✨ Everyday is a self-development journey. My views about things that I write here may change from time to time as I grow and refine my values. Kindly check the date of any posts you read here. Thank you.✨

Pengalaman Menyusui dan Menyapih Anak Pertama (Archie)

Hai, Assalaamu alaikum, Konnichiwa.

Pengalamanku menyusui Archie, kalau disimpulkan dalam satu kalimat singkat adalah: Alhamdulillaah, lancar.” Dan sesuai dengan kalimat itu, satu-satunya yang berhak mendapat kredit atas kelancaran itu... ya, Allah tentunya ♥.

Maa syaallaah, anak Mommy sudah besar :') 2 tahun 2 bulan, di foto ini.

Aku menyusui 2 tahun penuh, dan nggak menggunakan tambahan susu formula lagi (biasanya ada yang bertanya, dicampur / dibantu sufor nggak? Jadi aku hanya menjelaskan aja sesuai yang biasa ditanyakan orang). Archie mulai mengkonsumsi susu sapi segar awalnya hanya untuk menjadi campuran MPASI di sekitar usia 1 tahun ke atas (seperti oatmeal, pancake, dan sebagainya), dan mulai meminumnya di gelas di saat akhir-akhir menyusui, untuk transisi sebelum disapih.

Oiya, Kenapa aku menulis post ini? Nggak ada alasan gimana-gimana sih, hanya sebagai arsip pribadi untuk dikenang lagi dan menjadi penyemangat saat menghadapi fase perjuangan hidup lainnya, suatu saat nanti, aaamiin. Tapi buat kalian yang mampir ke sini, aku berharap pengalaman yang kutulis di sini bisa membawa manfaat, seperti selipan informasi, atau ya paling nggak ada yang bisa membuat kalian tersenyum ๐Ÿ˜Š♥

Terus, aku juga nggak membuka pembahasan ASI vs Susu Formula ya. Singkatnya...
aku pribadi bertekad memberi ASI sebisa aku dulu dan percaya penuh dengan kebaikan ASI seperti yang banyak dicanangkan para tenaga kesehatan. Jadi tolong jangan sampai ada yang menyalahartikan atau menganggap ini adalah sebuah cerita untuk berbangga diri karena berhasil ASI 2 tahun, atau apa. Bagaimana kita berencana mengurus anak kita, itu ikhtiyar kita masing-masing, dengan seizin Allah, dan tetap Allah yang menentukan bagaimana prosesnya. Dan segalanya sudah ada hikmahnya. Kita cuma bisa berencana dan berusaha. begitu saja. Okeeee.

Mulai ya.

***

MENANAMKAN POLA PIKIR TENTANG ASI

Saat usia kehamilanku 38 minggu, Allah memberiku kesempatan untuk belajar pijat laktasi dengan Doula / Pendamping Persalinan yang kusewa jasanya (selengkapnya tentang ini, baca di POST TENTANG PERSALINAN PERTAMAKU ya). Alhamdulillaah, saat itu ASI ku langsung keluar, dan aku benar-benar sebahagia itu dulu, sampai heboh sendiri dan langsung video-call Zeno (suami) yang waktu itu lagi nggak bareng aku, untuk kasih lihat ASI-ku yang menetes-netes. Ya Allaah.... hahaha.

Jujur, soal ASI, aku memang sudah jauh-jauh hari menanamkan mental optimis, tentunya setelah banyak membaca tentang ASI dari berbagai sumber, dan dipertemukan Allah dengan orang-orang baik yang menyemangati. Konsep yang terus-terusan kuulang di kepalaku untuk menguatkan diriku sendiri adalah bahwa pada umumnya, wanita yang punya anak, dengan izin Allah akan bisa menyusui anaknya, dan bahwa keyakinan dari dalam diri serta suasana hati sangat berpengaruh terhadap peningkatan hormon-hormon yang memproduksi ASI tersebut.

Itu kan teorinya ya. Dan yang bilang bahwa prakteknya di lapangan memang benar seperti itu, ya banyak. Namun yang bilang sudah melakukan segala cara tapi qaddarallaah tetap tidak bisa memberi ASI pada anaknya sama sekali / secara maksimal, juga banyak. Sesungguhnya aku juga ingin berusaha untuk menyemangati sesama ibu untuk optimis bisa menyusui dengan penuh perjuangan, tapi kalau memang segala cara sudah dicoba dan tetap nggak bisa, ya itu qaddarallaah. Kita nggak bisa bilang PASTI bisa. Kan semua kehendak Allah, dengan segala hikmahnya. Yang penting ya usaha dulu seeeemaksimal mungkin.

