang selalu kupikir sebelumnya.

Tentu, benar adanya bahwa seringkali persalinan memang seperti yang terlihat di tivi, dan situasi-situasi sulit seperti itu kadang nggak bisa terhindarkan lagi. Tapi, paling nggak aku jadi tahu, kalau itu BUKAN SATU-SATUNYA situasi persalinan. Persalinan bisa sulit, bisa mudah, bisa sangat sakit, bisa minim rasa sakit. Semuanya sudah diatur oleh Allah dengan segala hikmahnya. Tapi intinya, apapun yang terjadi nantinya, ternyata Allah memberi BANYAK CARA bagi calon ibu untuk berusaha terlebih dahulu demi mempermudah proses persalinannya.

GENTLE BIRTH INDONESIA SHEEMA SHERRY SHEEMASHERRY KAWAII HIJABI PREGNANCY KEHAMILAN PERSALINAN MELAHIRKAN ISLAM MUSLIM ENFP MBTI
taken from HERE

Itulah yang membuatku bersyukur banget karena Allah mengizinkanku untuk mendapat info tentang Gentle Birth saat mempersiapkan persalinanku yang pertama. Aku sudah membahas soal Gentle Birth dari sudut pandangku di blog post sebelumnya ya. Untuk membacanya, coba klik DI SINItapi selesaikan baca yang ini juga ya... hihi.

Kembali ke harapanku untuk persalinan. Idealnya, ya... pasti didampingi oleh Zeno kan, karena sedikit banyak dia sudah mulai paham tentang filosofi Gentle Birth yang ingin kami jalani sama-sama. Tapi, kalau dia nggak bisa ada di hari H, there has to be someone else who can do that for me, right?

Aku dan Zeno sama sekali nggak berharap sejauh ingin melakukan water birth di rumah sih. Jujur, saat itu, aku memang nggak berani, dan aku juga nggak merasa nyaman membayangkannya, karena sugestiku masih yang — lebih nyaman di Rumah Sakit, dengan prosedur yang biasa, alat-alat dan kebutuhan tersedia, untuk persiapan kalau sampai ada gimana-gimana (walau sebenarnya aku berusaha berpikir positif banget, in syaa-allaah everything’s gonna be fine).

GENTLE BIRTH INDONESIA SHEEMA SHERRY SHEEMASHERRY KAWAII HIJABI PREGNANCY KEHAMILAN PERSALINAN MELAHIRKAN ISLAM MUSLIM ENFP MBTI
cr: HERE
Terus, aku juga memang maunya di Rumah Sakit, karena... mau merasakan momen spesial itu di suasana yang berbeda. Apalagi kalau para dokter dan susternya memang yang baik dan lembut, akan senang banget deh banyak yang memanjakan dan mengistimewakan. Plus, banyak yang bisa ditanya ini itu kalau sedang bingung urusan pasca persalinan dan perawatan bayi baru lahir, hehe.

Jadi, fokus kami memang lebih ke belajar filosofi Gentle Birth untuk usaha melakukan persalinan normal di Rumah Sakit, dan juga mempersiapkan dana dan lain-lainnya untuk bisa mengambil kelas pelayanan RS yang diharapkan. Sekali lagi, tentang Gentle Birth menurut pandanganku, ada di postingan sebelum ini, di SINI ya.

Mengenai kelas pelayanan untuk persalinan dan pasca persalinan, alhamdulillaah sudah diatur dari jauh-jauh hari, dan memang sudah booking juga di Rumah Sakit, jadi sedikit banyak sudah lebih tenang saat hari H nanti. Rumah sakit yang kupilih adalah Mitra Keluarga Bekasi Barat (biasa disingkat RSMKB). Aku suka suasana Rumah Sakit ini karena bersih dan tenang, Suster dan Dokternya juga ramah, dan selama ini aku belum pernah merasa dikecewakan dengan pelayanan ataupun sistemnya, alhamdulillaah.
Selama hamil, aku sudah bertemu beberapa Obgyn berbeda di RSMKB. Tapi, di trimester 3, aku mantap untuk konsisten dengan dokter Dwi Santi, salah satu dari 2 Obgyn di RS itu yang antriannya... waw luar biasa. Dan, memang, beliau beberapa kali direkomendasikan untukku oleh staf-staf RS yang juga pernah hamil dan jadi pasien di situ. Beliau ini masih terbilang muda, cantik, tinggi semampai, berkerudung, dengan penampilan yang khas banget, mengingatkan kepada kontestan None betawi.

Sejujurnya, awalnya kukira beliau jutek (?). Ternyata, orangnya ramah banget (tapi beliau nggak terima konsultasi via whatsapp ya... hehe). Aku cukup klik dengan beliau, dari cara beliau mendengarkan, menjelaskan, dan juga menyapa dan mengingat pasiennya. Beliau juga nggak terkesan buru-buru denganku. Aku jadi merasa puas dan dihargai, alhamdulillaah.

Aku sendiri juga sudah berusaha memberdayakan diri dengan banyak belajar tentang persalinan dan perawatan bayi, dan juga berusaha aktif secara fisik. Dari kehamilan 27 minggu sampai ke 38 minggu, aku rutin ikut senam hamil setiap sabtu di Rumah Sakit, nggak pernah skip. Sampai-sampai, aku dapat hadiah penghargaan breast pump manual gratis dari Pigeon (sponsor RS-nya) lol, dan itu benar-benar terpakai! My only breast pump, karena aku juga cuma pakai breast pump di 2 bulan pertama. Selain senam di RS, aku juga senam sendiri di rumah. Senam yang memang buat ibu hamil ya. Jadi in syaa-allaah memang sudah cukup siap deh.

Aku selalu semangat di kelas Prenatal Yoga. Seneng banget latihan melenturkan tubuh, bareng sama teman-temansesama hamil. Gemes, perutnya bunder-bunder semua. Hehehe.

Yang perlu dipikirkan ya tinggal si “pendamping” yang kusebut di atas.

“Loh, kan ada Bunda, Sher?”. Iya, betul. Betul banget. Dan bunda juga baik banget kok selama aku hamil. Bunda juga dukung banget aku untuk melahirkan normal (tanpa sama sekali mengecilkan metode persalinan C-section / operasi caesarian). Bunda juga nggak pernah menyarankan aku melakukan mitos orang dulu yang aneh-aneh, alhamdulillah banget.

Terlebih dari itu, Bunda memang selalu menghargai keputusan-keputusan hidup yang kuambil semenjak aku menikah dengan Zeno. Jadi, dari urusan rumah tangga, kehamilan, dan sekarang mengurus anak pun seperti itu. Mertuaku juga sama, seperti itu, alhamdulillaah. Tapi ya mertuaku juga jauh di Sulawesi Selatan, jadi memang biasanya kami hanya berkabar via video call (and she loves me so much too, alhamdulillaah!)

Kembali ke Bunda. Bunda juga yang rutin mendampingi aku senam hamil dan check-up ke dokter, dan membantu merekam videoku tiap kali aku check-up, semenjak Zeno kembali ke Hong Kong! Alhamdulillaah, dokter Santi baik banget, jadi beliau nggak keberatan juga kalau aku bervideo terus. Malah beliau yang menjelaskan ke susternya: “kasian nih sus, dia rekamin buat dikirim ke suaminya yang lagi di HK.” HAHAHAHAHAH.

Bunda Sayang πŸ’—

Nah, tapi... kalau Bunda sendirian yang jadi pendamping persalinan, aku masih agak ragu. Alasannya: aku khawatir bunda tiba-tiba panik, dan aku jadi ikutan panik. Itu wajar banget, kan. Aku memikirkan perasaan beliau, dan perasaanku juga. Kasihan beliau kalau panik, dan gawat banget buat aku kalau aku ikutan panik.

Lalu, alasan lainnya adalah, karena faktor usia Bunda, mungkin nggak semudah itu dalam waktu cepat aku bisa menanamkan pola pikir baru ke beliau setelah menjelaskan tentang filosofi Gentle Birth. Maksudku, aku percaya beliau bisa memahami filosofinya dan memang akan berusaha menanamkan pola pikir itu, tapi untuk bisa langsung mempraktekkannya di situasi yang mungkin sangat tinggi potensi kepanikan-nya? Belum tentu. Apalagi untuk diharapkan langsung bisa memegang kendali untuk membimbingku, dan membantu mengusahakan segalanya bisa seperti harapanku tentang menerapkan filosofi Gentle Birth di Rumah Sakit. Aku malah jadi khawatir membebani beliau secara mental dengan segala ekspektasiku.

Yah, sama sih, Zeno juga belum tentu langsung bisa. Tapi, kalau dengan suami kan... aku bisa lebih bebas “push” ekspektasiku ke dia, HAHAHAHHA. Kalau dengan Bunda, nggak enak lah kalau ada yang nggak sesuai lalu kutegur atau komplain. Hal seperti ini juga yang tentunya kurasa terhadap anggota keluarga lainnya.

Seperti ini nih semangatnya saat menjelang persalinan :')

Sejujurnya, minggu-minggu akhir kehamilan itu tiba-tiba aku memang jadi mulai panik. Padahal sebelumnya aku cukup tenang dan percaya diri. Somehow, membayangkan hari persalinan yang belum jelas kapan tapi semakin dekat, dengan perut yang sudah rasanya sejuta sensasi karena besar, keras, bergerak heboh dari tendangan dan dorongan si bayi yang penuh semangat (lihat kan video di atas itu), lengkap dengan rasa sakit, pegal, dan aneh dan selalu mau buang air kecil karenanya, lalu membayangkan Zeno nggak bisa hadir di saat persalinan... wah.

