✨ Everyday is a self-development journey. My views about things that I write here may change from time to time as I grow and refine my values. Kindly check the date of any posts you read here. Thank you.✨

Berdamai Dengan Aerophobia (Phobia Naik Pesawat Terbang)

Assalaamu ‘alaykum, Konnichiwa.

Orang-orang yang kenal dekat denganku, TAHU BANGET aku punya phobia naik pesawat terbang (dan sejujurnya, dengan wahana-wahana menantang di tempat wisata yang berhubungan dengan ketinggian juga).


Yang nggak terlalu dekat denganku, biasanya kaget saat tahu aku punya phobia...
dengan moda transportasi tersebut. Karena, aku kan dari kecil hidup di Bekasi - Jakarta, tapi punya darah Sulawesi Selatan, dan sudah berkali-kali selama hidup naik pesawat terbang dan (atau kadang kapal laut) kan kalau mau berkunjung ke kampung halamannya keluarga. Ditambah lagi, suamiku, Zeno, itu asli orang sana, lahir dan tumbuh besar di sana. Lalu, setelah menikah pun tinggalnya di Hong Kong, bertahun-tahun, sudah pasti naik pesawat terbang kan untuk perjalanan Jakarta - HK dan sebaliknya. Makin-makin membuat orang kadang nggak percaya.

***

TENTANG PHOBIA: RASA TAKUT, CEMAS & GELISAH YANG TIDAK BIASA.

Ya, itu faktanya. Aku punya Phobia. Yang sejujurnya sudah sekian tahun aku berusaha mengatasinya, karena aku juga merasa nggak bahagia memilikinya. Seperti apa sih tepatnya? Ya, itu. ANXIETY. Rasa gelisah yang luar biasa, rasa nggak tentram, rasa sesak, panik, nggak aman, dan itu tampak dari kondisi fisikku, setiap kali aku akan dan apalagi sudah berada di dalam pesawat terbang.

Kalau dibilang TAKUT, ya memang iya. Dan aku rasa, aku nggak sendirian dalam hal ini. Pasti banyak juga deh yang takut, seperti aku. Tapi kalau ditanya, APA yang ditakutkan, beberapa hal mulai jadi ribet untuk dijelaskan.

Takut mati? Iya. Tapi kenapa takut mati? Karena merasa belum siap untuk membawa bekal amal menuju kehidupan selanjutnya, itu yang utama. Kehidupan akhirat itu jauh lebih berbahaya dan pedih bagi orang-orang yang tidak / kurang mempersiapkan diri, sudah begitu, kekal pula, nggak akan ada habisnya dan nggak ada lagi tempat berlari. Seram. Lalu, aku takut juga meninggalkan orang-orang tersayang yang membutuhkan aku. Orang tua, dan sekarang suami & anakku. Membayangkan bagaimana kehidupan mereka sepeninggalku.

Aku juga takut mengalami kecelakaan parah walau nggak sampai jadi mati juga. Karena, pasti proses yang dijalani menyakitkan dan menyeramkan banget, belum lagi kalau peristiwa itu menyisakan bekas, baik cacat fisik maupun trauma mental yang mendalam. Maksudku, bayangkan, tiba-tiba pesawat terbangnya oleng terombang-ambing, pilot dan pramugari mulai menginstruksikan kita untuk memakai pelampung untuk bersiap terjun ke air karena pesawat kemungkinan akan meledak, lalu, benar-benar terjun ke air tapi sudah terlanjur terkena serpihan ledakan sehingga luka-luka, lalu mengambang antara hidup dan mati di atas air laut yang dingin, lalu entah apakah masih bisa bersama dengan orang-orang tersayang atau terpisah, lalu akhirnya selamat dan hidup, tapi banyak yang “hilang” dari diri ini, baik fungsi anggota tubuh, atau bahkan orang-orang tercinta yang saat itu berada di pesawat terbang yang sama....

GGRRRRRR STOPPPPPP!!!!!

Tersiksa nggak sih aku memikirkan hal itu? IYA, tersiksa. Itu menghalangiku untuk pergi ke berbagai tempat yang aku inginkan. Membuatku selalu merasa susah hati, cemas, dada sesak, pusing, mual, gemetaran, keringat dingin, mulas-mulas seperti selalu ingin poop (dan benar-benar bisa berkali-kali di pesawat 😰), susah berpikir dan linglung, setiap kali HARUS melakukan suatu perjalanan yang nggak terhindarkan. Aku juga susah diajak bicara, bahkan bisa marah atau menangis. Jadinya kebayang kan bagaimana susahnya aku kalau membawa bayi / balita. Bawa diri sendiri aja susah.

Itu sebabnya kalau aku ke Indonesia, aku nggak balik-balik ke HK biasanya kalau belum 1 tahun. Aku harus mempersiapkan hatiku untuk satu penerbangan aja yaaa perlu dari berbulan-bulan sebelumnya. Waktu ke HK setelah Archie lahir, usianya baru 7 bulan. Aku langsung panik karena phobia ini kan. Bunda dan Zeno yang membantu aku menangani Archie—yang setengah perjalanan tenang dalam keadaan bangun dan juga tidur, sisanya menangis. Tapi Archie maunya sama aku. Jadilah aku menggendong dan menyusui dia sambil nelangsa. Huhuhuhu...