Jadi gimana? Wallaahu a’lam bagaimananya, intinya saat itu aku mencoba lebih fokus ke fakta lapangan yang pertama kusebut itu. Banyak yang membuktikan memang benar demikian: yakin saja dulu, In Syaaallaah ASI nya keluar dengan lancar. Maksudku, aku nggak sempat (dan nggak mau) terbayang hal-hal yang nggak aku inginkan dulu. Atau mungkin pernah, tapi segera tertepis. Seakan memang sugesti diri bahwa “aku bisa” itu benar-benar sudah sangat kuat, Alhamdu Lillaah.

HARI-HARI PERTAMA MENYUSUI

Di hari pertama Archie lahir, aku sudah mulai mencoba menyusui. Sedikit, sedikit, belajar pelekatan sama-sama, bingung sama-sama. Aku ingat betul di saat itu aku justru berusaha tampak tenang, karena aku juga sedang berusaha menjaga ketenangan orang lain di sekitarku (terutama bunda dan tanteku). Maksudku, aku nggak mau kalau mukaku bingung, mereka jadi khawatir, dan aura kekhawatiran itu tertular ke aku dan justru jadi makin menghambat keluarnya ASI. Jadi saat itu aku sok sok pede aja. Hahahaha. ๐Ÿ˜…

Aku dari jauh-jauh hari sudah menyampaikan ke anggota keluarga yang ada di rumah sih, tentang sistem produksi ASI dan sebagainya. Jadi mereka sebenarnya sudah paham, dan sudah sevisi misi. Jadi memang sebenarnya dengan izin Allah nggak terbayang ada skenario terjadinya komentar-komentar nggak jelas dan saran-saran yang nggak diinginkan.

Aku ingat banget waktu aku lihat Archie masih bingung cara menyusu, di dalam hatiku aku bertanya-tanya, “ini udah ada yang masuk belum sih susunya? Mukanya Archie kaya masih bingung”, tapi kalau Bunda atau Tanteku nanya begitu, langsung aku jawab dengan pede “Oh, ada dong. Ada lah... nih udah mulai nih... tuh... tuh...” ๐Ÿคฃ Ya... yang penting optimis dulu lah.

Beberapa jam kemudian, nggak tahunya, ASI-ku.... alhamdulillaah TUMPAH-TUMPAH sampai bajuku basah kuyup terus dari saking nggak berhenti-berhenti mengalir. Mendadak langsung banyak, sedangkan Archie juga belum bisa menyedot banyak-banyak, dan mau diberikan 2 jam sekali juga kadang dia tidur pulaaaas sekali sampai aku coba bangunkan terus. Pun sudah bangun, dia juga keburu kenyang sebelum menghabiskan semua. Ya iyalah, kan bayi baru lahir lambungnya baru sebesar kelereng. Biarpun pipis terus juga ya saat diisi lagi ya cuma segitu lagi yang perlu diisi. Lama-lama, aku jadi panik. Kenapa tambah banyak dan payudara tambah bengkak, tambah keras, dan mulai sakit.

Saat itu di hari kedua persalinan aku menghadiri kelas laktasi yang memang diadakan di rumah sakit untuk ibu yang baru melahirkan. Di dalam kelas itu pesertanya hanya aku dan 1 ibu yang melahirkan di hari yang sama denganku. Sumpah, di situ aku semangat banget belajar cara memeras / memompa susu secara manual dengan tangan, dan memijatnya supaya nggak sampai terjadi pembengkakan dan sebagainya. Soalnya aku benar-benar khawatir kenapa tiba-tiba susunya banyak banget.

Ternyata, sudah baca-baca tentang ASI sebelumnya, dan saat ASI nya sudah benar-benar ada, ya pastinya beda. Jadi banyak teori yang lupa, dan aku jadi bingung mengingat-ingat soal teori “Supply and Demand” / “Persediaan sesuai Permintaan” itu.

Puncaknya, saat sudah kembali ke kamar rawat, aku kebingungan dan menangis. Sampai-sampai dokter kandungan yang menanganiku (Dokter Santi) datang. Dia tanya aku kenapa? Aku bilang kalau aku bingung harus bagaimana. Kenapa ASI-ku tambah banyak terus dan payudaraku semakin bengkak nggak terkendali dan sakit, sementara anakku nggak bisa minum sebanyak itu. Apalagi, bukankah teori supply-and-demand ini justru menyatakan bahwa semakin disusui bayinya, susunya semakin banyak? Aku harus bagaimana???? Aku takut tambah bengkak. Seram! Huhuhu.