Tiba-tiba aku jadi mellow, dan di suatu siang di kehamilan minggu ke 38, aku menangis sambil menelepon Zeno yang saat itu sedang di kantor. Aku bilang aku takut, aku khawatir semua berjalan di luar apa yang sudah aku harapkan, rencanakan dan pelajari, ditambah semua perasaan-perasaan aneh yang tiba-tiba saja membuncah di dadaku. Well... hormones. Haha.

Jadi... solusinya bagaimana? Akhirnya kami sepakat untuk menyewa jasa Doula, a.k.a Pendamping Persalinan.

***

TENTANG DOULA (PENDAMPING PERSALINAN)

Orang yang belajar tentang Gentle Birth biasanya sudah nggak asing dengan istilah "Doula". Doula itu adalah seorang tenaga profesional yang tugasnya adalah ADA mendampingi ibu yang akan bersalin, memberikan ketenangan dan kenyamanan, serta informasi mengenai persalinan yang dia ketahui, dari pengalaman dan pendidikan yang dia punya ☺❤ Berikut detail tentang apa saja yang Doula bisa lakukan untuk kita:

cr: HERE
Mulai lah kami mencari Doula yang berbasis di daerah Bekasi (secara online). Akhirnya kami mendapat rekomendasi untuk menghubungi Bidan Yuli dari Rumah Puspa. Singkat cerita, setelah kami menghubungi beliau, beliau bilang jadwal-nya sudah full. Saat hari perkiraan aku akan melahirkan, beliau sudah ada jadwal untuk menangani pasien di Singapura.

Menurut Bidan Yuli, sebenarnya memang agak telat untuk baru mencari jasa Doula saat usia kehamilan 38 minggu. Ya, tapi nggak apa-apalah, yang perlu dilakukan dikejar aja sebisanya. Tapi karena nggak bisa sama beliau, jadilah, beliau "mengutus" bidan-bidan lain dari yayasan-nya untukku. 

Sejujurnya, awalnya aku agak skeptis, tapi setelah bertemu mereka langsung, aku pikir boleh juga kok. Mereka ternyata menyenangkan. Kok “mereka” Sher? Iya, karena yang “menangani” aku 2 orang!!!

Yang pertama namanya Bidan Fina, lebih muda beberapa tahun dariku. Dia datang ke rumah untuk “Kelas Persiapan Persalinan” beberapa hari setelah aku menghubungi Bidan Yuli (kehamilan minggu ke-38). Dia datang membawa laptop, buku-buku panduan Gentle Birth dan menyusui, gym ball, dan juga rebozo. Dia juga membawa boneka bayi untuk mengajari aku memandikan bayi πŸ˜‚.


Saat dia presentasi, Bunda ikutan mendengarkan, dan ternyata bunda SUKA dong. Bunda suka dengan Fina yang halus banget ngomongnya dan seperti agak malu-malu, dan juga suka dengan penjelasan mengenai Gentle Birth yang dia presentasikan. Sebelumnya, sebenarnya Bunda agak khawatir saat aku menjelaskan sendiri tentang Gentle Birth dan Doula ke beliau. Beliau khawatir aku “aneh-aneh” gitu dan berekspektasi yang di luar kebiasaan normal tentang persalinan. Tapi setelah dijelaskan oleh “pihak ketiga” (?) tentang Gentle Birth, baru deh mantap. Hahahaha.

Fina menjelaskan tentang konsep Gentle Birth, optimalisasi posisi janin, tahapan persalinan, teknik menyamankan persalinan melalui pernapasan, pijat endorfin, acupressure, dan juga penggunaan kain rebozo untuk mempermudah proses persalinan. Terasa jauh lebih enak lah kalau ada praktisinya langsung yang mengajarkan, dibandingkan cuma baca-baca atau melihat dari youtube.

YANG TERPENTING: FINA MEMBANTU AKU UNTUK MERANGSANG AIR SUSU KU UNTUK KELUAR... DAN... YES!! BENAR-BENAR KELUAR!! πŸ˜­πŸ’– Rasanya legaaaa banget melihat air susu sendiri sudah keluar dari sebelum si anak lahir. Keyakinan dan kepercayaan diri pun makin meningkat. Alhamdulillaah, terima kasih Allah, telah melancarkan segalanya.... ❤❤❤

Ini tentang Bidan Fina. Yang satu lagi, kuceritakan di bawah ya sebentar lagi (?).

cr: HERE

***

MOMEN-MOMEN MENJELANG PERSALINAN

KABAR MENGEJUTKAN DENGAN HIKMAH YANG INDAH

Tanggal 17 Juni 2017 (22 Ramadhan 1438), hari Sabtu, saat usia kandunganku sudah memasuki usia 39 minggu, seperti biasa aku cek kandungan mingguan (masuk trimester 3 akhir, cek-nya sudah per-minggu). Qaddarallaah, aku hanya ditemani oleh my bestie, Anggun, karena Bunda dan tanteku sedang ada urusan penting banget di Bogor (mereka berangkat sehabis subuh, sementara jadwal check-up ku juga pagi menuju siang).

hari-hari USG biasanya selalu menyenangkan buatku, karena perkembangan si bayi selalu baik...

Ternyata, ada sesuatu yang beda terjadi hari itu. Dokter Santi bilang, berat badan si bayi nggak bertambah dari minggu sebelumnya (38). Aku kaget, tentu aja, karena dari kemarin-kemarin segalanya bagus-bagus aja.... bagus banget malah kalau kata dokter Santi. Beliau selalu bilang “bayinya sehat nih... alhamdulillaah perkembangannya bagus nih...” jadi aku nggak pernah menyangka kalau di minggu 39 akan mendapat kabar seperti itu. Terus, indeks ketubannya juga sudah mulai turun ke angka 9. Beliau bilang normalnya sih 10.

Aku saat itu awalnya nggak terpikir arahnya akan kemana. Si dokter kesayangan yang biasanya ceria juga jadi serius begitu, walau tetap terlihat tenang sih, nggak tegang. Aku tanya kenapa bisa seperti itu. Beliau bilang, di minggu-minggu terakhir usia kehamilan, plasenta yang menua bisa mengalami pengapuran dan menurun fungsinya, jadi ya sederhananya, nggak bisa menghantarkan nutrisi ke bayi dengan baik. Beliau melihat melalui USG, ada bintik-bintik putih di plasenta, padahal minggu sebelumnya nggak ada.

Sebenarnya, menurut beliau, posisi bayiku sudah bagus banget, sudah mantap di bawah, masuk panggul, nggak terlilit dan nggak terhalang plasenta. Jadi aku memang benar-benar tinggal menunggu kontraksi aja.

Tapi dengan adanya hal seperti ini terjadi, tiba-tiba beliau bilang: "Kita selesaikan sampai di sini".  Aku sempat blank mendengar beliau bilang gitu. Apa??? Apanya yang di-“selesaikan”??? Ternyata maksudnya, kalau ada kasus begini, beliau biasanya langsung mengambil tindakan, tergantung bagaimana keadaan ibu dan bayi di kandungan, agar bayi segera lahir. Soalnya, beliau nggak mau mengambil resiko bayinya kenapa-kenapa di dalam rahim karena nggak mendapat asupan nutrisi yang sesuai (naudzubillaah).

cr: HERE https://www.quotemaster.org/Surprise+In+Life

Singkat cerita, Dokter Santi bilang, rencananya beliau akan mencoba mengambil tindakan pemasangan induksi BALON KATETER FOLEY untukku hari itu juga di Kamar Bersalin, untuk mematangkan rahim dan merangsang pembukaan persalinan.

Dokter Santi memberikan kertas rujukan untuk melakukan CTG (CardioTocoGraphy, untuk memantau detak jantung & pergerakan bayi, serta kontraksi rahim) di Kamar Bersalin. Beliau bilang, sangat penting memantau kondisi jantung dan pergerakan bayi sebelum dan selama melakukan proses induksi. Karena, diharapkan bayi cukup kuat untuk berjuang bersama ibu dalam menjalani induksi (yah, kasarannya, belum waktunya kontraksi eh dibuat kontraksi, bayinya bisa saja "belum siap" kan). Kalau sampai ditengah-tengah proses induksi, bayi kelihatan menunjukkan tanda-tanda melemah, maka menurutnya, langkah C-section harus diambil demi keselamatan.

Terus terang saat mendengar itu, aku nggak merasa takut, panik, atau semacamnya. Malahan, sebenarnya aku merasa ada semangat tersendiri di dalam diriku. Semacam... senang aja. SEKARANG NIH?! Sekarang BANGET nih aku akan melahirkan dan berjumpa dengan sayangku?! Benar-benar senang. Di sisi lain, aku agak sedikit deg-degan juga. Tapi hanya sedikit.

Tentu, aku nggak pernah terbayang akan ada di situasi di mana aku mendengar dokter bilang aku punya kemungkinan melahirkan melalui C-section. Tapi, somehow, hati kecilku bilang, semuanya akan baik-baik aja. Aku seperti mendengar si bayi bilang kalau dia kuat dan akan berjuang bersamaku. Kami akan bisa melaluinya lewat persalinan normal. Dan aku percaya itu sebagai petunjuk dari Allah.