Begitupun sekalinya sudah di HK, biasanya aku nggak cuma sebentar lalu kembali ke Indonesia.  Aku butuh mengistirahatkan mentalku.

Saat mempersiapkan kembali ke Indonesia yang terbaru ini (sekarang aku sudah di Indonesia sejak Juli 2019) aku perlu waktu banyak banget untuk persiapan mental, karena Archie sudah 2 tahun! Nggak tahu bakal seperti apa di pesawat, dan aku nggak mau dia menyerap emosi negatif dan phobia ku dan jadi ikut-ikut juga! Aku nggak mau dia menderita seperti aku, makanya aku ingin berjuang untuk “sembuh”.

Itu lah yang membedakan antara orang yang cuma takut-takut biasa, dan memang sudah masuk kategori Phobia. Secara fisik aku benar-benar menunjukkan dampak dari rasa panik dan cemasku. Bahkan, dari satu bulan sebelum penerbangan, biasanya neurodermatitis-ku kambuh. Memang gangguan kecemasan, stres dan rasa tertekan bisa memicu rasa gatal yang berhubungan dengan neurodermatitis.

Bisa dikatakan Phobia-ku masuk ke kategori Phobia kompleks, karena sebenarnya berhubungan dengan rasa cemas karena faktor-faktor lainnya, nggak semata-mata sekedar tentang “Pesawat Terbang”.

TAPI AKU BISA BILANG, SAAT INI AKU SUDAH JAUH LEBIH BAIK DARI SEBELUMNYA, ALHAMDULILLAAH. DAN AKU SEDANG TERUS TERUS BERUSAHA UNTUK MENCARI CARA SUPAYA BAGAIMANA AKU BISA MERASA SEMAKIN BAIK LAGI.
Di bawah ini akan aku ceritakan bagaimana aku berusaha “sembuh” demi perjalanan kembali ke Indonesia Juli 2019 lalu bersama Zeno dan Archie yang sudah 2 tahun.

***

USAHA UNTUK MEMBANTU DIRI MENGHADAPI PHOBIA NAIK PESAWAT TERBANG

Berbagai hal sudah kulakukan, meskipun nggak sampai membayar tenaga profesional (belum kesampaian aja, siapa tahu suatu saat nanti, wallaaahu a’lam) di antaranya:

🌸 Bertanya / mengobrol dengan orang yang sudah biasa travelling naik pesawat dan menikmati perjalanannya. Biasanya aku tanya, apa yang dia rasa saat di pesawat? Apa tips nya agar bisa tenang, dan sebagainya. TAPI, biasanya jawaban mereka itu sederhana dan terdengar mudah, tapi kok ya susah diterapkan ke diriku. Seperti ada hal yang masih belum bisa “klik” ke sanubariku atau ke akal pikiranku untuk bisa membuatku merasa seperti yang mereka rasa.

Misal: “Ya gue sih nggak mikirin mati. Lebih ke enjoy aja lihatin awan di luar. Atau mikirin perjalanan gue pas udah sampai nanti di tujuan”.
atau “Kalau mati ya mati aja, kan di manapun bisa, nggak cuma di pesawat. Kalau gue mati ya udah, ngapain juga dipikirin, belum tentu kejadian”.
atau “Gue biasanya ketiduran di pesawat, tahu-tahu ngantuk banget, jadi ya nggak sempet kepikiran yang aneh-aneh”.

Aku menyadari, dari sini aja memang sudah ada perbedaan pola pikir / sudut pandang. Contoh, orang yang berpikir bahwa mati ya tinggal mati aja mau gimana lagi — aku susah menerima itu, karena aku cenderung berpikir: “dia udah pede ya sama amal ibadahnya?” ya aku juga selalu berpikir begitu tentang kematian DI MANAPUN, bukan cuma di pesawat. Jadi memang sejujurnya saat mau tidur pun aku kadang sering merasa susah dan ketakutan sendiri, memikirkan nasib setelah kematian. Merasa belum siap, dan lain sebagainya.

Jadi “masalah sebenarnya” yang pertama adalah, rasa takutku akan mati itu sendiri dan kehidupan setelah kematian, serta membayangkan nasib keluargaku sepeninggalku. Aku sudah tahu satu hal yang harus aku “benahi” nih kan.

Yang kedua, aku nggak bisa sama sekali tidur di pesawat!!! Biarpun aku memutuskan untuk packing semalaman nggak tidur supaya besoknya benar-benar capek jiwa raga dan bisa tertidur di pesawat... No. Tetap aja nggak bisa. “Masalah kedua” ku adalah, aku merasa harus terus “berjaga”, nggak bisa “lengah”, siapa tahu sesuatu terjadi, aku bisa jadi yang pertama sadar. Intinya adalah, aku seakan curiga kapan aja bisa terjadi sesuatu yang buruk di atas pesawat. Tapi kalau yang ini lebih khusus, memang terjadinya di pesawat aja. Kalau di bus, di rumah, gitu-gitu, kan tetap bisa tidur. Di motor aja bisa. Padahal kan bahaya apalagi maut ya bisa terjadi di mana aja ya. Jadi ini memang masalahnya adalah tentang “pesawat”.