Mungkin karena aku masih lelah pasca melahirkan dan juga bingung ya karena banyak hal baru, jadi aku mellow dan sensitif, dan jadi menangis terus deh tanpa berusaha mengingat-ingat atau mencari tahu apakah ini normal dan harus bagaimana. Hahahah. Sudah begitu, salah 1 suster yang lucu di RS juga sempat keceplosan komentar “Ya Allah, tumpe tumpeh! O_o” Hahahahha. kzl ya. Kan jadi makin-makin. ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜…

Tapi dok Santi langsung menguatkanku. Dia bilang aku jangan ragu. Susuin terus susuin terus. Dalam beberapa hari semuanya in syaaallaah akan lebih baik dan lebih stabil, asal syaratnya untuk sekarang aku harus gigih berusaha menyusui terus. Aku sampai ditakut-takuti, justru kalau terlalu bengkak  karena kurang menyusui, akan  sampai keras nanti dan jadi mastitis, yang katanya jangankan tersentuh, kena angin saja payudara sakitnya bukan main. Waw! “Makanya jangan ragu ya! Susuin terus, itu sudah yang paling benar!” begitu katanya.

Singkat cerita, aku ikutin dong saran beliau, nggak ragu lagi bakal bengkak kalau semakin menyusui Archie karena makin banyak susunya, Walaupun sebenarnya aku nggak ngerti kenapa. Karena aku kira, supply-and-demand itu ya seperti yang kupahami itu, ya tapi aku menurut saja lah. Kapanpun ada kesempatan, aku menyusui Archie.

Seminggu kemudian, benar-benar reda, Alhamdu Lillaah. Ternyata kemarin itu ya saat-saat transisi. Disebutnya “ASI transisi” dari asi kolostrum yang kekuningan dan kaya gizi, menjadi ASI yang dikonsumsi sehari-hari. Ibaratnya, tubuh lagi mengira-ngira si bayi butuhnya berapa banyak, jadi dia produksi besar-besaran sekalian, untuk perlahan-lahan benar-benar menerapkan sistem supply-and-demand secara konsisten. CMIIW.

Seminggu ke atas, menyusui jadi semakin lancar. Aku dan Archie terus berusaha belajar posisi nyaman dan terbaik. Sakit-sakit ada pastinya, tapi alhamdulillaah sampai aku menyapih Archie, aku nggak mengalami berdarah sedikitpun karena tergigit, karena dia menggigit tapi nggak benar-benar sepenuh hati seperti kalau dia gigit tangan atau betis ๐Ÿ˜‚. Dan alhamdulillaah juga nggak pernah mastitis. masalahnya cuma di lecet-lecet aja. Jadi sakitnya perih karena lecet aja, tapi nggak sampai berdarah. Tapi kadang tetap nangis juga sih kalau kesakitan, hehe.

Saat menyusunya masih wallaahu a'lam berapa kali dalam 24 jam. Hahahaha. Sekitar usia 2 bulan.
***
FASE GROWTH SPURT

Growth Spurt pertama terjadi di usia 1 bulan. Itu bertepatan dengan saat dia infeksi telinga dan dirawat di RS. Dia menangis terus seharian dan menyusu nggak berhenti-berhenti. Benar-benar seperti seharian. Aku jujur jadi bingung dan gamang. Kenapa seperti ini. Apa karena kesakitan atau bagaimana, karena aku lupa kalau saat itu memang jadwal growth spurt.

Tengah malam dokter jaga (dokter umum) sempat datang menjenguk, dan dia bilang mungkin Archie nangis terus karena ASI-ku KURANG, jadi lebih baik ditambah sufor. Aku blank mendengar dia bilang begitu. Dalam kondisi kurang fit karena berhari-hari nggak pernah benar-benar tidur, anak dirawat di RS, Zeno sudah di HK lagi dan aku belum ikut lagi dengan dia kesana, aku tiba-tiba jadi bingung dan mempertanyakan diriku sendiri. Padahal sebenarnya AKU SELALU YAKIN ASI-ku CUKUP, tapi di saat itu, tengah malam pula dalam kondisi energi fisik dan mental tinggal berapa persen, ada yang bilang begitu ke aku, aku langsung goyah.

Aku ingat sepeninggal dokter itu, aku sempat berpikir apa aku harus turun ke lobi RS untuk beli sufor supaya Archie merasa tenang dan cukup. Ini masih dalam keadaan dia menyusu teruuuuss ke aku sampai aku heran apa yang dihisap sampai berjam-jam. Lebih seperti ingin “ngempeng” aja. Tapiiiii... aku terus menguatkan hatiku. Aku berdoa terus sepanjang malam meminta Allah memberikan jawaban atas semua ini dan meneguhkan hatiku.

Akhirnya malam yang berat itu berlalu. Archie tidur pulas, ketika Dokter Spesialis Anak yang menangani Archie datang di pagi hari. Aku ceritakan apa yang dokter jaga itu bilang semalam ke aku, dan aku ungkapkan kalau aku merasa terganggu dan sedih dengan saran dia yang seperti sangat terburu-buru dan tidak sensitif.

Dan respon Dokter Anak itu atas cerita aku... selalu terngiang-ngiang sampai sekarang:

“Ibu. Ibu menyusui anak bagaimana, dari payudara penuh sampai kosong kan? Ya sudah! Bu. Anak ibu lambungnya cuma kecil aja, cuma segede bola pingpong bu (karena sudah 1 bulan). Ya dia cuma perlu segitu. Cukup lah bu. Emangnya ibu mau menyusui sebanyak apa? se-EMBER?!”