Dear Son, I've counted how the moon rises and sets so many times to see you, I'm glad you are getting closer... 

Aku nggak memungkiri kenyataan. Aku sudah tahu ada kemungkinan C-section, dan usahaku berpikir positif justru membuatku bisa merangkul kemungkinan tersebut dengan lebih lapang dada. Apapun yang terjadi, rencana Allah yang terbaik, terlepas dari apakah aku bisa langsung memahami hikmahnya atau nggak.

Setelah aku keluar ruangan Dokter Santi, dan sebelum masuk ke Kamar Bersalin untuk CTG, aku mengabari beberapa orang dulu: Zeno, Bunda, dan Bidan Dian (Ini dia Bidan 1 lagi yang akan menangani aku khusus di hari H persalinan, sebagai Doula).

Aku cuma mengabari mereka secara singkat, dan ketiganya kaget. Tapi aku menyudahi telepon dengan cepat karena aku sudah dipanggil untuk CTG. Aku masuk ke Kamar Bersalin dan berbaring sambil tubuh dipasangi alat CTG. Tentunya nggak pegang HP dan lain-lain. 20 menit kemudian, hasil CTG keluar, dan alhamdulillaah... SEMUANYA BAGUS DAN NORMAL πŸ˜­πŸ’–✨. Aku jadi makin lega dan percaya diri. Akhirnya aku baru cek HP lagi, dan aku baru berkabar lagi dengan 3 orang itu:

Bunda bilang: beliau langsung berangkat pulang dari bogor (padahal baru sampai).

Doula Dian bilang: apa perlu mencari second opinion sebelum langsung mengambil tindakan induksi?

Zeno bilang: dia sudah beli tiket pesawat untuk pulang. Malam itu juga.

MALAM ITU JUGA.

MALAM ITU JUGA.

MALAM ITU JUGA.

YA ALLAAAAH... 

AKU SENANG BANGET!

Rasanya, semuanya mulai tampak terang. Ini. In syaa-allaah ini jawaban dari doa-doa kami. Allah membuat itu semua menjadi mungkin, dengan caraNya yang nggak pernah disangka-sangka.

cr: HERE
Tentu sangat jelas, aku nggak ingin ada sesuatu yang mengkhawatirkan seperti ini terjadi pada bayiku. Sama sekali. Pastinya aku nggak akan pernah berharap aku akan “kenapa-kenapa” sehingga Zeno bisa dengan pasti merencanakan kapan harus pulang. Tapi, qaddarallaah, ini terjadi: di minggu ke 39, pengapuran plasenta itu terdeteksi.

Mengutip hallosehat.com: “Banyak pakar kehamilan yang menganggap bahwa pengapuran plasenta adalah fenomena yang wajar terjadi selama kehamilan. Plasenta memiliki peran penting dalam melindungi kesehatan dan keselamatan janin selama masa kehamilan. Akan tetapi, karena penyebab pengapuran plasenta sampai saat ini masih belum diketahui pasti, maka sulit untuk menentukan langkah pencegahannya yang spesifik. Langkah pertolongan medis yang dilakukan untuk menghadapi kondisi ini akan tergantung dengan risiko yang ditimbulkan dan tingkat keparahannya.".

Untuk kasusku, usia janin 39 minggu memang usia siap lahir, dan riwayat kesehatanku dan janin selama hamil benar-benar baik. Aku sangat-sangat peduli dengan makanan sehat dan lebih suka makan makanan bernutrisi hasil masakan di rumah dari pada jajan, apalagi junkfood. Nggak ada satupun orang terdekatku yang merokok, dan aku hampir nggak pernah terpapar asap rokok.

Aku jadi merasa, in syaa-allaah sebenarnya aku dan si bayi nggak kenapa-kenapa, tapi mungkin ini cara Allah untuk memudahkan kami “mengunci” tanggal supaya Zeno bisa pulang di saat yang tepat.
http://www.tulsafamilydoulas.com/blog/2016/4/17/birth-new-mom-affirmations-free-printables

Kenapa mengunci tanggal ini penting? Karena jatah cuti Zeno untuk saat itu hanya 2 minggu. Kalau dia salah pilih tanggal cuti, bisa ada hari yang “terbuang” atau nggak maksimal terpakai.

Dengan terjadinya ini semua, Zeno bisa pulang ke Indonesia sesaat sebelum bayinya lahir, dan Zeno bisa memanfaatkan sisa hari dari 2 minggu itu untuk memaksimalkan mengurus bayi bersamaku. Yakan???? :’)

Jadi, karena semua juga sudah terjadi di luar kuasaku, aku hanya bisa mensyukuri yang ada dan berjuang serta berdoa semoga ke depan-nya prosesi persalinan dan segalanya lancar dan selamat. Sudah, itu aja. Sekali lagi, aku percaya rencana Allah yang terbaik, terlepas dari apakah aku bisa langsung memahami hikmahnya atau nggak ❤

***

INGIN BERUSAHA SENDIRI DULU 

Kembali ke... hari itu setelah CTG. Aku kembali ke ruang dokter Santi untuk membahas hasil CTG, dan dokter Santi juga terdengar optimis setelah melihat hasilnya. Yang aku tahu selama ini, beliau termasuk dokter yang memperjuangkan persalinan normal dulu sebelum benar-benar memutuskan C-section.


Sekedar catatan, beliau nggak begitu familiar soal Gentle Birth (saat itu, nggak tahu kalau sekarang), sehingga waktu aku menanyakan beberapa wishlist untuk persalinanku (semacam birth plan), seperti, apa posisi melahirkan bisa memilih sendiri senyamannya? Apa lampu ruangan saat proses persalinan bisa nggak terlalu terang, dan sebagainya, jawaban beliau lucu sih. Intinya “yaaa harus sesuai prosedur Rumah Sakit dong...”. Jadi: aku hanya bisa mengaplikasikan yang sekiranya bisa diaplikasikan dari filosofi Gentle Birth dan memaksimalkannya di kelas pelayanan yang kupilih. Ya sudah lah.

Saat itu, dokter Santi mau aku segera kembali ke Kamar Bersalin untuk memulai proses induksi balon foley itu, tapi aku menjelaskan ke beliau kalau malam itu suamiku akan pulang ke Indonesia, dan aku izin mau ke Mall terdekat untuk makan dulu. FYI lagi, itu tanggal 22 Ramadhan. Aku nggak puasa karena aku memang lagi fokus ke penaikan berat badan bayi dan juga energi untuk persiapan persalinan yang bisa kapan aja terjadi. Beliau mengizinkan aku pergi cari makanan yang kusuka dengan alasan supaya aku lebih berenergi dan lebih semangat. Baiklah... thank you, Dok...

***

Hari Sabtu itu, Anggun menjelang sore harus pergi ke kantornya, jadi dia pergi meninggalkan aku saat Bunda dan Tante yang bergegas dari Bogor, sudah sampai di Mall tempat aku makan (di Summarecon Mall Bekasi). Bunda dan Tante datang dengan mata berkaca-kaca. Tapi saat melihat aku bilang aku nggak apa-apa dan in syaa-allaah semua akan baik-baik aja, mereka jadi lebih tenang.

Lalu Bidan Dian & Bidan Yuli telpon aku, beliau tanya apa aku sudah dapat second opinion atau bagaimana, untuk memastikan aja apa memang sudah harus tindakan atau masih bisa menunggu. Dan ada sedikit kekhawatiran juga, karena para bidan ini beberapa kali mendapat pasien yang, mmmm.... intinya, akhirnya diarahkan untuk C-section oleh dokternya, padahal sebenarnya masih bisa BANGET menjalankan persalinan normal. Well, aku bisa memahami kekhawatiran mereka.

Aku coba menjelaskan sih, kalau dokter Santi (kebetulan mereka memang belum kenal) in syaa-allaah akan mengusahakan membantu persalinan normal, dan in syaa-allaah segala prosesnya akan kami pantau sama-sama lewat CTG nantinya, jadi aku juga bisa tahu kalau kenapa-kenapa. Lagipula, kalaupun aku mau mencari second opinion, saat itu sudah menjelang sore, mau ke dokter mana, di rumah sakit mana, aku juga nggak tahu, belum lagi antriannya.

http://doterrahomebusiness.com/2018/07/01/how-to-stay-positive-in-stressful-situations/

Aku bilang ke beliau kalau aku sebenarnya berharap bisa sama-sama dengan Zeno mengusahakan segalanya dulu, paling nggak 1 hari penuh aja, untuk mendapat pembukaan yang alami dengan cara yang alami.

Menurut Bidan Yuli, kalau dari hasil CTG dan USG, nggak apa-apa, karena pergerakan dan detak jantung si bayi juga masih bagus-bagus aja dan menurut beliau, indeks volume ketuban 9 cm itu masih oke, masih cukup. Yang aku baca-baca di internet juga begitu sih. Idealnya memang indeks ketuban itu 10-25 cm, tapi 5-10 juga masih cukup. Tapi, pada akhirnya beliau pun bilang, kalau seandainya aku siap di-induksi dengan Balon Kateter itu, nggak apa-apa sih, karena itu pun metodenya mendekati metode merangsang pembukaan rahim secara alami.