Kira-kira kenapa sih kok cuma pesawat? Kalau penjelasan sederhanaku, karena pesawat itu kecil dan di tengah-tengah langit dan sebagian besar waktu di atas laut, sehingga ada kesan “terperangkap” gitu. Kaya yang nggak bisa inisiatif apa-apa kalau terjadi kenapa-kenapa. Cuma bisa ngikut, diam pakai sabuk pengaman entah pesawatnya gerak kemana terjun kemana 😩, atau... “you jump, I jump”. Alias, adegan loncat bareng-bareng ke laut yang selalu kubayangkan πŸ˜₯.

TAPI SERIUS DEH, aku pun menyadari ini semua adalah masalah pola pikir. aku PERCAYA kalau ada hal yang aku belum paham benar atau belum meresap benar ke dalam sanubariku walau aku sudah tahu dari lama, sehingga ini membuatku jadi berpikir seperti ini.

Aku harus mencari tahu jalanku sendiri. Caraku sendiri. Yang sesuai dengan nilai-nilai prinsipku dan kepribadianku.

Enak ya nak pules tidur... :') Mommy belum bisa nih bobo di pesawat... hehehe
***

Akhirnya, kesimpulan ini mengarahkanku melakukan hal-hal selanjutnya:

🌸 Hipnoterapi. Tapi saat itu aku tinggal di Hong Kong, dan aku nggak berminat mencari ahli untuk didatangi di sana, karena aku berharap bertemu psikiater / pakar hipnoterapi yang seiman, dan selatar belakang budaya (Indonesia). Setidaknya, beliau akan lebih mengerti situasiku dan sudut pandangku, dan memberiku nasihat / sugesti dengan nilai-nilai yang sesuai dengan hidupku, kan. Aku juga nggak langsung buru-buru membeli buku audio hipnotis. Aku coba cari yang gratis dulu di youtube. Ada? Ada. Aku coba mendengarkannya beberapa saat. Tapi kok ya.... malah jadi curiga dan deg-degan ya. Rata-rata audio hipnoterapi itu jenisnya: kalau bukan sugesti yang diberikan praktisinya, dengan latar belakang musik di belakangnya, ya audio bunyi jangkrik, hujan, air atau suara alam lainnya, dan suara praktisinya NGGAK KEDENGARAN.

Sejujurnya, aku nggak suka pakai yang ada suara orangnya dan ada musik di latar belakangnya. Somehow, dengar musik gitu hati aku nggak tenang dan justru malah merasa nggak aman. Batinku menolak di-relaksasi dengan musik. Begitu lah intinya. Jadinya, pilihanku lebih ke hipnoterapi yang menggunakan suara-suara alam gitu. Tapi... ya... suara orang yang hipnotisnya nggak kedengaran.

Lah kalau nggak kedengaran, bagaimana hipnotisnya? Hmm, bisa. Namanya SUBLIMINAL HYPNOTHERAPY. Jadinya pesan yang dibawakan praktisinya itu “sublime” gitu. Kaya yang nggak masuk telinga kita tapi tembus langsung ke alam bawah sadar. Jadi audionya itu sudah diatur sedemikian rupa frekuensinya supaya bisa ada gelombang-gelombang suara yang nggak kedengaran di telinga kita tapi sebenarnya “ada” dan langsung tembus alam bawah sadar gitu lah. Biasanya audionya panjang banget berjam-jam, dan disarankan didengar saat mau tidur, supaya pesan-pesannya makin greget tertanam di alam bawah sadar.


Pesan-pesannya yang terkandung di audio itu apa aja, sudah ditulis di layarnya atau di caption / deskripsi videonya. Jadi kita tahu lah ya kita dihipnotis dengan kata-kata apa aja.....................................

ATAU NGGAK? πŸ˜‚

YA NGGAK LAH!!!

Mana kita tahu!!
Latar belakang orang yang hipnotis kita apa aja kita nggak tahu. Ya mana kita tahu kalau dia selipin kata-kata atau sugesti lain yang bisa mencuci otak kita dan naudzubillaah, merusak aqidah kita? Atau kalau istilah orang luar, siapa tau dia memasukkan paham illuminati ke kita perlahan-lahan tapi kita nggak sadar? πŸ˜‚ ya bisa kan. Bisa banget. Ya mungkin kalau Sound Engineer bisa kali ya mengotak-atik dan mendengar pesan di dalamnya? Kalau aku sih belum bisa.

Nggak maksud nuduh, tapi intinya, ini balik ke kepribadian aku:  “aku nggak tenang kalau berurusan dengan sesuatu yang aku nggak tahu gimana sistemnya dan nggak benar-benar bisa aku lihat & dengar secara terang-terangan. Aku nggak suka pasrah begitu aja sama orang yang nggak aku kenal”.

Akhirnya Hipnoterapi ini ku-skip juga lah. Bukannya rileks yang ada malah tambah cemas.