.......

.........

...........

Sumpah, aku nggak bisa nahan ketawaku saat si Dok Anak bilang itu. SE-EMBER, YA ALLAAAH!!! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Ibaratnya, si dokter bikin aku ketawa begitu aja bisa membantu memperlancar ASI-ku banget. Hahahahah.

Semenjak kejadian itu, ketika Archie growth spurt, aku sudah tenang. Sudah paham polanya, alhamdulillaah. Ya mungkin agak beda-beda sedikit pengalamannya karena usia bulannya juga sudah beda.

***

FASE BREASTPADS

ASI ku merembes terus selama 4 bulan. Jadi dari awal aku melahirkan sampai Archie usia 4 bulan itu aku harus pakai breast pads. Tapi setelah 4 bulan, persediaan ASI makin stabil.... jadi benar-benar pas sesuai kebutuhan Archie, nggak ada yang tumpah-tumpah lagi. Palinf sedikit aja ada sih yang bocor. Buat yang nggak tahu breast pads itu apa, itu kaya semacam panty liners, tapi buat diselipin di bra, untuk mencegah ASI merembes membasahi baju karena kapasitasnya masih lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi. Aku baru tahu ada benda seperti itu menjelang melahirkan! Hahahaha. Dan pemakaiannya boros banget. Aku paling suka yang dari Pigeon. Bagiku sudah yang paling bagus dan optimal dari segi harga dan performa.

***

Tepat usia 1 tahun :)


FASE (KATANYA) ALERGI

Coba, siapa aja ibu yang anak bayinya pernah divonis alergi protein tinggi, terutama protein susu sapi, angkat tangan...? ๐Ÿ˜‚
Siapa aja yang belakangan tahu kalau anaknya sebenarnya sama sekali nggak alergi itu...?
Yap!! BANYAK! Kita nggak sendiri! ๐Ÿ˜‚

Saat ikut di forum ibu-ibu, aku benar-benar nggak menyangka sebanyak itu yang mengaku anaknya divonis demikian. Akhirnya kami jadi banyak diskusi dan bertukar pengalaman tentang benar tidaknya dan bagaimana cara menanggulanginya.

MASALAHNYA SEPERTI APA SIH?
Masalahnya, saat itu Archie masih 3 bulan, dan di badannya muncul merah gatal-gatal kadang sampai basah dan berdarah kalau digaruk. Lalu beberapa dokter bilang itu kemungkinan besar alergi protein susu sapi. Imbasnya?! IBU HARUS DIET PROTEIN TINGGI TERUTAMA SUSU SAPI SUPAYA ASI IBU TIDAK MENGANDUNG PROTEIN TERSEBUT. YHA. kalau begitu ibu makan apa? Ibu jadi lemas nih, lalu stres ๐Ÿ™ƒ Hahahaha.

Ya bayangkan dong, makanan yang mengandung protein susu sapi dan turunannya itu banyak banget. Artinya kan nggak bisa minum apapun yang mengandung susu. Coklat, keju, kue bolu, dan lain sebagainya, sampai-sampai aku pernah pesan kue coklat vegan yang mahalnya minta ampun dari saking pengennya ๐Ÿ˜ญ. Belum lagi juga waswas dengan protein lainnya, jadinya ayam, sapi, telur, nggak ada yang dimakan!

Benar-benar lesu dan suntuk banget cuma makan nasi dan sayuran huhuhu. Padahal kan busui butuh banyak makan variasi makanan ya. Tapi bagaimana lagi kan?

TAPI RASANYA KOK JANGGAL YA.
Lama-lama aku coba eksperiman, tarik ulur makanan. Kuperhatikan, makan nggak makan yang itu ya Archie alergi alergi aja. terus aku baca ibu-ibu lain juga banyak yang pengalamannya demikian. Dan sedihnya, beberapa harus sampai cek alergi karena khawatir kan, dengan biaya yang mahal dan proses pengambilan darah dan lain-lain yang cukup intens bagi si bayi. Yang nyeseknya, (walau melegakan, alhamdulillaah), ternyata sudah diet protein sebegitunya, hasil tes mengatakan anaknya nggak ada alergi apa-apa! Ya Allah.... perasaan campur aduk banget kan???

