✨ Everyday is a self-development journey. My views about things that I write here may change from time to time as I grow and refine my values. Kindly check the date of any posts you read here. Thank you.✨

Tentang Ramadhan & Idul Fitri

Hi, Assalaamu ‘Alaykum.
Selamat Idul Fitri 1440 H (5 Juni 2019). Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum. Semoga Allah menerima segala amalan baik dari kami dan kalian selama Ramadhan ini πŸ’™


Rasanya, Ramadhan tahun ini berjalan cepat banget. Sebenarnya secara umum, waktu bagiku memang terasa cepat banget berlalu sih, tapi, khususnya Ramadhan, biasanya “wajar” kan kalau terasa nggak secepat bulan-bulan lainnya, karena umat islam diwajibkan puasa setiap hari berturut-turut selama sebulan, lengkap dengan berbagai sunnah seperti tarawih, i’tikaf, dan lain-lain.

Tapinya yang kurasa saat ini nggak begitu. Sungguh, rasanya bulan Ramadhan tahun ini cepat banget berlalu. Tahu-tahu sekarang sudah Syawal. Apa mungkin karena...

dengan izin Allah, tahun ini aku dan Zeno semakin menghayati makna Ramadhan, atau bagaimana, ya pokoknya rasanya sebulan benar-benar terasa cepat.


RAMADHAN 1440 H (2019)

Alhamdulillaah, sepertinya sedikit banyak In Shaaallaah sudah ada beberapa hal dari diriku yang menjadi lebih baik, begitu juga dengan Zeno, dalam rentang setahun semenjak Ramadhan tahun lalu. Itu pun jadi berpengaruh terhadap bagaimana kami menjalani Ramadhan tahun ini. Tanpa perlu kujelaskan seperti apa, aku bersyukur dengan izin Allah kami bisa menjalani Ramadhan ini dengan cukup lancar. Tentu secara spiritual kami belum puas dan nggak boleh berpuas diri, tapi jadi ada optimisme dan harapan besar supaya setiap tahun, kalau kami masih diizinkan bertemu Ramadhan, kami selalu bisa menjadi lebih baik lagi. Ramadhan memang selalu bisa menjadi momen yang tepat untuk mengukur dan mengevaluasi diri. Aku menjadikan diriku yang sebelumnya sebagai pengukurannya, dan itu terasa lebih realistis, dengan Rosuulullaah ο·Ί sebagai panutan utamanya, tentunya. Jujur, pasti masih jauh bangeeettt lah aku ini dibanding apa yang dicontohkan Rosuulullaah ο·Ί dan sudah diikuti oleh para istri dan sahabatnya... tapi memangnya siapa lagi yang mau berusaha dicontoh, kan, kalau bukan beliau. Walau tentu aja, prosesnya seperti apa tetap secara unik kembali ke masing-masing orang. Well, to me, every process matters, and I honestly see this life as a spiritual process. Jadi aku menilai perkembangan hidupku dari bagaimana perkembanganku secara spiritual. Untuk yang lain-lainnya dalam hidup, sejujurnya aku nggak terlalu ambisius, hahaha.

pic credit: made it myself using a license-free image from google and a common ramadan prayer quote (not exclusively mine, but is also my prayer).

Hal lainnya yang aku senang dari Ramadhan tahun ini adalah, aku dan Zeno konsisten menerapkan healthy eating. Sahur makanan sehat, dan buka puasa pun nggak kalap yang harus makan ini itu semuanya. Ini pertama kalinya berat badanku justru terjaga banget saat Ramadhan. Dan badanku juga terasa lebih segar dan fit. Pastinya, kami nggak craving yang aneh-aneh atau merasa harus nahan-nahan. Rasanya ya satisfying aja.

Terus, selama sebulan juga alhamdulillaah kami nggak pernah ketinggalan sahur!!! Kadang Zayden ikut bangun sahur, kadang juga tidur lelap aja sampai pagi. Untuk aku sebagai istri yang memang bertanggung jawab urusan perdapuran dan persahuran dan per-banguninsuami-an (πŸ˜‚) ini adalah suatu prestasi yang cukup memuaskan (?) diriku sendiri hahahahah. Terutama karena aku juga sering tidur telat lewat pukul 12 malam, karena biasanya aku baru mengerjakan hal-hal pribadi kalau suami dan anak sudah tidur. Well, sebenarnya bukan karena aku punya self-control yang bagus untuk manajemen bangun dan tidur. Alhamdulillaah aja Allah bantu bangunin terus saat alarm bunyi. Ya... tapi ya... aku merasa puas (?) wkwkwk.