Akhirnya, berbekal perasaan ingin pasrah pada Allah tapi juga mau memaksimalkan usaha terlebih dahulu, dan insting kuat yang percaya bahwa kami berdua in shaaallaah baik-baik aja dan akan melalui segalanya dengan lancar, aku memutuskan, hari itu nggak langsung kembali ke Rumah Sakit untuk masuk Kamar Bersalin. Aku mau pulang dulu aja ke rumah Bunda.

Aku pun teringat Dok Santi beberapa kali bilang, seandainya suamiku ada bersamaku di minggu-minggu akhir persalinan, tentu lebih bagus, karena suami bisa membantu merangsang kontraksi dan pembukaan melalui hubungan badan, dan lain-lain. Bidan Doula ku juga bilang begitu.

Alhamdulillaah, aku juga sudah dibekali berbagai perangkat oleh Bidan Fina untuk membantu memicu kontraksi alami, seperti Gym Ball, Rebozo, Panduan Yoga, Audio relaksasi untuk memicu Hormon Oxytocin dan Endorphin, dll... jadi aku mau coba mempraktekkan dulu semuanya dengan dibantu Zeno, paling nggak sehariiii aja, sebelum benar-benar give in masuk ke Kamar Bersalin. Harapan aku, siapa tahu terjadi kontraksi alami tanpa perlu di-induksi.

Tentu perlu aku tekankan, bahwa di sini aku menggunakan instingku sebagai seorang ibu dan sebagai hamba Allah. I had (and always have, in syaa-allaah) faith in Allah, in me, in my baby, and in us. Dan aku merasa masih ada kesempatan untuk aku ber-ikhtiyar, tentunya dengan nggak membahayakan bayiku, yang sebagaimana kulihat, kurasa, dan kuyakini, keadaannya masih baik banget. Kenapa juga aku mau ikhtiyar buat yang alami dulu? Ya karena induksi juga sedikit banyak ada resiko nya lah—ya semua juga ada sih, tapi itu lah pilihan aku saat itu.

***

DOA YANG TERJAWAB

Akhirnya, esok harinya, Minggu 18 Juni 2017 (23 Ramadhan 1438), Zeno sampai di rumah Bunda, sekitar pukul 6 pagi. Setelah Zeno bersih-bersih dan istirshat sebentar, Aku dan Zeno langsung mencoba mempraktekkan semua yang diajarkan Bidan Fina, berbekal perangkat yang sudah ada, dengan harapan akan ada kontraksi alami. Bukan, kami bukan bermesra-mesraan dan berhubungan intim sepanjang hari loh ya. Itu kan lagi bulan puasa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Melalui waktu bersama kamu itu menyenangkan! Hehe. *tapi ini foto waktu masih hamil 6 bulan sih* 😁

Dalam proses seharian itu, kami benar-benar memanfaatkan waktu untuk menjalin kelekatan. Kami belajar banyak tentang pentingnya hormon Oxytocin alias Hormon Cinta, dan Hormon Endorfin a.k.a Hormon Bahagia, dalam proses persalinan. Hormon-hormon ini bisa membantu memicu kontraksi, juga mengurangi beban rasa sakit saat menjalani proses kontraksi tersebut. Cara memicu hormon-hormonnya? Yaaa... di antaranya dengan saling memberikan gesture cinta, serta bergerak fisik yang aktif dengan semangat positif.

Rasanya benar-benar syahdu banget... berbagi kasih sayang lewat sentuhan-sentuhan lembut demi menyambut detik-detik kelahiran satu cinta baru dalam hidup kami berdua. Mempraktekkan  audio relaksasi berdua... yang membuat aku sampai menangis-nangis terharu, karena di audio relaksasi itu, kami diajak untuk saling mengucapkan terima kasih atas kehadiran satu sama lain dan kehadiran si janin, dan membayangkan perjuangan, serta hari-hari indah bersama. Ahhh :’)

Zeno juga menemani aku untuk yoga hamil, jalan kaki keliling komplek, makan banyaaaaaakkk banget, dan pokoknya menemani aku melalukan semua usaha seeeeharian itu dengan harapan bahwa besoknya, hari Senin, saat kami datang ke Dok Santi lagi, sudah ada pembukaan alami. 

Bagi aku, bergandengan, makan bareng, yoga bareng, bersama suami yang sudah aku rindukan dari 2 bulan lalu, dan yang akan menyambut anak kami bersamaku sebentar lagi, ah... alhamdulillaah rasanya hormon cinta berterbaran di mana-mana πŸ˜­πŸ’–. Aku jadi merasa, meluangkan waktu seharian itu dengannya, apa pun hasilnya nanti, tetap sangat bermanfaat dan worth it.

***

MUNCUL KEMBALI DI DEPAN DOKTER SANTI



Keesokan harinya, Senin 19 Juni 2017 (24 Ramadhan 1438), kami kembali lagi ke RSMKB, bertemu Dok Santi yang tampak lega banget melihat aku muncul lagi di depan beliau, karena beliau khawatir. Beliau bilang, “Ya Allah... saya kira udah lahiran... saya deg-degan mikirin, mudah-mudahan kalaupun nggak lahiran di sini hari ini, langsung cari RS lain buat lahiran...”. Aku dan Zeno menjelaskan seadanya aja tentang maksud kami, dan beliau pun mengerti.

Lalu, Dok Santi melakukan pemeriksaan lewat USG lagi, dan... hasil USG mengatakan... SI JANIN NAIK 200 GRAM DALAM 2 HARI! ya tapi USG memang nggak akurat-akurat banget sih πŸ˜…). Ada pembukaan tapi cuma 1, dan, index ketubannya menurun lagi ke angka 7.

Kalau kali ini, memang apapun hasilnya, kami bismillah sudah siap dengan segala perlengkapan untuk masuk ke Kamar Bersalin. Dokter Santi sempat mengingatkan tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi. Aku dan Zeno saling bertatapan, awalnya aku menangkap ada sekilas rasa goyah dan khawatir dari mata Zeno, tapi beberapa detik kemudian, berganti jadi kemantapan.

Aku sendiri sebenarnya sudah berserah, apa pun itu, aku akan berjuang. Hasil akhirnya bagaimana, aku ikhlas. Lagipula, seperti yang sudah kusebut di atas, setiap dilakukan pemantauan dengan CTG yang durasinya 20 menit itu, aku juga bisa ikut melihat dan merasakan, jadi aku juga bisa tahu, apa jantung bayiku baik-baik aja atau bagaimana. And... Bismillaah...


cr: HERE

***

MEMASUKI KAMAR BERSALIN

PEMBUKAAN 1-6 YANG LANCAR DAN PENUH TAWA

Kami mengambil pelayanan Kamar Bersalin kelas VIP, dan harapan bisa membangun suasana Gentle Birth jadi lebih besar, karena ruangan bersalinnya cukup luas dan memang untukku sendiri, sehingga terasa lebih privat, sunyi, penerangannya pun bisa diatur-atur sendiri, dll. Intinya, alhamdulillaah nyaman untukku. Di blog post tentang Gentle Birth yang ini aku sudah bahas ya, kalau nggak harus tempat khusus tertentu untuk bisa mencapai pengalaman Gentle Birth, asal si ibu bisa merasa tenang dan para pendamping serta keadaan lingkungannya juga sebisa mungkin tenang, nggak bising (untuk mengurangi stres bagi ibu dan bayi saat terlahir). Pokoknya disesuaikan sebisa mungkin aja.


Kamar perawatan (yang ditinggali pasca bersalin) untuk VIP pun juga sudah dibuka dari semenjak aku masuk ke kamar bersalin. Barang-barang kami sebagian kami simpan di sana, dan Bunda kuminta istirahat di sana aja sambil menunggu. Kalau memang sudah dekat waktu persalinan, baru dikabari.

Sekitar pukul 12:15 siang, suster bidan mulai memasangkan Balon kateter foley itu. Kurasa, mereka seperti memasukkan selang plastik panjang ke dalam rahim, yang lama-lama mengembang di dalam. Menurut Dok Santi, durasi pemakaiannya sekitar 4 jam (setelah 4 jam, balon ini akan "lepas" sendiri di dalam—aku nggak mengerti tadinya benda itu di-“sangkutkan” di mana di dalam rahim sebelum akhirnya dikatakan “lepas”, karena saat punyaku lepas, aku nggak melihat itu keluar begitu saja dari tubuhku, tapi tetap di dalam).

Diharapkan setelah 4 jam itu, sudah ada pembukaan mulut rahim sampai 4 cm, karena proses pembukaan yang lama itu memang di fase laten 1- 4 cm, yang mana bisa berjam-jam antara satu cm pembukaan ke pembukaan berikutnya, atau bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sisanya, pembukaan 5-10 cm, biasanya cepat, bisa secepat 0.5 - 1 jam per-pembukaan.

Induksi dengan Balon Kateter Foley ini dianggap lebih aman dalam merangsang pematangan serviks dan pembukaan, lebih kecil kemungkinan resiko terjadinya C-section, dan juga lebih mendekati proses alami tubuh dalam mempersiapkan persalinan. Tapi, tetap harus melihat kondisi si ibu hamil dulu. Dalam hal ini, keadaanku dianggap cukup prima untuk memulai induksi dengan metode ini. CMIIW ya...
Masih bisa makan lahap dan nggak merasa terganggu. Btw, aku suka masakan RS Mitra Keluara Bekasi Barat. Gurih... hahaha.