***

🌸 Langkah selanjutnya, aku belajar lebih banyak lagi tentang aviasi (lewat youtube juga, hahaha). Konten yang aku tonton itu biasanya dari akun Mentour Pilot (bule) dan kapten Vincent Raditya (pilot Indonesia). Sejujurnya aku tuh takut banget ya buat memulai menonton konten semacam ini. Aku membayangkan duluan kalau aku hanya akan tambah takut setelah melihat video-video itu. Tapi akhirnya aku paksain. Dan ternyata... ketagihan! Jadi nontonin terus, dan jadi dapat banyak pelajaran yang menurutku berguna banget untuk perlahan-lahan memperbaiki pola pikir.

Tahu kan tadi aku bilang, aku merasa nggak nyaman berurusan dengan sesuatu yang aku nggak benar-benar paham bagaimana sistemnya? Ya ini membantu banget buatku. Knowledge is Power! Dengan mengetahui hal-hal yang perlu / bisa kuketahui dari ahlinya, aku jadi semakin “terbekali” oleh informasi tersebut, dan jadi nggak terlalu banyak berasumsi sendiri dan ketakutan sendiri. Jadi lebih “oh ternyata begitu. Oh ternyata begini. Oh ini tuh normal ya, wajar. Oh harusnya aku nggak usah begitu toh.” Gitu lah.

Ini akun youtube-nya Capt. Vincent & Mentour Pilot. Silahkan dicek kalau belum kenalan, hehehe.

Jadi menurutku, langkah yang ketiga ini yang paling membantu lah di antara tiga itu. Kalian yang punya masalah sepertiku sudah mencoba ini juga? Bagaimana rasanya?

Kalau menurutku, ya masih kurang.

***

WADUH KURANG APA LAGI SIH SHER????

Hmm, gini. Aku mencoba semua hal yang di atas itu adalah dalam bentuk IKHTIYAR duniawi. Maksudku, ya aku melakukan sesuatu yang bisa diusahakan secara duniawi, untuk mengiringi doa yang selalu dipanjatkan, pastinya. Bagiku nggak bisa doa aja tanpa usaha KALAU masih bisa usaha, atau sebaliknya, usaha-usaha doang tapi nggak doa atau nggak ada pendekatan diri sama Allah yang maha menentukan segalanya. Nggak bisa....

Nah, doaku, semoga diangkat rasa nggak nyaman ini, gelisah ini, semoga dimudahkan untuk bepergian, karena perjalananku ((biasanya)) memang untuk ikut suami atau keluarga, bukan perjalanan senang-senang biasa. Benar-benar perjalanan yang mengharap ridho-Nya gitu lah. Dan aku juga punya harapan untuk pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah (yang durasi pesawatnya itu dengarnya aja sudah bikin aku lemas huhu) jadi aku berharap banget untuk dimudahkan. Karena, sumpah nggak enak banget loh gelisah di pesawat itu. Otot dan urat tegang terus. Keringat dingin. Linglung. Jantung dag-dig-dug terus. Perut mulas terus seakan mau poop + muntah, dan tidur pun nggak bisa. Menderitaaaa huhuhu.

Aku juga berdoa supaya yang mengerikan itu nggak pernah terjadi. Intinya, minta keselamatan lahir batin lah. Minta dimatikan dalam keadaan yang tenang dan nggak menyeramkan.

Aku menyadari ada hal yang perlu kuusahakan juga dari segi kerohanian, selain cuma berdoa. Iya, doa juga  usaha sebenarnya sih, hahaha. Tapi, ada usaha lain lagi juga yang perlu dilakukan, sehubungan dengan alasan-alasan kecemasanku. 
Yaitu:

πŸ”₯ Kecemasan karena belum siap menghadapi kehidupan setelah mati: Ini hanya bisa diobati dengan meningkatkan rasa aman lah, pastinya. Caranya? Yaaaa berusaha makin mendekatkan diri sama Allah, memperbaiki ibadah jadi lebih baik lagi, mempelajari berbagai macam hukum Allah lewat Al-Quran dan hadits, dan sebagainya. Ingat, Knowledge Is Power. Semakin kita mengenal dan mengetahui hal-hal tentang Allah, maka semakin hati juga akan tenang. Yaa... gimana ya? Hidup mati kan di tangan Allah, lalu kehidupan setelah mati juga kuasa dan hak nya Allah mau gimanain kita. Terus, jadinya siapa yang perlu didekati supaya makin tenang?

Tapi untuk sampai taraf percaya diri dengan ibadah sendiri, ya nggak lah. Bahkan Rosuulullaah ο·Ί dan para sahabat serta kerabatnya selalu merasa takut dan merasa ibadahnya kurang kok di hadapan Allah.

Tapi ada kuncinya: Kapanpun ada kesempatan berbuat baik, berbuat baiklah yang sesuai syariat. Beribadahlah dengan cara yang sudah Allah tentukan dan Rosuulullaah ο·Ί ajarkan. Jangan karang-karang. Sebisa mungkin kurangi perbuatan dosa walau pun pasti ada aja. Lalu, timpa lagi dengan lebih banyak lagi perbuatan baik dan ibadah, karena perbuatan baik bisa menggugurkan dosa.