But, oh yeah... Ramadhan tahun ini sudah berlalu :’)

Aku jadinya merasa campur aduk terhadap datangnya Hari Raya Idul Fitri ini. Ya, tentunya senang, alhamdulillaah, sudah melalui Ramadhan dan berusaha menjalani dengan baik, In Shaaallaah. Tapi, jadi ada rasa sedih juga.

Aku merasa seperti ini mungkin karena kini benar-benar sudah terserap di dalam hatiku bahwa Ramadhan bukan hanya tentang bagaimana kita harus bertahan puasa setiap hari selama 1 bulan penuh. Ramadhan itu bulan penuh CINTA dari Allah. 1 bulan yang penuh dengan banyak KESEMPATAN BESAR dari Allah. Kalian tahu kan, perasaan takut kehilangan kesempatan, atau nggak bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin, dan nggak akan pernah bisa memilikinya lagi? Itu yang aku maksud! Yang kupahami, di bulan Ramadhan Allah menjanjikan banyak doa yang dikabulkan, dosa yang diampuni, nasib yang berubah menjadi lebih baik, dan lebih banyak lagi berkah yang diberikan. Aku jadinya seperti ada dalam mode: “Duh jangan sampai kehilangan kesempatan ini!!!”. Memang ada beberapa bulan lainnya yang baik juga, tapi Ramadhan punya begitu banyak kesempatan luar biasa dalam satu bulan penuh, dan juga, nggak pernah ada jaminan bahwa kita masih bisa bernafas untuk hari esok, jadi kesempatan di setiap harinya ya berharga banget!
 .
Yang membuat Ramadhan lebih baik lagi adalah, karena di bulan ini syaithan dirantai, sehingga jadi terasa lebih mudah bagi kita untuk melakukan perbuatan baik, dibandingkan di bulan-bulan lainnya.  Ya, itu berarti di bulan-bulan lain iman kita bisa menjadi agak lebih lemah — atau kita harus berjuang lebih keras untuk menjaga agar iman kita tetap stabil.
 .
Dan sekarang aku hanya berharap aku dan orang-orang yang kusayangi, dan tentu kita semua, masih bisa hidup untuk Ramadhan lain di tahun-tahun ke depan, dan bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi setiap tahun. Aaamiiin.

pic credit: made it myself using a license-free image from google, and my own quote.

—REKAP MEMORI RAMADHAN BEBERAPA TAHUN KE BELAKANG—

RAMADHAN 1435 / 2014:
Ramadhan pertamaku di HK, sebagai seorang istri. Dan... sebagai wanita hamil. Saat itu aku dan Zeno belum berencana punya anak, tapi qaddarallaah, aku diberikan kesempatan untuk hamil, walau akhirnya saat usia kandungan 1 bulan, aku mengalami pendarahan parah, melalui proses medis yang melelahkan jiwa, dan untuk akhirnya benar-benar kehilangan, di usia kandungan (seharusnya) 2 bulan. Saat itu bundaku datang ke HK untuk membantu merawat aku, dan akhirnya kami menjalani Ramadhan dan idul fitri bersama di HK.

RAMADHAN 1436 / 2015:
Ini adalah Ramadhan pertamaku dengan kondisi kesehatan yang SANGAT PRIMA, setelah sebelumnya menjalani sebuah operasi di Malaysia pada hari ulang tahunku di tahun itu (2 Juni). Mungkin puasa belum pernah semudah itu di tahun-tahun sebelum operasi. Setelah operasi, aku nggak kembali ke HK, tapi tetap tinggal di rumah bundaku di Bekasi. Lalu saat pertengahan Ramadhan, Zeno pulang ke Indonesia, dan bersama, kami terbang ke Sulawesi dan menjalani sisa Ramadhan dan Idul Fitri di sana. Ayah mertuaku sakit-sakitan dan dirawat di RS di sana, membuat suasana jadi cukup haru dan kelabu bagi keluarga.
Di tahun itu, aku masih menikmati my happy-go-lucky persona. I was cheerful outside, confused inside. Seperti masih mencari-cari apa yang mau aku lakukan di dunia ini, apa tujuan hidupku, dan apa sebenarnya esensi kehidupan yang aku jalani.