Akhirnya setelah aku baca sana sini, aku memutuskan untu konsultasi ke Dokter Anak Spesialis Alergi yang ternyata ada praktek di Hermina Bekasi, yaitu dokter Dina Muktiarti. Ya Allah.... alhamdulillaah aku dapat pencerahan banget!! Sudah sebulanan lebih aku diet demikian, dan beliau dengan santai dan baiknya bilang:

“Ibu. Nggak perlu ya. Hentikan. Silahkan makan seperti biasa. Ibu tahu nggak? Dari 100 ibu yang diberi tahu kalau anaknya kemungkinan alergi protein terutama protein susu sapi, hanya 1 yang benar-benar anaknya alergi demikian. Yang anak ibu alami, saya rasa, adalah PENYESUAIAN DIRI tubuh si bayi terhadap banyaknya rangsangan yang masuk. Sumber protein itu SANGAT VITAL untuk pertumbuhan anak. Justru ibu harus sering kenalkan ke tubuhnya, dari ASI dan MPASI nya nanti. Apalagi anak ibu sudah 4 bulan, semakin dekat dengan MPASI, jadi penting banget untuk dibiasakan dengan protein ini dari semenjak meminumnya di ASI. Kasihan ibu dan dia kalau sama-sama kurang asupan protein hewani padahal nggak alergi atau apapun”.

Ya Allaah.... nyessss banget dengarnya. Kaya dapat pencerahan yang benar-benar terang! Dokter Dina cuma saranin untuk lebih sering lagi pakai apapun yang ekstra melembabkan untuk kulit kering dan sensitif. Dari situ lah kali pertamaku akhirnya mencoba rangkaian Mustela Stelatopia yang masih dipakai sampai sekarang.

Akhirnya semenjak saat itu aku pede aja hajar terus makanan yang kumau, sambil rutin rajin memastikan kelembaban kulit Archie. Alhamdulillaah, Archie juga baik-baik aja. MPASI Archie pun penuh protein dan lancar jaya aja. Gatal-gatal? Ya masih. Tapi berhubung aku sudah diyakinkan kalau itu In Shaaallaah bukan alergi sehingga aku juga jadi nggak parnoan, aku pun jadi bisa lebih objektif melihat bahwa memang masalahnya Archie bukan di makanan itu. Hanya aja memang dia butuh banget kelembaban yang terjaga dan sesuai untuk kulitnya, karena kulitnya memang kering banget... entah karena masih bayi atau karena turunan Zeno yang kulitnya kering juga.







Alhamdu Lillaah for #MustelaStelatopia!! ๐Ÿ˜†๐Ÿ’™ — Been using these products from the Stelatopia range + the basic shampoo (because no stelatopia shampoo) since our #ZaydenTheArchie was 4 months old, until today (20 months).๐Ÿ˜Š๐Ÿ’™๐Ÿ˜Š๐Ÿ’™๐Ÿ˜Š๐Ÿ’™๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป . We had been really worried about Archie’s super dry and eczema-prone skin since he was born, because we didn’t seem to find any product that worked for him. However!! It was a beautiful coincidence when I saw a huge poster of Mustela Stelatopia with a very promising and hope-giving tagline for us parents with eczema-prone babies, in front of a baby shop. I just knew this was the answer,I needed to try this, and never regretted it since. Alhamdulillaaah ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ’™๐Ÿ˜ญ๐Ÿ™๐Ÿป Yes, bcause even the commonly-recommended “Basic" Mustela couldn’t fulfill his skin’s needs yet back then. Maybe someday will, when his skin becomes more... stable? (?) ๐Ÿ˜… . We need to apply generous amount of the balm to Archie more than twice a day in drier weather, but usually twice (after each bath time) is enough. . We have tried to introduce any other products to his skin. The cheaper the better, and if possible, gives a gentle scent without irritating his skin. But until today we haven’t found any other product that can fully replace them. ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ง๐Ÿ˜ง We sometimes use Aveeno Baby Eczema Therapy cream but only for complementary. We’ve also tried Burtsbees Baby wash, & the nourishing lotion (which scent made us fall in love) but too bad his skin hadn’t approved yet (we actually wish his skin will approve someday, because the scent is heavenly lol! ๐Ÿ˜… Mustela Stelatopia has no fragrance at all, and I don’t really like the scent of the Basic Mustela). You know, it’s normal for parents to wish their babies to smell like typical baby perfume, right? but, well, skin health first ๐Ÿ™ƒ๐Ÿ˜‚ . For now, we’re still gonna stick with these products first. The transition to other products should be very smooth. Actually I don’t plan to replace them completely. I want them to be some kinda “backups” when his skin becomes very dry, while using other products with gentle baby scent for daily (the cheaper the better of course ๐Ÿค“). . PS: I sometimes used this too for my eczema, so.. #SherryBeautyTalk ๐Ÿค“ .
A post shared by Sherry ๐Ÿ‘‘ Mommy From The Moon (@sheemasherry) on

***

FASE DISTRACTED BABY

Di usia 4 Bulan itu juga dia masuk fase distracted baby, hahah. Karena mulai bisa menikmati pola, warna, dan banyak hal lainnya kan, tiap menyusu berapa detik, dia cabut untuk melihat-lihat sekitar, mengagumi setiap detail ruangan. Hadeh... ini nggak enak banget kalau lagi menyusui bareng-bareng di nursery room. Hahahahha. Tapi saat sudah terbiasa dengan kemampuan barunya itu, ya dia kembali normal lagi.