Oke, ini sebenarnya pekerjaan seumur hidup ya. Nggak bisa berpuas diri. Harus dilakukan selalu secara berkesinambungan. Kalau kita sudah selalu berusaha terus sebaik mungkin, ya sudah kan tinggal menunggu hasil.

Lanjut.

πŸ”₯ Takut mengalami kecelakaan yang mengerikan atau mati dalam keadaan mengerikan: Kabar baiknya, justru ada hadist shahih (kuat dan benar asal usulnya) dari Rosuulullaah ο·Ί yang justru men-sunnah-kan kita untuk BERDOA SUPAYA TERHINDAR DARI KEMATIAN YANG MENGERIKAN! Iya, benar! Jadi, justru dapat pahala kalau kita berdoa begitu. Justru disuruh, gitu loh?!!! Jadi ya nggak salah dong kalau aku selalu khawatir dan komat-kamit doa seperti itu?

ini doanya ⬇


Ya memang nggak salah. Betul banget malah harus berdoa begitu. Tapi sayangnya selama ini aku masih ada yang kurang, yaitu...


πŸ”₯ Susah berprasangka baik saat di pesawat 😭

Salahnya adalah karena aku saat di pesawat terbang atau memikirkan akan naik pesawat terbang, bisa kaya tiba-tiba lupa sama sifat Allah yang satu ini:

Allah suka dengan orang yang BERPRASANGKA BAIK terhadapNya, dan justru doa yang dipanjatkan dengan prasangka baik punya KEMUNGKINAN DIKABULKAN LEBIH TINGGI, dibanding nggak diiringi dengan prasangka baik.

Selengkapnya bisa klik link INI ya.

Di sini aku langsung merasa tertegur. Dalam hal ini prasangka baik-ku kurang. Setiap kali di pesawat, aku selalu merasa “Aku ini siapa memangnya? Aku banyak dosa. Bisa jadi aku ditakdirkan mati dengan situasi seperti ini.” semacam itu. 😭😭😭

Dan ketika aku menemukan artikel ini, aku langsung menyadari, ada yang salah dengan cara kerja otakku saat aku di pesawat. Aku jadi lupa begitu saja kalau di dalam keadaan apa pun kapan pun, aku seharusnya berprasangka baik kepada Allah yang memiliki sifat Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Melindungi, Maha Pengampun, dan Maha Mendengar Doa.

Karena sebenarnya, dalam situasi normal justru bisa dikatakan alhamdulilaah aku sangat berusaha positif menyikapi takdir Allah yang belum dan yang sudah terjadi. Tapi ketika berhubungan dengan pesawat, otakku langsung nggak nyambung. Seharusnya aku camkan itu selalu saat di pesawat, bukan hanya ingat bahwa Allah Maha Kuasa sembari membiarkan diriku dikuasai rasa takut sehingga sedikit berputus asa dengan kualitas diriku sebagai hamba, padahal Allah Maha Penyayang dan Pengampun.

selengkapnya di SINI

Jadi tuh, di pesawat aku minta Allah menyelamatkan aku, melindungi aku, tapi di dalam hati paling dalam aku ada berpikir seakan-akan aku pantas “diberi pelajaran” dengan mengalami musibah di situ. Yeah, aku tahu, beginilah masalah phobia. Panik, gelisah, nggak bisa berpikir jernih, bahkan bisa cenderung putus asa.

Setelah diingatkan kembali saat baca artikel itu, aku langsung istighfar karena merasa ZONK banget. Ya Allaah kok iya ya. Ternyata benar, aku nggak menyadari kalau pola pikirku langsung berubah begitu karena terganggu phobia, tiap naik pesawat.

Sehingga di sini aku merasa, seharusnya kalau aku bisa lebih AWARE alias sadar sama kemungkinan bahwa aku akan berpikir seperti itu lagi saat di pesawat, aku jadi lebih bisa punya kontrol terhadap perasaan aku. Aku harus ingat kalau rasa putus asa itu datang dari gangguan phobia, dari syaitan juga, yang selalu mau pikiranku menyimpang dari apa yang Allah mau. Allah maunya aku berdoa dengan OPTIMIS, dengan kepercayaan penuh bahwa Allah menyayangiku, akan mengampuni dosa-dosaku, dan seandainya yang terjadi di luar apa yang kupanjatkan, itu adalah yang TERBAIK untukku.

selengkapnya di SINI
YHAAAA AKU NYESS BANGET SAMA AYAT INI HUHUHU 😭😭😭😭😭😭

Nah... permasalahan selanjutnya, dan yang terakhir yang bisa aku investigasi dari diriku sejauh ini (wallaahu a'lam kalau sebenarnya masih ada yang lainnya yang menjadi penyebab dari phobia ini...)

πŸ”₯ AKU NGGAK TAU CARANYA PASRAH DI PESAWAT 😭😭😭 — dan ini yang sebenarnya rada fatal dan jadi momok terbesar buat aku. Aku tahu sih caranya pasrah, tahu. Tapi biasanya itu untuk sesuatu yang LEBIH BESAR, seperti misalnya, desain kehidupan yang Allah kasih. Misal, aku sudah usaha maksimal sana sini tentang sesuatu, ya sudah ke depannya pasrah aja kan Allah tentuin hasilnya, toh aku juga sudah nggak bisa ngelakuin apa-apa lagi tentang hal tersebut.