Dari pemasangan Induksi Balon sekitar pukul 12:15 dan lepas sekitar pukul 16:30, alhamdulillaah ternyata aku malah sudah memasuki fase pembukaan 5 cm. Selama dipasangi balon itu, aku tetap bisa duduk, buang air kecil dan besar secara normal, biarpun selangnya bisa tersentuh olehku saat aku bersih-bersih, karena itu benar-benar memanjang dari dalam rahim sampai keluar.

Semenjak balon itu terpasang, akhirnya aku tahu bagaimana rasanya kontraksi. Benar, ternyata seperti nyeri haid. Tapi di tahap ini (pembukaan 1-5), alhamdulillaah aku masih kuat menahan. Agak sedikit merasa terganggu, tapi jadi teralihkan karena aku mengobrol seru dengan Zeno, dan Bidan Dian, yang hari itu menjalankan tugasnya sebagai doula-ku. Itu pertama kalinya aku bertemu dia.

Bidan Dian ini lebih tua dari Bidan Fina, tapi masih 1 tahun di bawahku. Dian langsung datang ke RS saat mengetahui aku sudah masuk Kamar Bersalin. Aku diajak berlatih di Gym Ball, latihan meringankan rasa nyeri kontraksi sekaligus merasangsang proses kontraksi supaya semakin cepat dengan diayun-ayun menggunakan kain Rebozo, ditemani makan yang banyak, jalan-jalan, foto-foto, dan lain-lain. Dia juga membantu menghitung kontraksi, dan menenangkan aku dengan menjelaskan bahwa ritme kontraksi yang kualami bagus, dan prosesnya akan mudah dan baik-baik aja, in syaa-allaah.

Bunda juga sempat menemani di Kamar Bersalin. Bunda juga suka dengan Dian, dan beliau kelihatan tenang mempercayakan aku untuk ditunggui oleh Zeno dan Dian aja.

Gym Ball, untuk memperlancar kontraksi dan turunnya bayi ke jalan lahir.

Malam itu, setelah Bunda kembali beristirahat di ruang rawat inap, aku jadi asyik ngobrol tentang cinta (?) dengan Zeno dan Dian. Aku dan Zeno ditanya-tanya oleh Dian tentang tips hubungan kami yang bisa se...manis itu, hahaha (karena Dian melihat sendiri secara langsung bagaimana kami bersikap ke satu sama lain, apalagi di momentum romantis menyambut persalinan kan, makanya Dian sampai bertanya begitu), dan Dian juga jadi curhat-curhat tentang kehidupan asmaranya! Hahaha. Pokoknya malam itu kami ngobrol seru panjang lebar dan langsung merasa dekat. Alhamdulillaah.

Well, aku akui, kalau kalian melihat sendiri, Dian memang nggak tampak “profesional” banget, dalam artian formal dan sebagainya. Dia juga pembawaannya lebih santai dan terbuka. Bayanganku awalnya, dia akan seperti Fina yang formal dan nampak malu-malu, ternyata nggak.

Saat itu dia memang bersikap seperti anggota keluarga, karena kami khawatir pihak RSMKB nggak berkenan dengan adanya Doula (iya, aku nggak bilang ke Dok Santi). Jujur, tadinya aku berekspektasi ditemani Doula yang lebih formal, tapi akhirnya itu nggak penting juga kan, karena Dian benar-benar menemani aku dengan caranya sendiri, dan membuat aku merasa proses kontraksi juga jadi lebih mudah dijalani. Alhamdulillaah.

Thank you so much Dian, for the time we've shared together ❤
Adakalanya memang rasa kontraksinya membuat  aku nggak nyaman, yang sampai rasanya nggak cukup dialihkan dengan mengobrol. Kalau sudah begitu, aku masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu dan meminta Zeno menyiram-nyirami perutku dengan shower air hangat (ini tips dari bestie ku, Nina). Rasanya jadi lumayan sih, terdistraksi. Hahahaha. Pokoknya, aku benar-benar berusaha untuk memikirkan, melakukan, dan membicarakan hal-hal yang menyenangkan untuk meminimalisasi rasa sakit, karena dengan terus aktif seperti itu justru jadi baik banget untuk memproduksi hormon endorfin.

“Endorfin adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituari dan sistem saraf pusat manusia. Hormon endorfin adalah pembunuh rasa sakit alami yang dihasilkan oleh otak, hormon ini juga dapat menimbulkan rasa senang atau euforia. Meningkatnya jumlah hormon endorfin akan mengurangi efek buruk dari stres dan rasa sakit, melepaskan hormon seksual, menambah nafsu makan, dan meningkatkan respons kekebalan tubuh”. — alodokter.com

Ini ada beberapa cara untuk meningkatkan produksi Hormon Endorfin. KLIK DI SINI untuk lebih lengkapnya. Bocorannya: ada poin yang menyarankan untuk "bergosip". Itu maksudnya bukan ghibah keburukan orang lain, tapi "ngobrol tentang manusia (yang baik-baik aja dan bermanfaat ya...)". Seperti yang aku, Zeno, dan Dian lakukan, curhat tentang kehidupan asmara. Benar-benar membantu mengurangi rasa sakit!

Ini lewat tengah malam, aku sudah pembukaan 6, tapi masih jalan-jalan di sekitar Kamar Bersalin dan foto-foto, hehe. Too happy parents-to-be ❤

Aku juga nggak lupa untuk mengobrol mesra dengan si bayi di dalam perutku... supaya dia tahu kalau aku dan Daddy-nya sudah menanti-nantinya, dan dia juga jadi selalu semangat dan kuat berjuang untuk keluar melihat dunia πŸ’™πŸ’™πŸ’™

***

AKHIRNYA MULAS KONTRAKSI BARU BENAR-BENAR TERASA

Memasuki pukul 1 dini hari saat aku pun mulai mencoba untuk tidur di ranjang setelah mengobrol sana-sini dan berjalan-jalan di sekitaran RS, aku merasa kalau mulas kontraksinya sudah mulai memasuki taraf semakin mengusik kenyamanan.
sugesti positif terussss... cr: HERE
Aku meminta suster bidan untuk memeriksa pembukaanku dengan cara “periksa dalam” — memasukkan jari ke dalam “sana” untuk mengukur kelebaran pembukaan, dan lain-lain (karena biarpun Dian juga bidan, dia nggak berkapasitas melakukan tindakan medis semacam itu saat berperan sebagai Doula).

Saat diperiksa, ternyata masih tetap pembukaan 6. Tapi, suster bidan yang bertugas jaga di malam itu jadi semakin sering datang ke ruanganku untuk memeriksa keadaanku dan melakukan pemantauan dengan CTG. Sampai di sini pun, alhamdulillaah jantung dan pergerakan bayi masih bagus, sedangkan ritme kontraksinya sudah semakin jelas dan intens.

Karena memang sudah dini hari, Dian dan Zeno juga sudah mengantuk, dan mereka jadi ketiduran, sedangkan aku mulai ingin ada yang dipeluk dan dipegang-pegang untuk membantuku meredam rasa sakit.


Dian memang bilang, kapan pun aku butuh dia, kalau dia sampai ketiduran, bangunkan aja. Tapi aku nggak mau membangunkan Dian yang saat itu ketiduran di sofa, aku tahu kalau sebelum dia datang ke tempatku, dia juga baru selesai mendampingi ibu hamil lain-nya sebagai bidan. Dia cuma mandi, bersih-bersih dan siap-siap sebentar aja dan langsung lanjut menemui aku. Aku kasihan, karena aku mengerti dia juga butuh istirahat, dan tentunya, sebenarnya yang mau aku peluk ya Zeno, sih. Hahaha.

Akhirnya, aku minta Zeno pindah dari matras di bawah untuk tidur duduk disampingku di ranjang, sambil aku terus memegangi tangannya, berusaha tidur di antara kontraksi. Tiap kontraksi datang, aku terbangun, setelah kontraksi selesai, kadang aku tertidur lagi (nggak selalu, tapi beberapa kali seperti itu). Bisa begitu ya... padahal jeda antar kontraksi cuma 10-15 menitan.

Waktu dulu mendengar bidan yang mengajari senam hamil bilang, nanti saat persalinan sebisa mungkin kami diminta mencoba mengusahakan tidur di antara kontraksi, aku merasa... “hah? masa iya sih aku akan bisa begitu?”. Ternyata... benar-benar bisa πŸ˜‚. It was so unlike me, karena aku bukan tipe orang yang mudah tertidur. Bahkan termasuk yang sangat susah. Tapi, itu benar-benar terjadi. Well... salah satu rahmat Allah untuk para ibu hamil... hihi.

Let us feel safe in your arms, Daddy-to-be πŸ’—
Akhirnya waktu demi waktu berlalu sambil menjalani kontraksi yang datang dan pergi. Saat kontraksi terjadi dan aku terbangun, aku berusaha untuk banyak berdoa dan berdzikir. Hanya itu memang yang bisa kulakukan, kan?