***

FASE MPASI

Lalu fase MPASI, karena dia BLW, prinsipnya adalah tetap menyusu kapan pun dia mau, jangan dibatasi sengaja perut kosong agar mau makan, jadi ya pola menyusunya nggak berubah banyak. Sama aja. Makan lancar, menyusu lancar, Alhamdulillaah. Maksudku, biasanya aku dengar untuk metode MPASI bayi yang disuapi gitu disarankan jangan memberi ASI sebelum makan, supaya dia lapar dan jadi mau makan, baru nanti minum ASI setelah makan. Aku nggak tahu sih, yang kudengar dulu begitu, dan saat membaca buku BLW, baru aku menemukan saran yang berbeda.

***

FASE BAYI REMAJA ๐Ÿ˜‚

Sumpah lah ini tuh greget banget. Bayi gede yang sudah mobile banget, maunya nyusu sambil merangkak, sambil jalan, sambil lari, sambil jungkir balik, sambil naik mobil-mobilan.... hadehhh. Ini terutama setelah setahun ya, pas sudah bisa jalan lancar. Waktu pas awal bisa merangkak aja sudah maunya sambil merangkak sambil nyusu, apalagi setelah bisa lari!!! Ya Allaah. Susah deh buat melarangnya nggak begitu. Kuat banget tenaganya buat “maksa” minta nyusu sambil main. Ya nggak enak banget kan, masa lama banget aku duduk gitu dengan baju setengah terbuka karena menyusu nggak selesai-selesai ๐Ÿ˜…

Tapi yang paling berat itu justru saat sudah 5 atau 4 bulan lagi mau sapih. Itu dia lagi suka banget pindah susu kiri kanan kiri kanan dalam beberapa detik, lalu menggigit. Ya Allaah saat itu aku kaya rasanya hitung hari hitung minggu hitung bulan... hahah. Baru itu pertama kalinya aku kepikiran “semoga ini segera berlalu”.

Sebelumnya aku termasuk sangat menikmati perjalanan menyusui dan dengan izin Allah aku nggak merasa itu berat atau bagaimana, alhamdulillaah. Tapi mendekati waktunya sapih, justru baru mulai terlintas rasa agak nggak sabar ini. Ya mungkin karena proses menyusuinya juga makin intens dengan batita yang sudah mobilitas tinggi dan juga kuat banget meronta-ronta. Di fase ini juga dia mulai nggak mau pakai nursing apron, jadinya proses menyusui nggak bisa yang di mana aja oke asal ada tempat duduk yang agak sepi dan nursing apron kalau lagi di luar. Harus grabag-grubug cari nursery room atau semacamnya.

***

11 bulan, waktu mulai jalan sedikit-sedikit~~


PROSES PENYAPIHAN YANG LANCAR BERTAHAP

Archie beranjak 2 tahun pada 20 Juni 2019, dan kami sudah mulai rutin memberi pengertian ke Archie tentang penyapihan ini dari bulan April (2 bulan sebelumnya). Biasanya kami bilang saat dia menyusu: “Archie suka susu Mommy ya? Iya.... Mommy sama Daddy ngerti kok. Tapi nanti kalau Archie sudah 2 tahun, Archie sudah nggak minum susu dari Mommy lagi ya. Terus susu Mommy kan habis. Jadi Archie minumnya dari gelas ya...” begitu terus kami ingatkan. Dan dia jawab “Iya....” ya walau kami nggak tahu dia mengerti atau nggak! hahaha.๐Ÿ˜‚

Yang kami maksud susu dari gelas itu susu sapi segar kotakan besar macam Greenfield itu. Dia sudah kenal dengan rasanya karena sering jadi campuran masakan MPASI. Dia juga sudah biasa minum air putih dari gelas karena diperkenalkan dengan gelas semenjak 6 bulan (dari awal MPASI).

Dari bulan April itu juga kami membantu Archie untuk belajar tidur malam tanpa harus menyusu dariku dulu. Kalau siang, di usia 22 bulan begitu dia memang sudah nggak terlalu sering menyusu. Secara alami frekuensinya berkurang sendiri karena dia sudah lebih sibuk main dan makan. Tapi kalau malam, dia masih seakan ((harus)) menyusu dulu supaya tidur. Nggak selalu sih, tapi hal ini masih sering terjadi. Kami berusaha agar dia benar-benar bisa yang, tidur ya tidur aja, nggak perlu merasa tidur malam harus identik dengan menyusu dulu.

Perlahan-lahan lah prosesnya. Seminggu pertama itu cukup berat. Dia menangis, mohon-mohon, dan lain sebagainya. Jadinya Zeno yang harus lebih meladeni karena kalau Archie di dekatku, dia akan mencoba mendekati dan menarik-narik bagian depan bajuku dengan tenaga yang superrrr. Hahahaha.