Lah Sher?! SAMA AJA KAN BERARTI sama di Pesawat juga?! Lah IYA! SAMA! πŸ˜‚

Aku jadi tergerak untuk belajar ulang tentang praktek TAWAKKAL: Tawakkal itu sering dibahasa indonesiakan sebagai pasrah terhadap ketentuan Allah & menyerahkan segala urusan pada Allah. Tapi prakteknya sendiri seperti apa sih???

Hahaha memang gampang bilang “tawakkal sama Allah”, tapi jalaninnya lain cerita. Hahahha.

Ustadz Firanda Andirja punya satu judul kajian sendiri yang khusus membahas tentang tawakkal. Intinya, yang aku ingat adalah:

“Tawakkal itu dimulai dengan usaha dulu saat masih bisa usaha. Nah, ketika sudah tidak bisa lagi usaha, lupakan semua usaha itu di belakang dan serahkan pada Allah sisanya. Tidak perlu diingat-ingat lagi semua usaha itu seakan-akan usaha itu yang menjadi faktor penentu keberhasilan sesuatu. Usaha-usaha kita itu hanya “sebab” yang kita buat, tapi tetap Allah yang menentukan apa usaha itu akan membuahkan hasil yang kita inginkan atau tidak.”

KLIK GAMBAR DI ATAS UNTUK MELIHAT VIDEONYA!

Contohnya, kalau sebelum ujian, kita sudah berusaha sepenuh jiwa raga untuk belajar, kemudian tiba saat hari H ujian, ya sudah, lupakan semua usaha yang kemarin-kemarin. Nggak perlu lagi dipikirkan “kemarin kan aku sudah belajar ini dan ini. Pasti bisa lah. Waduh gawat, belajarnya masih kurang ni. Pasti gagal nih”. Kalau berpikir begitu namanya masih kurang tawakkal-nya. Kan bisa saja Allah mudahkan menjawab ujian padahal belum belajar, bisa juga Allah jadikan kita lupa semua yang sudah kita pelajari. Sering kan kejadian seperti itu saat ujian? Atau dalam hal lain di kehidupan ini. πŸ˜‚

Tapi intinya, semua usaha (“sebab”) baik yang dilakukan dengan niat tulus ikhlas demi mendapat ridho Allah, kalaupun nggak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, In Shaaallaah akan ada hikmahnya. Akan ada jawabannya, entah di lain hari di dunia, atau nanti berganti jadi pahala di akhirat.

selengkapnya di SINI

HUBUNGANNYA DENGAN PESAWAT APA?!
YA INI! Aku kan sudah usaha ini itu ya. Sebegitunya demi kesehatan mental lebih baik saat naik pesawat. Di sini aku dapat pelajaran, bahwa cara PASRAH itu ya seperti itu. Benar-benar nggak diingat lagi apa yang diusahakan kemarin.

Kadang aku sering merasa, seharusnya sudah pasrah tapi masih aja parno karena mikirin: “Ini pesawatnya aman nggak sih? Ini kaptennya siapa? Mesin sudah oke semua? Cuaca gimana sih cuaca?” Dan lain-lain.

Yaaa kan memilih pesawatnya apa, tanggal dan jam-nya kapan, mempersiapkan mental, semuanya kan adalah bentuk USAHA. Bentuk SEBAB yang kita buat untuk terjadinya sesuatu di kemudian hari. Tapi nggak satupun dari sebab itu yang menjadi faktor kepastian akan selamat atau nggak.

Ingat sesumbar orang tentang kapal Titanic? Quote terkenalnya : “Even God Cannot Sink This Ship?”.... atau kalimat-kalimat semacamnya yang intinya mereka takjub banget dengan kecanggihan Titanic sehingga merasa mustahil Titanic tenggelam? Naudzubillaah. Dan... apa yang terjadi? kapalnya tenggelam di pelayaran pertamanya, karena tertabrak gunung es. Iya, nggak ada hubungannya sama mesin dll-nya yang canggih. Sebuah bukti terkenal bahwa sebagus apapun desain dan perencanaan manusia, nggak akan bisa tercapai tujuannya kalau Allah berkehendak lain.

Intinya, itu lah definisi pasrah bertawakkal sama Allah. Menyerahkan segala urusan pada Allah, Berprasangka baik, dan berdoa HANYA pada Allah. Itu saja terus saat semua usaha duniawi (sebab) sudah maksimal dilakukan.


***


MEMPRAKTEKKAN SEGALA YANG KUPELAJARI

Tiba lah saatnya mempraktekkan semua yang kupelajari itu. Di mana kubilang, aku benar-benar merasa JAUH LEBIH BAIK dibandingkan sebelumnya.

Juli 2019 - Agustus 2019. Itu adalah perjalanan kami untuk pulang dari Hong Kong ke Jakarta. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan Jakarta - Makassar, lalu kembali lagi Makassar - Jakarta.