RAMADHAN 1437 / 2016:
Ini mungkin bisa jadi salah satu Ramadhan yang paling berkesan dalam hidupku (dan juga Zeno), karena saat itu kami diperkenankan oleh Allah untuk mendapatkan jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan kami tentang kehidupan; tentang Allah dan Rosuulullaah ο·Ί . Memang saat itu belum begitu mendalam, tapi itulah justru permulaan yang sangat baik. Ramadhan tahun itu juga, aku dan Zeno ada di fase di mana kami benar-benar siap lahir batin untuk punya anak dan mulai fokus berusaha (secara alami tanpa program-program tertentu) dan berdoa supaya Allah segera karuniakan keturunan. Alhamdulillaah, 2.5 bulan setelah Idul Fitri, aku hamil. Ramadhan dan Eid tahun itu kami pulang dari HK dan berlibur di Sulawesi.

pic credit: unknown, but took it from the stated account, and edited the font colour to be pink ☺


RAMADHAN 1438 / 2017:
Aku sedang hamil besar dan menanti persalinan, di rumah Bunda di Bekasi. Dari awal kehamilan aku dan Zeno memang kebetulan sedang tinggal di Indonesia. Saat usia kandungan 7 bulan, Zeno baru kembali ke HK, dan kembali lagi ke Indonesia saat menjelang persalinan. Aku nggak puasa di sebulan itu karena fokus menaikkan berat badan bayi dan juga pemenuhan nutrisi untuk energi persalinan yang bisa terjadi kapan aja. Zayden akhirnya lahir di tanggal 25 Ramadhan 1438, jam 7 pagi, setelah sepanjang malam ganjil itu aku menjalankan proses pembukaan demi pembukaan sambil mendoakan keberkahan untuk keluarga kami. Kami merayakan Idul Fitri di Bekasi. Ini Ramadhan & Eid pertama bagi keluarga Zeno tanpa ayahnya, karena beliau meninggal bulan Januari tahun itu. Di tahun itu, aku sudah bertekad untuk lebih fokus dalam menjalani kehidupan spiritual semenjak kami menemukan "jawaban" itu di Ramadhan 2016 lalu.

RAMADHAN 1439 / 2018:
Alhamdulillaah, mulai puasa normal lagi, saat masih menyusui Zayden di usia 11 bulan, dan kami sudah kembali tinggal di HK. Sejujurnya Ramadhan ini cukup terasa syahdu, karena kami benar-benar menjalaninya “sesuai yang kami harapkan”. Tidak ada hingar bingar yang nggak sesuai harapan di hari Ramadhan yang seharusnya tenang. Banyak mendengarkan dan melalukan yang benar-benar esensial untuk Ramadhan aja. Yang kurang, pastinya, adalah suara adzan masjid dan keberadaan masjid itu sendiri untuk pergi solat berjamaah, terutama untuk laki-laki, Zeno. Kami kembali merayakan Idul Fitri di HK.
***

Dari menulis rekap di atas, aku juga jadi makin menyadari bahwa progress itu benar-benar ada, mudah-mudahan, dengan izin Allah. Allah itu yang Maha Membolak-balikkan Hati, jadi, terkadang ketika aku merasa nggak puas dengan pencapaianku, aku sering berdoa semacam: “Ya Allah, aku mungkin tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa jadi lebih baik lagi, tapi aku benar-benar mau, maka tuntunlah, bimbinglah, dan mudahkanlah, karena tidak ada yang sulit bagiMu”, karena aku memang sering merasa nggak cukup, not-as-good, dan lain sebagainya, sampai aku bingung sendiri aku harus mulai dari mana untuk bisa jadi lebih baik. Tapi memang selama ini Allah benar-benar menunjukkan caranya ke aku, hanya aja mungkin aku bukan yang bisa benar-benar dengan sangat cepat mengikuti langkah-langkahnya. Aku berusaha untuk nggak mengecilkan diriku sendiri karena aku punya kecenderungan melalukan itu, dan itu bisa justru menghabiskan energi yang seharusnya bisa kupakai untuk bertumbuh. Aku memilih untuk berusaha menghargai tiap prosesnya, dan mengantisipasi segala kemungkinan perubahan baik di kedepannya. Aaamiiiin.

Pic Credit: Here
Well... Begitulah kisah Ramadhan tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya. Walau Ramadhan telah berlalu, kita masih punya Syawal!  Kita masih bisa puasa syawal 6 hari untuk dapat pahala yang besar. Juga ada Dzulhijjah, dan bulan-bulan besar lainnya yang akan datang. Semoga kita bisa selalu menjaga hati kita supaya selalu positif dan bersemangat dalam menyambut tawaran dan janji-janji besar dari Allah ❤πŸ’—✨

No comments

Hi ✨ It is lovely to hear back from you. If you want to say something, PLEASE, kindly write them down on your note app first before you post them here. Sometimes some errors occur, and your comments may disappear without being published. Thank you for your time and consideration ✨