Zeno kebetulan dapat libur seminggu dari kantor. Kalau nggak salah, libur paskah atau apa ya. Jadi benar-benar waktunya pas untuk mengandalkan sosok seorang Ayah membantu proses penyapihan yang biasanya cukup berat di malam hari dan menguras jam tidur. Kalau besoknya dia kerja kan kasihan. Biasanya Zeno jadi menemani dia main atau membacakan buku atau kadang juga menemani ngemil di ruang tengah, sampai akhirnya Archie tertidur sendiri karena lelah.

Alhamdulillaah setelah lewat seminggu, prosesnya jadi semakin lebih mudah. Selain karena memang usianya sudah 22 bulan yang memang frekuensi menyusunya nggak sebanyak sebelumnya, yang membuat lebih mudah juga karena kami nggak yang langsung melakukan penyapihan total dadakan. Nggak yang langsung “Sudah 2 Tahun! Saatnya stop ๐Ÿ˜„ !”. Kami memilih setahap demi setahap, jadi niatnya supaya segalanya nggak terlalu intens dan mengagetkan, gitu lah. Makanya transisinya sudah dimulai dari 2 bulan sebelumnya.

Kami beri pengarahan: Archie, kalau mau minum susu malam, minum nya sekarang ya. Kalau habis ini kita masuk ke kamar, nggak minum susu lagi. Oke?” Jadi dia makan dulu dan menyusu di luar kamar sampai kenyang, baru masuk ke kamar. Tujuannya ya supaya dia nggak langsung yang merasa “kenapa Mommy nggak mau kasih susu?” tapi lebih ke, “acara tidur ya kita tidur aja, kalau susu ya susu aja, dua hal yang berbeda”.

Alhamdulillaah akhirnya dia jadi mengerti kalau mau tidur malam nggak harus menyusu. Tapi kalau sudah lihat cahaya matahari masuk lewat selipan gorden, dia langsung segera minta jatah ๐Ÿ˜‚ Haha, baiklah!

Lalu memasuki bulan Juni, Archie mulai diberikan susu sapi segar di gelas. Biasanya kan cuma sebagai campuran MPASI, sekarang benar-benar dalam bentuk aslinya. Awalnya dia nggak tertarik loh. Jadi lah ide, kami hangatkan susunya. Ternyata saat dia coba dalam keadaan hangat, suka banget! Dia langsung bilang, “Susu! Ini susu!” Sambil menunjuk gelas lalu menunjuk dada aku. Seakan-akan dia bilang “Yang di Mommy dan yang di sini sama-sama susu!” Nah! Itu memang nak yang Mommy maksud! Hahahaha.

Sepanjang bulan Juni itu dia minum susu sapi segar bergantian dengan ASI, sampai mendekati tanggal 20, semakin sering kami berikan tawaran susu sapi segar saat dia minta susu. Dia sudah kenal banget rasanya dan suka banget. Hangat, suhu ruangan, dingin, sudah nggak ada masalah. Bahkan sampai-sampai kalau kami sedang jalan-jalan di luar dan tiba-tiba dia minta susu dan nggak ada nursery room terdekat, kami langsung meluncur ke mini market dan beli susu segar. Kami tuang di gelas (yang selalu siap sedia kami bawa), dan dia minum deh dengan senang.

Akhirnya tiba juga tanggal 19 Juni 2019, sehari sebelum usia dia tepat 2 tahun. Hari itu adalah hari rabu. Jadwal dia playgroup. Dan... hari itu... dia... MENYAPIH DIRINYA SENDIRI.... ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ♥♥♥♥♥. Hari itu dia bahagia banget, banyak aktifitas, banyak makan, dan dia nggak minta susu dari aku sama sekali. Dan sejak hari itu, berlanjut sampai besok, dan seterusnya, dan seterusnya.... :’) Alhamdulillaah, alhamdulillaah.

Alhamdulillaah, 2 years old!!!

EDIT:

Maaf banget aku sampai lupa menjelaskan bagaimana kondisi aku selama dan pasca menyapih! Padahal kan itu penting ya! Sampai ada yang hubungi aku secara private buat nanya, aku baru sadar. Kutambahkan di sini ya...

KONDISI AKU PASCA SELAMA DAN PASCA MENYAPIH

Jadi gini, karena Archie secara alami memang sudah berkurang menyusunya saat mendekati penyapihan, karena sudah sibuk main dan makan, sistem supply-and-demand itu tentunya berlaku di tubuhku. Ya... frekuensi menyusu dia kan tentu nggak bisa disamakan dengan saat dia masih setahun, apalagi saat baru lahir kan? Tubuh sebenarnya secara alami bisa membaca itu, apalagi kalau kita rutin memberi ASI sesuai permintaan si bayi dan membiarkannya berhenti sendiri saat sudah merasa kenyang.