3 Penerbangan sekaligus dalam 1 bulan. BAGIKU INTENS SEKALI YA ALLAH...

TAPI BISA DIKATAKAN AKU MENJALANKANNYA DENGAN... ((CUKUP)) BAIK! ALHAMDULILLAAH 😭😭😭

Berbekal semua usaha dunia yang kulakukan, ditambah dengan mempraktekkan pola pikir berprasangka baik dan pasrah bertawakkal dengan cara yang benar  kepada Allah, segalanya jadi lebih mudah.

🌸 Pertama: Karena sudah belajar sedikit tentang aviasi, jadi lebih percaya diri terhadap sistem kerja pesawat, dan lebih berusaha mengendalikan rasa panik saat terjadi turbulence / goncangan. Langsung teringat, biasanya penyebab turbulence itu ini dan itu, nggak perlu khawatir. Turbulence segini masih jatohnya turbulence ringan, In Shaaallaah bukan masalah. Begitu kira-kira aku mengingatkan diriku.

🌸 Terus aku coba memejamkan mata dan membayangkan kalau aku sedang ada di bus. Di bus itu kan seperti ini bahkan kadang lebih heboh goncangannya, tapi kok aku lebih santai seperti nggak merasa terganggu sama sekali kalau di bus?

Di sini aku menyadari, bahwa sebenarnya nggak masuk akal seorang yang beriman kalau aku membeda-bedakan antara merasa aman naik bus dan naik pesawat. Karena sebenarnya yang sedang membawaku bukan supir, dan bukan besi bergerak yang menaungiku berserta mesin-mesinnya yang kompleks, tapi ALLAH lah yang sedang membawaku.

Bisa selfie kaya gini aja udah peningkatan banget... Aku biasanya banyakan gemetar aja :')

🌸 Allah bersamaku, melindungiku, menjagaku, dimanapun aku berada. Di darat, di laut, di udara, sama saja, Allah yang menjagaku, BUKAN yang lain. Aku berusaha menanamkan dalam pikiranku bahwa sudah sepatutnya aku “melupakan rasa takut” bahwa aku ada di atas langit mengambang-ngambang tanpa punya pilihan untuk kabur kemanapun, bahwa aku disupiri oleh pilot yang aku nggak tahu siapa. Apakah dia hati-hati? Atau gegabah? Apakah dalam kesadaran penuh? Atau jangan-jangan narkobaan? Jeng-jeng! Semuanya nggak penting lagi.

🌸 Karena ketika aku sudah bertekad untuk pasrah tawakkal pada Allah, sudah nggak sepantasnya aku mempertanyakan faktor luar lagi yang sifatnya duniawi. Kalau aku mengaku pasrah tapi masih mempertanyakan hal tersebut, itu namanya BUKAN pasrah. Itu namanya masih berpikir bisa “selamat” atau “celaka” nya “karena” sesuatu yang sifatnya adalah penciptaan, bukan Pencipta. Gini maksudku, kalau Allah mau aku selamat, mesin yang rongsok dan pilot yang sembrono pun akan tetap dijaga sama Allah supaya bisa mengantarku sampai ke tujuan. Begitu.

🌸 Kalau berprasangka buruk sama Allah (“aduh kayaknya bakal kenapa-napa nih!!! Jangan-jangan dari sekian banyak perjalanan pesawat yang aman, gw nih yang kena kecelakaan”), selain memperlambat terkabulnya doa, juga justru menghadirkan murka Allah. Dan ada hadist Rosuulullaah ο·Ί yang bilang jangan mati kecuali berprasangka baik sama Allah seperti yang sudah dikutip di atas. Ini gimana ceritanya kalau lagi ngebayangin hal buruk bakal terjadi, terus benar-benar kejadian dan meninggal? Na’uudzubillaahi min dzaalik πŸ˜–

🌸 Intinya, berpasangka baik lebih mudah! Selain mengurangi stres, aku juga sudah dalam keadaan ingat dan sadar betul kalau itu yang Allah Sang Penentu Segalanya itu sukai dariku. Jadi aku juga lebih percaya diri. Aku berusaha mengontrol kecenderunganku untuk berpikir buruk karena saat ini aku sudah tahu kalau itu disebabkan oleh Phobia-ku (dan syaitan pastinya), dan Awareness ini sungguh membantuku untuk mengontrol emosiku dengan lebih baik. Aku jadi banyak senyum loh kalau ingat “Allah menjagaku dan Allah suka kalau aku yakin itu”!

🌸 Ketika aku nggak nyaman dengan sensasi turbulence, aku juga ikut menggoyang-goyangkan tubuh ke kiri ke kanan atau sekedar menggetar-getarkan kaki. Sehingga yang aku rasakan bukan getaran dari turbulence pesawat yang In Shaaallaah aman-aman aja, tapi dari diriku sendiri. Ini MEMBANTU BANGET sih apalagi kalau lagi di toilet πŸ˜‚ — iya, aku masih tetap mules, mual, dan poop-poop sih.

🌸 Kalau turbulence, lihat muka pramugari. Kalau mereka tenang-tenang aja ya berarti turbulence nya B aja. Kalau mereka panik ya tetap aja kan ada Allah. Ya udah gitu aja.