Zeno benar-benar seperti terlalu lelah untuk bisa memaksakan membuka mata, jadi aku pun nggak mengobrol dengannya. Well, maklum lah. Dari semenjak dia tiba di Indonesia, dia nggak pernah benar-benar istirahat sampai saat itu. Sedangkan, dia juga perlu tenaga untuk membantuku mengejan nanti, dan menyambut anaknya yang akan lahir, in syaa-allaah :’)

Kemudian dalam kesendirianku terjaga itu, aku teringat, itu adalah dini hari 25 Ramadhan. Aku bertanya-tanya, apakah jangan-jangan malam "Lailatul Qadr" tahun itu jatuh di malam 25? Bisa saja, kan. Aku benar-benar berharap demikian, karena malam itu aku sedang berjuang melakukan ibadah yang memang menjadi fitrahku sebagai seorang wanita dan istri, mempertaruhkan jiwa raga, antara hidup dan mati. Kalau memang iya, semoga pahala perjuangan itu berlipat-lipat untukku bagai melakukannya selama lebih dari 1000 bulan. Amin ya Allah.

Aku jadi meneteskan air mata terharu, sendiri. Dalam diam, aku berdoa memohon segala keberkahan untuk anak kami itu, dan untuk keluarga kami di hari-hari ke depannya. In syaa-allaah. Aku memohon ridha Allah untuk semua yang kulalui ini. Aku ingin menjadi istri dan ibu yang baik, yang shalihah.
cr: HERE


 ***

DETIK-DETIK PER SALINAN, DETIK-DETIK KEBAHAGIAAN

Mendekati subuh, sekitar pukul 4 mungkin, aku ditawari untuk mandi oleh Bidan jaga, supaya segar saat mengejan nanti, katanya. Sesungguhnya aku malas banget, hahaha. Kenapa juga aku disarankan mandi subuh-subuh begitu, saat tubuh sudah berasa nggak nyaman dan nggak tahu enaknya di-bagaimana-kan. Apa mungkin karena kalau habis melahirkan malah sulit untuk mandi ya, atau bagaimana.

Mereka bilang, aku akan di-periksa dalam lagi untuk cek perkembangan pembukaannya nanti, pukul 7 pagi. Akhirnya aku setuju, dan aku dituntun ke kamar mandi untuk dibantu mandi oleh Zeno.

cr: HERE
Tiba-tiba saat mulai mandi... aku merasakan sakit yang membuatku seperti nggak kuat lagi untuk berdiri ataupun duduk. Badanku seperti benar-benar tiba-tiba memaksa aku untuk MENGEJAN. Aku jadi agak cemas, karena akhirnya aku merasakan yang namanya "rasa benar-benar mau mengejan" yang selama ini kudengar bisa terjadi di saat pembukaan sudah semakin besar, tapi nggak bisa “dituruti” kalau belum memasuki pembukaan 10 cm.

Aku ragu, antara takut kalau ternyata belum waktunya mengejan tapi terdorong baaaangggeeettt oleh tuntutan tubuh untuk mengejan, atau memang ternyata, pembukaanku memang cepat banget, dan tahu-tahu sudah langsung masuk 10 cm, dan jangan-jangan kalau aku sampai mengejan sedikit aja anakku bisa langsung keluar (di kamar mandi atau di lantai kamar?!) kan takut!!! Aku langsung cepat-cepat meminta Zeno untuk segera memakaikan aku handuk dan membantuku pakai baju.

Aku keluar kamar mandi sambil merintih kesakitan dalam keadaan belum benar-benar tuntas berpakaian. Dian yang sudah bangun, terkejut dan langsung memanggil bidan jaga, karena ini rasanya benar-benar darurat. Tadinya aku nggak terlihat sesakit itu. Setelah benar-benar selesai berpakaian, dengan tubuh gemetaran, aku langsung buru-buru naik ke ranjang. Bunda pun sudah datang ke Kamar Bersalin.

Akhirnya aku diperiksa dalam lagi lebih awal dari rencana (pukul 7 pagi) menjadi sekitar pukul 4:30 pagi, karena rasa kesakitanku itu. Ternyata masih pembukaan 7 cm. Lumayan lama juga ya jarak dari pembukaan 5 - 6 - 7 cm. Alhamdulillah-nya rasa sakit yang agak menuntut memang baru mulai dari pembukaan 6 cm itu, dan masih bisa dibawa tidur di sela-sela kontraksi.


Semenjak memasuki fase pembukaan 7 cm itu, si Bidan Jaga nggak meninggalkan aku lagi. Dan semenjak itu pula, kontraksiku sudah yang... haduh... bagaimana ya menggambarkannya? benar-benar seakan ada busur panah di dalam tubuhku yang ditarik ke arah dada, dan siap meluncurkan anak panahnya keluar tubuhku lewat bawah. Serius! Seperti yang.... pokoknya seperti ada kekuatan yang luar biasa dari dalam tubuh yang menuntut banget untuk membuatku mengejan dan melepaskan sesuatu O_o😱😱😱😱

Ya... rasanya sakit, menahannya. Tapi sakitnya bagimana ya. Ya gereget gitu sih, lebih seperti, awkward, membuat aku jadi serba salah nggak tahu harus bagaimana buat susah payah menahan si “panah” ini, hahahahah. Tapi benar deh, kalau saat sedang nggak ada kontraksi, ya rasanya tuh benar-benar biasa aja, kaya nggak ada apa-apa, gitu.

DAAAANNN.... di sini, biarpun aku kesakitan, aku benar-benar berusaha menjaga emosiku. Aku berusaha nggak menangis, dan nggak marah. Aku mencoba untuk konsentrasi, mengingat semua materi yang sudah kupelajari. Aku terus-terus mengulang di kepalaku:

“Ingat... nggak boleh mengejan kalau belum pembukaan 10... nanti katanya ada kemungkinan mulut rahim bisa bengkak dan memperlama persalinan... katanya nanti ada kemungkinan kepala bayi “kejepit” di jalan lahir.... ingat... jangan mellow, jangan emosi, nanti malah hormon-hormon pelancar persalinan dan pengurang rasa sakitnya nggak terproduksi dengan baik... ingat... jangan sampai emosi negatifnya sampai ke si bayi yang lagi berjuang keluar...”


Dengan mengingat-ingat itu semua, aku jadi nggak tega banget membayangkan si bayi yang juga sedang berjuang. Aku jadi makin semangat untuk fokus mengatur napas dan menahan dorongan tubuh untuk mengejan, melemaskan rahang (karena katanya kalau rahang rileks, yang di bawah pun rileks!) serta berusaha bercanda-canda dengan mereka yang menungguku, juga makan coklat, kurma, dan madu disela-sela kontraksi.

Sebenarnya, beberapa kali tubuhku kelepasan sendiri untuk mengejan, dan itu berbarengan dengan keluarnya cairan yang banyak, yang tadinya kukira aku nggak sengaja buang air kecil saking kuatnya mengejan yang kelepasan itu. Tapi sepertinya, itulah yang namanya pecah ketuban. Tapi Bidan Jaga seperti nampak tenang aja, nggak berusaha memberitahuku itu apa yang keluar, dan nggak ada juga yang membahas setelahnya tentang kapan ketubanku pecah, jadi kusimpulkan berarti ya memang yang itu.

Dan saat itu, karena aku merasa kelepasan mengejan, aku secara refleks beberapa kali minta maaf ke Bidan Jaga itu, karena sungguh, saat air ketuban itu mau keluar, rasanya memang nggak tertahan sama sekali, benar-benar seperti langsung terlepas begitu aja “panah” yang kudeskripsikan tadi.

Kenapa aku minta maaf? karena aku takut kalau melakukan itu salah, dan bisa membahayakan. Tapi kata bidan-nya, cuma segitu aja nggak apa-apa kok. Mungkin itu karena memang berbarengan dengan pecah ketuban juga sih ya, jadi dimaklumi (?). Setelahnya, aku pun memberi afirmasi ke diri sendiri untuk harus lebih baik lagi menahannya.

cr: HERE

Bukan cuma nggak sengaja mengejan, aku juga tanpa sadar mengeluarkan suara melenguh (seperti mendesah panjang “aaaaaa~~~,” yang aneh gitu) saat pecah ketuban itu, dan aku juga minta maaf sama siapapun yang ada di situ (suster-suster bidan lain sudah mulai berdatangan mempersiapkan alat-alat persalinan) karena aku malu, merasa suaraku nggak merdu sama sekali untuk didengar πŸ˜‚. Aku bilang “Sus... maaf yaa... suara aku jelek banget ya? Aku nggak sengaja... 😰” Mereka tertawa aja dan bilang “gapapa... gapapa...”. Justru mereka heran, orang sudah sebentar lagi melahirkan, masih aja peduli minta maaf untuk hal-hal yang begitu. Hihihi. 

Jujur, aku benar-benar ingin semuanya merasakan kalau aku berusaha enjoy. Aku ingin semua juga jadi tenang.

Aku ingat bahwa ritme-ku saat itu cukup menarik: tiap kontraksi mulai, aku berjuang sekuat tenaga untuk fokus mempraktekkan teknik pernafasan supaya nggak mengejan, dan tiap kontraksi berhenti, aku berusaha merayu-rayu Bidan Jaga untuk memeriksa pembukaanku. “Sus bidan... cek lagi plis... udah 10 cm kali tuh sus?? Udah 10 kaaan?? Yah? Yah? Yah???” begitu kataku. Bidannya cekikikan aja.