Contoh, saat usia 22 bulan, kalau kami lagi di di rumah, Archie sarapan, makan siang, main, makan malam, itu kadang minta ASI berkali-kali sehari (tapi nggak sesering waktu dia lebih kecil). Tapi kalau kami jalan-jalan keluar, misal seharian. Dia banyak makan banyak nyemil banyak lari-lari, dia sendiri yang lupa untuk minta menyusu. Kadang seharian jadi cuma sekali atau dua kali, mungkin ditambah malam saat mau tidur.

Nah, dalam situasi seperti ini, payudara pastinya terasa agak penuh seharian, sampai akhirnya dia menyusu sebelum tidur yang biasanya banyak sampai dia pulas. TAPI, penuhnya itu sudah yang nggak sesakit dulu, ya karena kan kuantitas nya juga sudah berkurang, sesuai tubuh yang secara perlahan tiap hari membaca pola si bayi menyusui.

Nah, intinya sebenarnya yang kualami seperti itu. Itu bagiku pentingnya juga TRANSISI PERLAHAN. Karena supaya nggak cuma anak yang nggak kaget, tapi tubuhku juga.

Singkat cerita, saat dan setelah dia menyapih dirinya sendiri sehari sebelum ulang tahunnya yang kedua, tentu aku masih punya stok ASI di tubuhku kan? Nah, itu aku keluarkan saat mandi SEDIKIT SEDIKIT. NGGAK SAMPAI HABIS BANGET. Karena kalau dihabiskan langsung, tubuh akan berpikir: WHOOPS? Sudah habis nih? Oke oke saatnya bikin lagi!”. Kalau dikeluarkan tapi nggak sampai habis—sekiranya sampai nggak berasa agak bengkak aja (di sini pun bengkaknya sudah nggak sakit), tubuh akan berpikir: “yah... dikasih segini nggak habis. Besok-besok kasih sebanyak yang dia keluarkan aja lah!” Ibaratnya begitu. Jadi kan lama-lama makin sedikit kan? Keluarkan lagi makin sedikit, begitu terus sampai lama-lama nggak ada yang keluar lagi.

Archie menyapih dirinya tanggal 19 Juni. Nah, tanggal 22 Juni (3 hari setelahnya) sepertinya aku juga sudah berhenti memerah di kamar mandi. Seperti yang sudah nggak berasa bengkak lagi walau mungkin masih ada, tapi kudiamkan saja. Ya sudah, begitu terus sampai sekarang, nggak ada apa-apa, Alhamdulillaah.

Karena sistem supply-and-demand dalam tubuh kita, aku sendiri percaya, sebaliknya kalau seandainya saat itu Archie tiba-tiba mau menyusui BANYAK SEKALI seperti waktu dia masih bayi (ya nggak mungkin sih, hahahah), ASI ku yang tadinya sudah semakin sedikit itu bisa perlahan-lahan jadi banyak lagi, lagi, dan bisa bengkak heboh lagi seperti dulu, in syaaallaah. Karena Allah mendesain tubuh kita demikian! Merespon permintaan! Maa syaaallaah... ya kan?

PENUTUP

Ya Allaah.... lega banget. Lega banget semuanya benar-benar selancar, semulus dan senatural yang kuharapkan, proses transisi penyapihannya.

Aku jadi sering banget berterima kasih kepada Archie untuk hal tersebut. Aku bilang, “terima kasih ya sayang. Kamu sudah besar, sudah 2 tahun. Sudah lulus minum susu Mommy. Sekarang minumnya di gelas. Terima kasih sudah mengerti dan menjalani ini semua dengan baik. Alhamdulillaah...”

Dan untuk seorang ibu, lulus dari kondisi 2 tahun menyusui itu luar biasa legaaa, hahahahha. Pastinya, anak dan ibu juga sama-sama lebih fleksibel. Daddy-nya juga bisa merasakan lebih banyak lagi momen berduaan dengan Archie.

Sekarang, sudah hampir 3 bulan semenjak Archie lulus menyusui, dan aku benar-benar bersyukur sudah melalui segala prosesnya dari awal sampai akhir. Sekarang juga jadi nggak terlalu ribet memikirkan baju yang harus dipakai. Tapi kalau seandainya mau menambah koleksi baju, tetap fokus ke yang ada bukaan depannya sih. Ya... siapa tahu kan nanti... hahahah. Wallaahu a’lam.

Hmmm... terima kasih ya sudah membaca sampai sini.
Semoga ada hal baik yang bisa diambil dari tulisan ini.

See you on my next post, In Shaaallaah. Assalaamu alaikum.

No comments

Hi ✨ It is lovely to hear back from you. If you want to say something, PLEASE, kindly write them down on your note app first before you post them here. Sometimes some errors occur, and your comments may disappear without being published. Thank you for your time and consideration ✨