🌸 INI PENTING!! Ada hadist shohih juga dari Rosuulullaah ﷺ , yang isinya, orang yang meninggal tenggelam (misal setelah pendaratan darurat di laut), itu matinya mendapat pahala SYAHID. Ini haditsnya:

selengkapnya di SINI

bahkan sebagian ulama berpendapat setelah menyimpulkan dari berbagai sumber, bahwa meninggal jatuh dari ketinggian (dari pesawat?) juga bisa dikategorikan mendapat pahala syahid.

selengkapnya di SINI

Tapi Rosuulullaah ο·Ί tetap menganjurkan berdoa minta dihindarkan dari kematian tersebut karena pahala mati syahidnya sendiri ya disebabkan betapa mengerikannya prosesnya, dan bahwa kita bisa tetap minta mati syahid walau di tempat tidur kita sendiri. Jadi jangan berharap mati demikian kalaupun mau mati syahid. Begituuu.

Tapi intinya kan kalau sampai kejadian mati dengan cara itu, dan aku dalam keadaan berpasrah dan berprasangka baik pada Allah... semoga mudah-mudahan aku termasuk orang yang mati syahid. Aaamiin.

Eh tapi maunya syahid di ranjang aja nggak yang kesakitan gitu 😒

selengkapnya di SINI
***

KESIMPULAN

Masih merasa cemas? Panik?
Hmmm. Mungkin masih, sedikit. Atau lebih ke merasa nggak nyaman aja dengan sensasi turbulence, atau dengan pengumuman pesawat yang bunyi terus-terusan untuk memasang seat belt. Ya intinya akar masalahnya masih sama sih dengan yang di atas kujabarkan, atau mungkin ada yang lainnya yang belum kupahami. Tapi aku maklum karena aku melakukan semua ini sendiri (eh maksudnya dengan izin Allah dan pertolongan Allah, pastinya), sehingga aku menghargai proses perkembanganku, biar sedikit.

Ya aku masih mules, mual, kadang juga masih dingin tanganku, masih deg-degan dan masih keluar omongan “sayang... aku takut...” ke Zeno, tapi JAUH LEBIH BANYAK saat di mana aku tenang, aku ngobrol sama Zeno, atau mengasuh Archie juga. Saat di bandara juga aku jauh lebih tenang seakan-akan aku nggak sedang akan menghadapi phobia-ku, alhamdulillaah. Padahal biasanya dari saat sampai di bandara, kepanikanku mulai naik dan terus naik.

Aku berharap aku bisa lebih baik lagi ke depannya dan bisa terus belajar lagi supaya bisa merasa lebih tenang. Untuk saat ini aku masih nggak ingin naik pesawat lagi. Aku masih belum bisa merasa nyaman sepenuhnya dengan ruangan sempit tertutup rapat dan turbulence itu. Semuanya memang butuh proses kan? Mungkin suatu saat aku akan coba bicarakan dengan psikiater, mumpung aku sedang di Indonesia. Siapa tahu ada jalan keluar yang lebih baik lagi dan sesuai dengan kondisiku.

Cita-citaku adalah, bisa lebih fleksibel saat suami dan keluargaku mengajak aku pergi ke suatu tempat. Nggak mengecewakan atau memberatkan mereka dengan jawaban “please... bisa nggak aku nggak usah pergi???” . Aku juga berharap suatu saat bisa datang ke rumah Allah di Tanah Suci dan menikmati perjalananku dengan hati yang tenang, bukan tegang.

Archie sendiri bagaimana? Alhamdulillaah Maa Shaaallaah Tabaarakallaah... DIA SUKA BANGET PESAWAT 😭♥ Kami memang sengaja memperkenalkan dia dengan pesawat dari jauh-jauh hari dan kami kasih lihat video pesawat yang sedang dinaiki penumpang, detail interior pesawat, pesawat lepas landas, mendarat, dan lain-lain. Kami juga belikan mainan pesawat. Dan dia benar-benar enjoy di pesawat, heboh sendiri bilang “Aeroplane!! wowww!! Aeroplane!!!” 😊♥. Aku bersyukur banget dan berharap banget kenangan baik tentang pesawat ini tetap tersimpan di alam bawah sadarnya sampai kapanpun. Aaamiiin.


Terima kasih ya sudah baca tulisanku.
Mungkin akan ada part2 nya suatu saat kalau aku sudah benar-benar “sembuh”? Entahlah.

Semoga bermanfaat untuk kalian juga.

Assalaamu 'alaykum, jaa ne.

1 comment

  1. Sherry, aku ngalamin apa yang kamu alamin. Semua pemikiran yang kamu ceritakan di sini bikin aku kaget, "kok bisa sama mikirnya begitu?". Aku pun termasuk yang males pergi-pergi naik pesawat. Paling setahun sekali aja. Setiap kali mau pergi perasaanku selalu gak enak karena mikirnya yang jelek mulu. Semoga kita bisa ngelewatin masalah ini yaaa. Karena cita2ku sebenarnya adalah jalan2 keliling dunia, tapi gimana caranya kalau naik pesawat aja gak bisa huhuhu :(

    ReplyDelete

Hi ✨ It is lovely to hear back from you. If you want to say something, PLEASE, kindly write them down on your note app first before you post them here. Sometimes some errors occur, and your comments may disappear without being published. Thank you for your time and consideration ✨