Tapi saat itu, sungguh, aku sudah nggak peduli kalau tangan si bidan masuk-masuk untuk periksa dalam. Aku hanya mau cepat dapat kabar bahwa pembukaanku sudah sempurna, tinggal mengejan. Hahaha. Alhamdulillah, pembukaanku ternyata cukup cepat dari 7 ke 8, ke 9 cm, tinggal menunggu yang ke-10 segera terjadi.

cr: HERE

Di momen-momen itu, lama-lama rasanya aku jadi nggak ingin disentuh. Zeno, Bunda, dan Doula Dian yang tadinya membelai-belai dan berusaha menyamankan aku, tahu-tahu kuminta untuk “pleeease, jangan sentuh dulu, dan jangan ajak aku ngomong dulu”. Aku memberi kode kepada mereka dengan gerakan mengibas-ngibaskan satu tangan untuk meminta mereka mundur menjauh dari ranjang, lalu jari telunjuk tangan lainnya di bibir untuk "shhhh" gitu, tentunya dengan ekspresi wajah yang lucu dan seakan memohon dengan manja gitu, jadi mereka justru tertawa melihatku begitu. Mereka langsung “Oopss!! Oke, oke, oke, sip, sip!” πŸ€£.

Kenapa sih kok seperti itu? Itu karena tiba-tiba aku merasa over-stimulated. Saat aku sedang sekuat tenaga konsentrasi mengatur nafas dan melawan dorongan gila untuk mengejan, dibelai-belai sambil diajak bicara begitu malah membuatku jadi susah konsentrasi. Rasanya aku benar-benar cuma ingin berpegangan dengan si Sus Bidan Jaga yang duduk di sampingku, seakan manusia yang aku butuh saat itu ya cuma dia, untuk membantu aku dengan memberi instruksi pengaturan nafas, dan memeriksa pembukaanku.

Lalu, Sus Bidan Jaga ini berkali-kali tiba-tiba memuji aku. "Ibu cantik... lagi kontraksi gini aja cantik.." atau "Ibu putih banget sih.." atau "Ibu lucu deh...". Sumpah, sejujurnya aku terharu campur GR saat itu, hahaha. Pembawaan dia yang tenang, cenderung pendiam, justru membuat pujian-pujian yang tiba-tiba keluar itu terdengar begitu tulus, apalagi lengkap dengan tatapan dan senyuman yang lembut. Duh, pintar banget ya Sus Bidan ini membuat ibu-ibu semangat menyambut persalinan πŸ˜‚

Sebenarnya, sebelumnya aku sempat bilang ke Zeno, Bunda, dan Doula Dian, "ayo, kalau mau bantu aku, ayo ikutan gerakan tarik-napas-buang-napas bareng aku, ayo, bantu aku konsentrasi, sini yuk!". Tapi kata Sus Bidan jaga, jangan, karena mereka akan “menyedot” banyak oksigen di sekitarku, yang justru aku perlukan banget saat itu. Ya sudah kalau begitu, aku minta mereka agak menjauh aja deh sekalian, hahaha

maaf nggak tahu lagi mau nyelipin foto apa di paragraf ini. Hahahaha.

Akhirnya, tiba lagi saat pemeriksaan dalam. Setelah dari tadi aku harap-harap cemas menunggu kata “sepuluh” terdengar, Sus Bidan nggak berkata apa-apa, dia hanya mengangguk kecil ke arah temannya yang ada di seberang ruangan, dan serta merta, aku melihat lampu sorot (?), meja-meja alat, dan yang lainnya sudah didorong ke dekat ranjangku. Aku langsung jadi excited sendiri, "Sus bidan?! Udah 10?! Aku boleh ngeden sekarang?!!!" Si Bidan hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti.

Aku buru-buru minta dibantu memakai pashmina untuk jadi kerudungku, karena aku memang berharap supaya prosesi persalinanku diabadikan dengan kamera oleh Dian. Dia langsung mengambil posisi di pojok kanan atasku dengan kamera kami di tangannya. Zeno juga langsung beranjak mendekati ranjang dan memegang tangan kiriku. Dan... Bunda?

Bunda ternyata lari ke pojokan ruangan. Ternyata beliau nggak berani menyaksikan... πŸ˜… tapi sebelumnya, saat sebelum aku meminta beliau dan yang lainnya untuk menjauhi ranjang, Alhamdulillaah aku sempat mengucapkan kata-kata maaf ke beliau... dan sebagai responnya, beliau membelai-belai aku dengan nada manja dan sayang, dengan cara yang rasanya sudah belasan tahun aku nggak dengar, karena nada bicaranya seperti nada bicara ke anak kecil yang sedang dia gemasin banget: “Iyaaa cayaang... dimaafin kok... nggak minta maaf juga udah dimaafin....πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™” , sambil mengusap-usap rambutku. Ahhhh... :’)

Baby... get ready... it's our time to shine...
Kembali ke situasi pembukaan 10. Setelah memakai pashmina sebagai kerudung seadanya, sesaat kemudian, Dokter Santi masuk ke ruangan. Rasanya aku bahagia banget melihat beliau. Sebenarnya aku nggak menyangka beliau sudah tiba di RS. Aku spontan menyapa si dokter dengan ceria "HALO DOK! AKHIRNYA KITA KETEMU JUGA DI SINI!!!" Dan si Dokter pun menjawab dengan nggak kalah ceria, "Halo Ibu! Iyaa kita ketemu yaaa akhirnya di sini!" Suster dan yang lainnya kelihatan terkejut dengan antusiasme-ku, hahaha.

Lalu, posisi ranjangku pun mulai diatur sedemikian rupa untuk memudahkan posisi-mengejan-standar-Rumah-Sakit. Seperti yang kubilang, aku sebelumnya sudah bertanya apakah boleh memilih posisi melahirkan yang senyamanku aja—seperti yang justru dianjurkan dalam praktik Gentle Birth—tapi Dok Santi bilang nggak bisa, karena standar prosedur RS-nya ya sudah seperti itu. Yang posisi berbaring agak setengah duduk telentang lalu mengangkang dan mengejan. Katanya itu lebih memudahkan tenaga medisnya untuk membantu persalinannya. Hnggg... ya sudahlah.

Akhirnya, kontraksi pembukaan 10 yang dinanti-nanti itu datang. Saat dimana aku memang diharapkan untuk mengejan.

Sesaat setelah Dok Santi bilang “Ayo bu!” aku refleks berseru: "Ayooo Archiiieee!!!" (?)
Aku pun mengejan dengan segala rasa yang sudah tertahan sedari tadi. Dengan sungguh-sungguh.

Sepanjang proses mengejan, Zeno selalu menyemangatiku, menciumiku, dan wajahnya penuh kebahagiaan. 
Iya. Tadi itu aku menyemangati bayi kami, yang sudah punya nama panggilan “Archie”, untuk berjuang bersamaku demi keluar melihat dunia. Sebegitu spontannya!!! Sebegitu menggebunya perasaan semangatku untuk berjumpa dengannya, dan untuk melegakan semua rasa yang kualami selama ini, tentunya. Dokter Santi dan para bidan jadi tertawa mendengarnya, tapi mereka buru-buru mengingatkanku untuk konsentrasi pengaturan nafas dan mengerahkan energiku untuk mengejan.

Ternyata, biarpun sudah belajar dan berniat banget supaya nggak memejamkan mata saat mengejan, tanpa disadari mataku memejam juga saat itu. Tapi sepertinya memejamnya nggak yang terlalu intens sih, karena sering diingatkan untuk fokus melihat ke perut bawah.

Dan juga tanpa kusangka, rasanya sungguh jauh lebih berat menahan sensasi saat pembukaan sudah semakin melebar dan dorongan untuk mengejan begitu kuat, dibandingkan ketika akhirnya HARUS berusaha mengeluarkan sesosok tubuh bayi, dari lubang yang sebelumnya selalu dibayangkan: "masa iya muat?!". Maasyaa-allaah, tabaarakallaah...

Selalu mencoba senyum, mencoba tetap positif walau aku sendiri hampir nggak bisa lagi merasakan sensasi tubuhku dari saking campur baur semuanya...

Saat sedang nggak ada kontraksi, aku bisa tenang tarik nafas lagi, senyum lagi, seakan nggak ada apa-apa, sampai akhirnya di menit berikutnya Dokter memberi aba-aba lagi untuk mengejan. Aku langsung mengerahkan segala tenagaku lagi demi membantu mengantarkan Archie ke dunia ini.

Aku tahu, praktisi Gentle Birth seharusnya bisa membantuku agar nggak mengejan berlebihan, dan hanya bermain pengaturan nafas saja untuk mengeluarkan bayi. Tapi, aku nggak menyesali yang telah terjadi. Mengejan itu MEMUASKAN banget, setelah sekian lama dari tadi harus menahannya πŸ˜…

Lalu... akhirnya, setelah kurang lebih 3 kali mengejan... “zleb!!!” Archie akhirnya terlahir ke dunia, alhamdulillaah. Aku benar-benar merasakan pelepasan yang begitu melegakan, dan saat itu, mulutku spontan melepaskan dzikir yang cukup lantang, sepersekian detik setelah keluarnya anakku:


Sejujurnya, aku nggak tahu kenapa kalimat itu yang keluar begitu aja. Benar-benar spontan, nggak pernah kurencanakan sama sekali. Aku selalu merasa kalimat itu indah, dan memang kalau diresapi maknanya... yaaaaa memang betul, saat itu aku merasa...

Cukuplah bagiku Allah yang menjadi penolong dan sebaik-baiknya tempat bersandar :’) Ketika orang bilang persalinan itu merupakan momen antara hidup dan mati, Allah malah membimbing aku supaya nggak memikirkan hal-hal semacam itu, dan dipenuhilah hatiku dengan perasaan bahagia, yakin, dan optimis.

Allah memudahkan perjalanan kontraksiku, Allah membantu memberi kesabaran dan keringanan, lalu Allah melancarkan keluarnya anakku dari rahimku.

Ya Allaaahh... aku benar-benar yang... hhhhh :’) Allah benar-benar maha segalanya. Bahwa meminta kepadaNya dan yakin padaNya (dan hanya padaNya)  adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan sebagai manusia, sebagai hambaNya... dan aku benar-benar berkali-kali merasakan betapa, betapa, betapaaaaa Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Jadi rasanya hatiku benar-benar syahdu saat zikir itu keluar begitu aja dari mulutku. Like, I really meant it, dengan rasa pasrah dan terima kasih yang begitu mendalam. Hhhh... alhamdulillah :’) πŸ’•πŸ’•❤πŸ’•❤πŸ’•

Begitulah cerita hadirnya si Bayi yang bernama Zayden A.Z atau biasa dipanggil Archie, Zayden The Archie, di hari Selasa, 20 Juni 2017 / 25 Ramadhan 1438, tepat Pukul 07:00 pagi πŸ€—πŸ’•πŸ˜πŸ˜­πŸ’™



PS: Dian bilang, aku keren banget. Katanya, selama jadi bidan, baru pertama kali dia melihat ibu melahirkan dengan semangat yang seperti itu. Itu juga yang kudengar dari para suster bidan di rumah sakit itu. Alhamdulillah, with Him, everything's possible :')

***

SETELAH SI BAYI TERLAHIR

Setelah Archie terlahir, ia langsung diletakkan di atas dadaku untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Aku sudah merasa “aaahhhh legaaa~~~” gitu, tapi juga masih kaku dan susah bergerak, karena di bawah sana, aku sedang dijahit oleh Dok Santi.



Sebenarnya, aku benar-benar nggak sadar, nggak merasa, dan nggak tahu apa yang terjadi di bawah sana, tapi berhari-hari setelah semuanya sudah berlalu, Zeno baru membahas kalau perenium ku digunting oleh Dok Santi (bisa-bisanya aku nggak sadar yaaaa...) Perasaan aku hanya disuruh mengejan, dan selesai.

Ya sudah, kalau melihat dari aspek tersebut (intervensi medis yang nggak terhindarkan semacam itu), mungkin bisa dikatakan bahwa proses persalinanku nggak terlalu “gentle” untukku (karena sesungguhnya praktisi Gentle Birth biasanya lebih sabar dan membiarkan elastisitas perenium dan teknik pernapasan yang menjadi faktor kuat dalam proses keluarnya sang bayi, tanpa ada gunting menggunting atau mengejan yang berlebihan), tapi aku sudah sangat bersyukur.

Bagiku, itu semua sudah lebih dari cukup. Hati, pikiran, jiwa ragaku, in syaa-allaah had GENTLY welcomed our precious baby to the world... and that’s what mattered the most to me. Aku berharap segala emosi positif itu tersampaikan padanya.

Kembali ke saat IMD. Aku agak-agak nge-blank, dan hanya senyam-senyum aja ke Zeno yang juga senyam-senyum haru dan bangga ke aku. Aku mau melihat wajah Archie, tapi susah, karena dia di atas dadaku, meringkuk-ringkuk kebingungan sambil menangis-nangis gemas.

Sumpah, saat itu aku nggak ingat SAMA SEKALI kalau aku seharusnya bisa menstimulasi Archie untuk belajar menyusu, karena aku masih overwhelmed dengan segala rasa, sibuk mengatur napas, dan ngobrol-ngobrol kecil dengan Zeno, Bunda dan Dian untuk merelaksasi diri. Archie pun, saat ia sudah tenang dan berenti menangis, seperti lebih memilih untuk “nemplok” santai aja. Kami seperti sama-sama sangat lelah, tapi bahagia, hahaha.


Setelah lewat berhari-hari, aku baru sadar kalau saat itu aku nggak coba menyusui. Aku sempat merasa sedih dan merasa “berarti aku gagal IMD????”, tapi ternyata setelah banyak membaca-baca referensi, ada juga kok yang mengatakan kalau seperti itu pun sudah disebut IMD. Karena nggak cuma “menghisap / mencoba menghisap susu” nya yang penting, tapi kondisi psikologis si bayi, yang jadi jauh lebih baik karena diletakkan di atas dada ibu, sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan bayi ke depannya. Hmm... baiklah.

Setelah 1 jam berbaring di atas tubuhku, Archie diambil untuk menjalani prosedur bayi baru lahir, dibersihkan, dibuatkan cap kaki, lalu dibawa ke ruang observasi dan diperiksa selama kurang lebih 6 jam. Aku pun dipindah ke ruang rawat. Zeno langsung tertidur pulas duluan dibanding aku di sofa bed ruang rawat. Aku masih merasakan kontraksi dari nifas, tapi Alhamdulillah semuanya normal, nggak ada pendarahan. Aku mulai berkabar dengan orang-orang terdekat perihal kelahiran Archie.

Saat itu, aku nggak memikirkan atau khawatir bagaimana nantinya kalau Archie sudah datang dari ruang observasi, dan minta menyusu. Benar-benar serasa masih banyak waktu nanti-nanti untuk berpikir tentang itu. Aku hanya ingin berbaring aja, istirahat, dan melihat aja nanti kalau dia datang, akan bagaimana. Akhirnya, aku pun tertidur.

Dan Zeno jadi keluarga pertamanya yang menggendongnya di dunia ini... :') Dia lebih dulu bisa menggendong bayi daripada aku, tapi aku langsung bisa juga dong setelahnya, hehehe πŸ’—

***

TERIMA KASIH, KALIAN SEMUA...

Ya Allah....
Kisah ini akhirnya selesai juga kutulis. 2 Tahun, dengan banyak maju mundur, hapus, edit, tambah, kurang, salin, tempel, akhirnya dipublikasikan juga. Aku nggak mau bilang aku bisa menulis lanjutannya, seperti hari-hari pertama jadi orang tua, dan sebagainya. Aku nggak membayangkan aku bisa sanggup mengalokasikan waktu dan fokus untuk merangkai itu semua lagi. Tapi, siapa yang tahu? Kalau memang tiba-tiba hatiku tergerak, dan kurasa ada manfaatnya, hahahah.

That being said, semoga ada satu dua hal yang bisa menjadi manfaat untuk kalian yang sebegitu baiknya menyempatkan membaca kisah ini sampai di sini. Aku tahu, aku tahu, ini terlalu panjang. Tapi, ya... begitulah. Aku ingin memyimpan detail-detail penting dan nggak penting yang kuingat, supaya suatu saat aku bisa mengenangnya kembali dan bersyukur atas segalanya. Semoga kalian juga senang membacanya, dan bisa merasakan energi positif dari setiap kata yang kutulis di sini.

Until my next post,
Assalaamu ‘alaykum. Jaa ne.

4 comments

  1. Alhamdulillah, udah 2 tahun ternyata. Alhamdulillah akunya bisa ada di situ & alhamdulillah semuanya lancar. Terharu2 senang gitu pas baca tulisannya. It is another beautiful experience for us to remember. I love you both so much. 😘😘😘😍😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe Alhamdulillaah ya dapat komen langka dari suami πŸ₯°πŸ˜πŸ˜˜.
      Terima kasih banyak buat segalanya ya sayang. Untuk membuat aku merasa dihargai dan didengarkan harapannya, dan untuk percaya sama aku dan bersepakat dengan cara berjuang ini sama aku. We love you too Daddy...

      Delete
  2. Assalamu'alaykum warahmatullah:) selamat atas kelahiran putra pertama, dan juga selamat krn sdh menjawab kuis dg benar, lengkap dg judul bukunya:) Maa syaa Allah, shg sy berikan double voucher ya, masing2 senilai Rp 50.000, silahkan ditukar utk pembelian apa saja dr produk buku dr penerbit Learning Roots. Barakallaahu fiikum:D

    ReplyDelete
  3. siang ini lg baca2 pregnancy e-book dan baca klo disuruh belajar persiapan kelahiran dan googling2 nemu blog ini, dan merasa sangat dikuatkan, memang selama kehamilan ini ak berdoa supaya kuat menjalani hari2 selama masa kehamilan dan bener2 belum punya bayangan mau lahiran normal or C-section tp abis baca blog ini, I know what we (as mother to be) will face through labor day.
    terima kasih banyak sharingnya, banyak ilmu dan nasihat2 yg sangat baik bwt myself and my baby, sangat suka dengan hal2 positif yg ditanamkan di pikiran dan batin sejak persiapan persalinan. Semoga sehat selalu bun, salam bwt nak Archie dan suami. Selalu harmonis dan dalam lindungan Allah SWT

    ReplyDelete

Hi ✨ It is lovely to hear back from you. If you want to say something, PLEASE, kindly write them down on your note app first before you post them here. Sometimes some errors occur, and your comments may disappear without being published. Thank you for your time and consideration ✨